Pemneg Soya Gelar Sosialiasi dan Rembuk Stunting

Ambon, MalukuPost.com – Pemerintah Negeri (Pemneg) Soya menggelar Sosialisasi Stunting tahun 2022 sekaligus Rembuk Stunting untuk program kegiatan Tahun Anggaran 2023.

Kegiatan tersebut digelar di Kantor Negeri Soya, Selasa (23/08/2022) menghadirkan empat orang narasumber, yakni dari Kabid Pemberdayaan Masyarakat Dinas Pemberdayaan Perlindungan Perempuan, Anak dan Masyarakat Desa Kota Ambon, J.M. Leiwakabessy; Kabid Pengelolaan Gizi Dinas Kesehatan Kota Ambon, Febby Limaheluw, Kepala Puskesmas Kayu Putih, Martha Sinay dan Dokter Puskesmas Kayu Putih, Jssica Metekohy.

Kepala Pemerintah Negeri Soya, John. L. Rehatta menyatakan kegiatan sosialisasi maupun rembuk stunting yang dilaksanakan sangat penting, karena ini merupakan program nasional yang wajib demi tercapainya penanganan stunting secara maksimal khususnya di Negeri Soya.

“Sosialisasi yang kemudian akan kita lanjutkan dengan Rembuk stunting ini berfungsi sebagai forum musyawarah antara pihak-ihak terkait, stakeholder dalam masyarakat dengan Pemerintah Negeri dan BPD atau Saniri untuk membahas pencegahan dan penanganan masalah kesehatan di negeri, khususnya stunting, dengan mendayagunakan sumber daya pembangunan yang ada di negeri ini,” ujarnya dalam sambutan yang dibacakan Kepala Soa Thomas Tamtelahitu dalam siaran pers yang diterima media ini, Senin (29/08/2022).

Menurut Rehatta, pemanfaatan Dana Desa untuk penanganan stunting dapat dimulai dari pemetaan sasaran secara partisipatif terhadap warga desa yang terindikasi perlu mendapat perhatian dalam penanganan stunting oleh Kader Pemberdayaan Manusia di negeri.

“Selanjutnya lewat Rembuk Stunting, seluruh pemangku kepentingan merumuskan langkah yang diperlukan dalam upaya penanganan stunting termasuk bekerja sama dengan dinas layanan terkait,” ungkapnya.

Dijelaskan Rehatta, status  gizi  dan  kesehatan  ibu dan anak merupakan penentu kualitas sumber daya manusia, status  gizi  dan  kesehatan  ibu pada masa  pra-hamil,  saat  kehamilannya dan  saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis atau yang  dikenal  dengan  1000  hari pertama kehidupan.

“Seperti kita ketahui bahwa sumber daya manusia yang berkualitas sangat     dibutuhkan untuk mampu bersaing baik mengingat  persaingan global semakin wajib diperhitungkan, sehingga jika dengan kualitas kemampuan individu   yang   rendah akan berdampak pada minimnya produktivitas dan daya saing anak-anak  bangsa  sebagai  sumber  daya yang   diandalkan, yang tentunya akan berpengaruh terhadap minimnya penghasilan dan perputaran ekonomi,” bebernya.

Rehatta berharap, pelaksanaan Sosialisasi dna Rembuk Stunting akan menghasilkan sebuah data nantinya yang akan digunakan dalam Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Negeri Soya Tahun 2023.

“Saya mengajak semua pihak untuk bekerjasama dalam mendukung terwujudnya  gizi  seimbang  menuju Negeri Soya yang sehat, berprestasi dan percepatan perbaikan gizi 1000 HPK,” katanya.

“Saya percaya, dengan upaya yang maksimal salah satunya melalui pendekatan keluarga, kita akan mampu   mencapai hasil yang  lebih baik di masa depan asalkan kita dengan sungguh-sungguh melakukannya,” katanya lagi.

Sekedar diketahui, kegiatan Sosialisasi dan Rembuk Stunting di Negeri Soya dihadiri oleh berbagai unsur terkait dalam masyarakat, diantaranya Kader Pembangunan Manusia, Kader Posyandu, TP-PKK, BPD/Saniri, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Unsur Pendidikan, PPKBD, remaja putri, tokoh maupun para perempuan.

Adapun dari hasil rembuk stunting disimulkan beberapa hal yang menjadi rekomendasi untuk Pemeirntah Negeri Soya dalam upaya-upaya pencegahan dan penanganan stunting di Tahun Anggaran 2023, yakni pertama, membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting dengan melibatkan semua stakeholder di Negeri Soya dari tingkat atas sampai bawah. Kedua, melakukan pelatihan untuk kader-kader posyandu. Ketiga, melakukan koordinasi untuk program penberian vitamin penambah darah Fe, bagi remaja putri dan pasutri. Keempat, perlu dibangunya satu unit posyandu percontohan. Kelima, pengadaan sarana dan prasarana pendukung di posyandu. Keenam, Pemberian Makanan Tambahan untuk balita dan anak terindikasi stunting. Ketujuh, membentuk posyandu remaja dan kedelapan, pengadaan alat ukur di posyandu.

Pos terkait