
Informasi yang dihimpun media ini pada Senin (14/11/2022), telah dilaksanakan rapat koordinasi (Rakor) Pemkot Tual bersama Forkopimda setempat.
Rakor tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Walikota Tual, Usman Tamnge dan dihadiri unsur TNI/Polri, Ketua Klasis GPM Tual, Pastor Paroki Tual, Ketua MUI Tual, Kepala Kementerian Agama Kota Tual, Kabag Ops Polres Tual, Kejari Tual, Ketua PN Tual dan Kepala Badan Kesbangpol Kota Tual.
Ketua PN Tual, Rosyadi, S.H, M.H minta para tokoh agama, adat, pemuda, masyarakat bersama pemerintah daerah agar memperkuat siskamling dalam menjaga kamtibmas bersama.
”Semua unsur harus bersinergi menangkal informasi hoax yang berkembang terkait isu-isu tidak benar yang beredar di media sosial, ” ujarnya.
Kepala Kementerian Agama Kota Tual, E. Rumaf berharap kondisi daerah ini harus dikelola dengan baik, terutama menangkal informasi hoax.
”Saya tadi sudah keluarkan undangan untuk pertemuan tokoh agama untuk buat himbauan, sebab kondisi yang terjadi tidak hanya pakai pendekatan keamanan, tapi harus libatkan semua komponen baik tokoh adat, agama, pemerintah, pemuda dan masyarakat, ” kata Rumaf.
Selain itu, Ketua NU Kota Tual mengusulkan agar harus ada langkah konkrit para tokoh agama dan pemerintah dengan turun langsung lapangan dengan gelar safari, membuat pencerahan di masyarakat.
”Isu-isu yang disampaikan harus kita antisipasi, karena bentrokan di Ohoi Bombai dan Elat, Kei Besar, bukan persoalan agama,” bebernya.
Pada kesempatan itu pula, Kepala Kementerian Agama berharap setelah pertemuan ini ada himbauan untuk menangkal hoax dan action safari ke lapangan.
Menurutnya, untuk mengatasi kondisi yang saat ini karena informasi hoax, maka perlu pendekatan persuasif dan pencerahan kepada masyarakat.
Sementara itu, Pastor Paroki Tual, RD Jack Renyaan mengaku selaku Pastor Paroki Tual, dirinya sudah mengambil langkah mengumpulkan para ketua dewan stasi dalam mengantisipasi informasi hoax.
”Kami sudah gelar pertemuan, dan perlu saya sampaikan sudah ada surat pernyataan Keuskupan Amboina terkait bentrokan di Kei Besar. Saya juga sudah keluarkan surat pastoral yang tegaskan masalah antara ohoi Bombai dan Elat, bukan masalah agama, ” tegas Pastor Jack.
Pastor Jack menambahkan, akibat bentrokan itu dan isu-isu hoax yang tersebar di medsos, umat di Desa Ohoitel dan Ohoitahit menjadi trauma masa lalu.
”Saya minta Pemkot Tual dan Forkopimda harus membangun pos keamanan terpadu di Desa Ohoitel dan Ohoitahit, sebab malam setelah kejadian di Elat – Kei Besar, banyak orang menuju ke sana, jadi jangan sampai pihak ketiga masuk memprovokasi warga, ” ungkap Pastor.
Pastor Jack berharap fungsi dan peran siskamling harus difungsikan.
”Saya pastikan kalau issu hoax terus dibiarkan, maka Kota Tual bisa rusak dari situ, contoh yang terjadi issu semakin kencang, ” imbuhnya.
Di tempat yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia ( MUI ) Kota Tual, Hi. Ahmad Kabalmay, dalam pertemuan itu mengatakan masalah konflik ohoi Bombai dan Elat yang berawal beberapah bulan lalu adalah ulah provokator.
” Provokator main lewat anak anak sekolah, sebab potensi ada disitu. pengalaman kerusuhan 1999 seperti itu bermula dari anak anak sekolah, ” bebernya.
Kata Kabalmay, provokator akan bermain terus, olehnya itu sudah ada agenda agar para tokoh agama harus berikan pencerahan di kompleks rawan konflik seperti Yarler, Sinar Pagi, Desa Ohoitel, Watraan dan lain-lain.
”Kota Tual ini mudah masuk orang dari luar, jadi saya usul agar tokoh agama turun lakukan pembinaan di sekolah dan safari bersama. Antisipasi konflik di Kei Besar jangan sampai melebar di Kota Tual, apalagi provokator memainkan isu SARA. Kalau diiringi SARA, kita susah kendalikan, karena di Maluku masyarakat punya kecintaan terhadap agama sangat tinggi,” tukasnya.
Ketua klasis GPM Tual, Pdt. Ny. I. K. Koljaan/Wassar, S.Th, menegaskan GPM Kei Kecil dan Kota Tual sudah menyampaikan seruan gembala untuk disampaikan kepada seluruh jemaat protestan agar tidak terpengaruh dan terprovokasi dengan bentrokan di Kei Besar.
”Mari tokoh agama dan adat gandeng tangan kerja sama, agar jangan ada lagi persoalan seperti itu di Kota Tual,” tukasnya.
Pendeta minta semua tokoh agama baik di Masjid dan Gereja harus berikan penguatan kepada anak muda.
”Kenyataan yang terjadi, kita harus fokus RT perkuat poskamling, agar orang dari luar jangan datang buat rusak nama kota tual sebagai Kota toleransi terbaik kelima di Indonesia,” pungkas Pendeta Irene.


