Meski begitu, Regalito FC 01 yang diperkuat mantan pemain Trigen Ambon, Khadafie Waliulu, dan sejumlah pemain berpengalaman macam Stedy Talaperu, Hans Renwarin, Luckas Latupeirissa, dan Jandri Nirahua, nyaris tersingkir dari turnamen bertotal hadiah Rp 20 juta jika saja Perangkat Pertandingan (PP) tidak ’memainkan waktu’.
Pemain-pemain Trigen Fahrul Bailussy, Dani Lestaluhu, Zuhail Karit, dan La Olo yang terlambat panas di menit-menit akhir akhirnya harus angkat koper dari turnamen ini setelah mereka kalah selisih 1 gol atas lawannya. Dony Looy, salah satu pemain Trigen Ambon sempat memprotes PP yang dikoordinatori Junus Eduward Kailuhu itu.
Mereka menuding PP lebih berpihak kepada Regalito daripada Trigen Ambon. Dalam pertandingan penuh gengsi tersebut, pemain-pemain Trigen banyak melancarkan protes karena PP memberikan 2 kali time out kepada Regalito di babak pertama ketika Trigen tertinggal 0-3. Begitu pun di babak kedua setelah Trigen berupaya memperkecil ketinggalan menjadi 3-4.
Pelatih Trigen Ambon Abdul Fattah Nur enggan berkomentar seputar kegagalan timnya ke semifinal, Minggu (10/5) petang. “Saya no comment!,” elaknya kepada Maluku Post setelah pertandingan tersebut.
Para pemain sejumlah tim kontestan menuding Panitia Penyelenggara telah mengusung skenario untuk mempertemukan Arrow FC kontra Maluku Putra (tim Pra PON Maluku), namun PP punya konspirasi untuk menduelkan tuan rumah dengan Regalito di partai pamungkas turnamen ini.
“Turnamen Arrow Cup kali ini memang sudah diseting seperti itu,” tuding mereka. (09)


