Sukses Prestasi Tetapi Tidak Sukses Pelaksanaan
Piru, Maluku Post.com – Sukses prestasi tetapi tidak sukses pelaksanaan, hal tersebut bisa dikatakan untuk Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Al – Q’uran (MTQ) tingkat Provinsi Maluku.
Sukses prestasi adalah yang dikatakan Kabupaten SBB mendapat juara umum, dengan mendominasi sejumlah mata lomba yang diperlombakan.
Dalam putusan Dewan Hakim pada penutupan MTQ Sabtu kemarin, Kabupaten SBB mendapat juara umum 1, disusul oleh Kota Tual, Kabupaten Maluku Tengah (malteng), Kota Ambon, dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).
Pantauan media ini, saat pembukaan hingga penutupan MTQ dalam laporan pantauannya mengatakan sukses hasil yang diraih oleh tuan rumah tersebut, tidak serta merta membuat kebanggaan untuk negeri nusa ina tersebut. Melainkan membawa kesan buruk dari negeri nusa ina untuk dibawa pulang oleh seluruh kafilah dari Kabupaten/kota lainnya.
Sedangkan tidak sukses pelaksanaan adalah, masih banyak keluhan yang banyak disampaikan oleh seluruh kafilah dari Kabupaten/Kota adalah masalah makan dan transportasi, serta jarak tempat tinggal dari masing-masing kafilah ke tempat perlombaan.
Persoalannya, mulai dari pembukaaan sampai penutupan banyak kafilah dan dewan hakim yang tidak mendapatkan makanan, hal ini membuat kafilah dan dewan hakim harus menahan lapar sampai akhir kegiatan pembukaan. Bukan hanya itu, dalam pelaksanaan lomba, kafilah juga diterlantarkan kelaparan oleh panitia pelaksana MTQ. Hal ini membuat sejumlah kafilah jatuh pingsan dan muntah-muntah, namun hal ini seakan dibiarkan oleh panitia.
Keluhan kelaparan juga dirasakan oleh aparat keamanan TNI/Polri, dimana dalam proses pengamanan pembukaan dan penutupan tidak mendapatkan makanan, padahal peran dari aparat keamanan sangat dibutuhkan dalam menjaga kondisi dan keamanan keseluruhan pelaksanaan MTQ hingga bisa berjalan dengan baik.
Hal sama juga terjadi pada transportasi dan jarak tempuh. Dimana kurang ketersediaannya transportasi membuat kafilah diterlantarkan, bahkan kafilah harus menunggu beberapa jam baru transportasi datang.
Sedangkan jarak juga berpengaruh terhadap kondisi fisik kafilah, misalnya saja kafilah kota Ambon yang tinggal di Gemba. Dimana jarak tempuh dari tempat tinggal ke tempat perlombaan memerlukan beberapa jam, hal ini tentunya mempengaruhi kondisi kafilah. Bahkan beberapa kafilah kota Ambon mengalami pusing dan muntah-muntah.
Semua persoalan ini tentunya akan membawa kesan buruk bagi Kabupaten SBB sebagai tuan rumah. Karena sebagai tuan rumah seharusnya memberikan pelayanan yang maksimal, sehingga seluruh kafilah merasa senang, dan tentunya akan membawa kabar tersebut ke daerahnya masing-masing, bahwa Kabupaten SBB memberikan pelayanan yang baik bagi tamu yang datang ke daerahnya.(08)


