Ambon, Maluku Post.com – Gubernur Maluku Said Assagaff menyatakan proses panjang sejarah berdiri dan berkembangnya Gereja Protestan Maluku (GPM) membuat gereja tertua di Indonesia ini mandiri.
“Berbagai tantangan kompleks yang dihadapi selama delapan dekade membuat GPM semakin dewasa dan menjadi gereja mandiri, sekaligus berkontribusi untuk membangun kehidupan orang basudara (bersaudara) di Maluku,” kata Gubernur Said pada syukuran HUT Yobelium ke-80 GPM, di Ambon, Minggu (6/9) malam.
Kontribusi GPM, ujar Gubernur tidak hanya untuk melayani umat Kristiani, tetapi juga membantu pemerintah serta bergandengan tangan dan bekerja keras dengan pimpinan agama lainnya mewujudkan persatuan, kesatuan dan persaudaraan di Maluku.
“GPM telah menunjukkan kemampuannya untuk bekerja melampaui sekat perbedaan, paham primordialisme untuk menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai dalam nuansa persaudaraan,” katanya.
Gubernur mengapresiasi harmonisasi hubungan GPM bersama komponen agama lainnya yang telah melakukan peran besar terutama menjadi lokomotif perdamaian di Maluku, sehingga banyak orang bahkan negara-negara di dunia kagum terhadap persaudaraan yang tercipta di daerah ini.
GPM juga, lanjutnya, telah melakukan tugas pro kontekstual kerukunan beragama dengan menyiapkan umatnya untuk menampung para Kafilah peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat nasional tahun 2012.
Selain itu, memberikan kesempatan kepada warga Muslim untuk belajar pada Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon serta Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Ambon, serta pertukaran dosen untuk mengajar pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ambon maupun sebaliknya.
“Ini contoh bergereja secara kontekstual yang dilakukan GPM setelah delapan dekade berkiprah membangun kekuatan imat umar Kristiani di Maluku, sekaligus terlibat langsung dalam upaya memperkuat dan mewujudkan solidaritas dan persaudaraan sejati di Maluku,” katanya.
Khusus menghadapi sidang Sinode pada November mendatang, Gubernur berharap, tidak hanya terfokus untuk memilih pimpinan Sinode, tetapi melahirkan program untuk penguatan visi dan motto GPM yakni “Aku (Paulus) menanam, Apolos menyiram tetapi Allah yang memberi Pertumbuhan” dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat.
Selain itu, program kerjanya dapat disinkronisasi dengan Pemerintah daerah, sehingga dapat bekerja sama untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Gubernur Said juga meminta GPM bekerja keras mendorong pengembangan dan peningkatan ekonomi produktif masyarakat di seluruh daerah.
Para pimpinan hingga warga jemaat GPM juga diminta untuk mendoakan agar agenda pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak kelompok pertama di Indonesia, khususnya empat kabupaten di Maluku yakni Seram Bagian Timur (SBT), Buru Selatan, Kepulauan Aru dan Maluku Barat Daya (MBD) berjalan lancar dan tidak diwarnai konflik. (ant/MP)


