Ambon, Maluku Post.com – Aktivis perlindungan perempuan dan anak Daniella Loupatty mengatakan para guru harus lebih peka terhadap tindakan kekerasan oleh anak kepada anak yang terjadi di lingkungan sekolah dengan merespon setiap laporan adanya gangguan dari siswa.
“Saya kira ini perlu peran penting guru untuk lebih peka dan merespon setiap laporan tindakan “bully” yang dilakukan oleh anak kepada anak, karena ini akan lebih memicu tindakan kekerasan yang lebih besar lagi,” katanya di Ambon, Senin (12/10).
Direktur Walang Perempuan itu mengatakan dari banyak kasus tindak kekerasan terhadap anak yang pernah ditangani pihaknya, banyak anak yang menjadi pelaku dikarenakan situasi yang menggerakannya.
Kecenderungan itu juga terjadi di lingkungan pendidikan, di mana anak yang menjadi korban tindak kekerasan berupa ejekan ataupun pelecehan dari anak lainnya tapi tidak mendapatkan penanganan yang tepat di sekolah, bahkan terkadang guru tidak merespon laporan adanya gangguan tersebut.
“Kita tidak mengatakan bahwa sekolah tidak peduli tapi ada banyak kasus di mana anak melaporkan tindakan kekerasan yang dialaminya di sekolah tapi guru tidak merespon, bahkan ada yang justru dimarahi guru seakan-akan anak itu tukang lapor, anak ini bisa terus menjadi korban atau malah berubah menjadi pelaku,” katanya.
Terjadinya tindak kekerasan oleh anak kepada anak di lingkungan pendidikan mengindikasikan lemahnya pengawasan pihak sekolah terhadap tumbuh kembang anak didiknya selama berada di sekolah.
Karena, menurut Daniela, lembaga pendidikan bertanggung jawab penuh terhadap berjalannya proses pendidikan dan aktivitas para siswa selama berada di sekolah.
“Berdasarkan pengalaman kami ketika memberikan sosialisasi tentang perlindungan anak dari kekerasan yang seharusnya diperhatikan oleh lembaga pendidikan, banyak sekolah yang menolak karena menurut mereka hal itu akan membuat siswa-siswanya menjadi kurang ajar terhadap mereka padahal ini akan meningkatkan kesadaran anak untuk tidak menjadi pelaku,” kata Daniella. (ant/MP)


