Ambon, Maluku Post.com – Upaya pencarian empat siswi SMA Negeri 1 Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku yang tenggelam akibat cuaca buruk di teluk Dobo kini tidak lagi dilakukan secara sporadis oleh masyarakat maupun aparat TNI dan Polri.
“Kami sudah membentuk Satgas SAR yang dipimpin Danlanal Aru, Letkol Laut (P) Dody Agus Prasetyo sehingga proses pencarian korban semakin terkoordinir,” kata Penjabat Bupati Kepulauan Aru, Angky Renjaan yang dihubungi dari Ambon, Selasa (20/10).
Musibah terbaliknya perahu bermesin yang mengangkut puluhan murid SMAN 1 Dobo dari Pulau Wokam menuju Dobo ini terjadi pada Minggu, (18/10) malam.
Menurut Angky, saat itu seluruh komponen masyarakat bersama pemerintah kabupaten dan TNI AL, Danramil, Koramil, Polres dan seluruh SKPD yang memiliki armada laut secara spontan melakukan pencarian korban.
Bahkan dirinya bersama Sekda dan sejumlah SKPD menggunakan kapal jargaria milik Pemkab ikut melakukan pencarian hingga pagi hari.
Bagi tim penyelamat yang termasuk anggota TNI dan Polri bisa terkoordinir dalam proses pencarian, namun untuk masyarakat tidaklah demikian.
“Tetapi dua hari setelah musibah, kami langsung membentuk Satgas SAR sehingga pencarian empat korban yang masih hilang berjalan secara terkoordinasi dan untuk sementara dipakai ruang tunggu PT. Pelni sebagai posko,” tegas Angky.
Pemkab juga telah melakukan rapat koordinasi untuk menyiapkan bahan bakar dan logistik, terutama bagi masyarakat yang sedang ikut melakukan pencarian korban.
“Saat ini baru ditemukan dua korban yang diketahui bernama Yunita Somnaikubun dan Vian Soumokil. Jasad Yunita secara tidak sengaja ditemukan seorang warga ketika baling-baling speedboatnya tersangkut rambut korban,” katanya.
Setelah membawa korban ke darat, warga tersebut kembali melakukan pencarian dan menemukan korban lainnya, Vian Soumokil.
“Kita berharap empat siswi yang masih dicari bisa muncul ke permukaan air, dan sesuai aturannya proses pencarian dilakukan selama tujuh hari dan bila belum membuahkan hasil, maka kepala daerah bisa memperpanjang proses pencarian tergantung situasi di lapangan,” ujarnya.
Polres Pulau-Pulau Aru saat ini juga telah membawa perahu bermesin yang terbalik saat ditumpangi para siswa ini ke Mapolres, sementara para guru SMAN 1 Dobo masih diamankan di Polres karena sejumlah orang yang marah melempari kaca jendela sekolah hingga rusak.
Penjabat Bupati juga telah mendatangi orang tua dari dua korban yang telah dimakamkan untuk memberikan penghiburan, pengertian dan ketabahan termasuk menyantuni keluarga yang berduka.
Penelitian ilmiah Musibah ini bermula dari adanya tugas yang diberikan para guru kepada siswa untuk melakukan penelitian ilmiah di Lamerang (Pulau Wokam) dan ada 121 siswa yang berangkat didampingi 14 orang guru.
“Mereka berangkat usai ibadah minggu dan sempat ketemu kami di lokasi penelitian yang kebetulan sedang mengunjungi masyarakat setempat untuk memberikan sosialisasi Kamtibmas jelang Pilkada serentak,” kata Angky.
Menjelang sore hari, perahu bermesin ini bolak-balik mengantarkan 14 guru dan siswa, sedangkan rombongan terakhir berjumlah 25 orang berangkat sekitar pukul 17.00 WIT.
Daya angkut perahu bermotor ini maksimal 10 hingga 15 orang, tetapi anak-anak ini naik beramai-ramai sehingga kelebihan penumpang, dan ironisnya tidak ada seorang guru pun yang mendampingi mereka.
“Jadi ketika perahunya terbalik, kebanyakan murid pria berenang sampai ke Dobo dan seorang siswa bernama Samuel Koedoeboen yang memberitahu di dermaga Yos Sudarso bahwa rekan-rekannya terbalik dan tenggelam,” katanya. (MP-8)


