Senator Asal Maluku Dengar Pendapat Siswa Nusalaut

Ambon, Maluku Post.com – Senator asal provinsi Maluku, Novita Anakkota berkunjung ke Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah dalam rangka melakukan rapat dengar pendapat bersama siswa dan guru SMA Negeri di pulau tersebut.

“Rapat dengar pendapat bersama siswa dan guru SMA Negeri se – pulau Nusalaut di Negeri Ameth untuk menghimpun berbagai masukan dari masyarakat terkait tugas DPD RI sebagai representasi aspirasi daerah guna melakukan pengawasan terhadap berbagai produk undang-undang yang dilaksanakan,” katanya, di Ambon, Senin (16/11).

Rapat dengar pendapat dengan 40 orang siswa dan guru SMA Negeri Nusalaut tersebut, katanya, dirangkaikan dengan kegiatan pengobatan gratis kepada 300-an warga di desa Titawaai dan Nalahia, Pulau Nusalaut pada 9 November 2015.

Novita mengaku memanfaatkan forum tesebut untuk memotivasi para siswa agar giat belajar serta memiliki cita-cita yang tinggi untuk meraih masa depan.

“Jangan pernah menyerah. Belajar dengan giat dan harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Sekolah di kampung bukan berarti tidak memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi dan bersaing dengan anak-anak yang tinggal di kota,” tandasnya.

Novita juga menceritakan pengalaman hidupnya setelah menamatkan pendidikan SMA di Ambon dan harus merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan sarjananya, bekerja merintis karier hingga terpilih menjadi anggota DPD RI.

Sebagai anggota Komite III DPD RI, dia mengaku, sangat perhatian dengan 13 sektor yang menjadi bidang tugas diantaranya kesehatan, pendidikan, agama, kebudayaan, kesejahteraan sosial, ekonomi kreatif, administrasi kependudukan serta pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

“Karena itu saya lebih fokus turun ke daerah-daerah untuk menyerap aspirasi dan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat pada daerah-daerah yang jauh di Maluku, katanya.

Novita juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyosialisasikan empat pilar kebangsaan yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika harus terus dikembangkan karena merupakan tonggak penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika merupakan empat pilar kebangsaan yang harus menjadi pedoman hidup masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Dia berharap para siswa tidak hanya menyimpan buku tentang empat pilar kebangsaan yang dibagikan, tetapi membacanya terus menerus sehingga mengerti dan memahami akan wawasan kebangsaan serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMA Negeri Nusalaut, Max Picauly, menyambut positif kegiatan rapat dengar pendapat dan sosialisasi empat pilar kebangsaan bersama senator asal Maluku tersebut.

Max meminta senator asal Maluku tersebut untuk memperhatikan nasib dan status para guru di Pulau Nusalaut, karena sebagian besar masih guru honor, sehingga membebani anggaran operasional sekolah.

Pada SMA tersebut tercatat hanya delapan orang yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), tujuh orang guru honor lepas dan dua lainnya berstatus kategori dua (K2), sehingga membebani biaya operasional.

“Setiap tahun kami harus mengalokasikan Rp64 juta yang diambil dari uang komite dan biaya operasional sekolah (BOS) untuk membayar gaji guru honor. Itu pun kadang anggarannya tidak mencukupi,” katanya.

Mendengar hal itu, Novita Anakotta berjanji akan membicarakan masalah tersebut dengan Dinas Pendidikan Maluku Tengah maupun ke Kementerian Pendidikan. (MP-1)

Pos terkait