Memahami Simbolisme Kain Tenun Untuk Menata Tatanan Politis Ideal

Oleh : Julius Russel, Etnomusikolog
Mahasiswa Pascasarjana STF-Driyarkara



Tanggal 23 hingga 27 Maret 2016 diadakan Pameran Adiswastra Nusantara yang berlangsung di Jakarta Covention Center. Pameran ini didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dan dibuka oleh Istri wakil Presiden Republik Indonesia Ibu Hj. Jusuf Kalla. Dengan mengangkat tema “Kreasi Tanpa Batas Dalam Serat dan Corak – Endless Creation in Fibers and Patterns” pameran ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) serta mempersiapkan berbagai karya kreasi budaya Indonesia kepada para wisatawan dunia. Salah satu  warisan budaya bangsa yang ikut ditampilkan dalam pameran  itu adalah kain tenun.

Memperkenalkan warisan budaya Indonesia di kawasan ASEAN dan generasi muda harus menjadi perhatian serius pemerintah. Hal ini penting dilakukan agar negara-negara di kawasan ASEAN dapat memahami dan mengambil sisi positif dari ide-ide yang tersembunyi dibalik warisan budaya kita. Selain itu, untuk menumbuhkan kecintaan dan pemahaman generasi muda pada budaya bangsanya sendiri. Oleh karena itu, pameran tgl 23 hingga 27 Maret 2016 yang juga menampilkan kain tenun harus menyampaikan makna dari simbol-simbol yang tersembunyi dibalik warna, corak dan motif kain tenun.

Sebagaimana yang dipahami nenek moyang kita, suatu pemahaman yang lahir dari perenungan yang terus menerus selama berabad-abad lalu kemudian itu dijadikan sebagai ajaran-ajaran moral, etika, dan aturan-aturan hidup yang diungkapkan melalui warna, corak dan motif. Hasil perenungan itu seharusnya terus digali dan dipahami sesuai konteks zaman pada masa itu lalu dikembangkan secara bersama-sama dengan budaya masyarakat di kawasan ASEAN demi terciptanya tatanan politis ideal di masa sekarang dan masa mendatang.

Pameran kain-kain tenun yang hanya memperkenalkan keindahan corak, warna dan motif yang tampak dari luar saja dikuatirkan lambat laun akan menghilangkan ide-ide yang bermanfaat dan mendukung terwujudnya tatanan politis ideal. Seperti gagasan mengenai persatuan dan kesatuan serta gagasan untuk melakukan kebajikan dan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Dengan menyampaikan makna yang tersembunyi dibalik kain tenun diharapkan nantinya dapat dijadikan evalusi bersama agar arah perkembangan Komunitas Masyarakat ASEAN dapat diarahkan pada tatanan politis ideal. Artinya tidak mengarah pada penindasan antara sesama manusia akibat dari pola hidup persaingan – kompetisi, siapa kuat dia menang. Dan ini tentunya akan memberikan dampak buruk bagi tatanan politis di kawasan ASEAN.

Pertanyaan yang dilontarkan oleh dua pemikir Jerman Ardomo dan Horkheimer bahwa mengapa umat manusia bukannya memasuki kondisi manusiawi yang sejati malah tenggelam dalam barbarisme baru ? Di satu sisi, memiliki kaitan erat tidak saja dengan tujuan kegiatan pameran yang dijelaskan di atas tetapi juga dengan kondisi kehidupan umat manusia di masa sekarang ini. Artinya, melalui pameran itu masyarakat kita diarahkan untuk masuk ke dalam masyarakat industri seperti jaringan kerja, mekanisme pasar dan manajemen modern.

Dan sebagaimana yang dikatakan para ahli bahwa pembangunan yang lebih mengutamakan kepentingan ekonomi pasar (sekelompok orang) pada akhirnya menciptakan polarisasi dalam masyarakat. Polarisasi ini kemudian menimbulkan gesekan-gesekan dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Gesekan-gesekan ini pada akhirnya melahirkan konflik sosial yang kemudian menjauhkan kita dari  tatanan politis ideal.

Persoalan Aru dan Blok Masela adalah contoh nyata bahwa kepentingan ekonomi pasar yang lebih menguntungkan kepentingan sekelompok orang telah menganggu stabilitas dan keamanan negara, artinya tidak membawa kita pada tatanan politis ideal. Ini bisa dilihat dari perlawanan masyarakat Aru bersama berbagai kalangan seperti aktivis, mahasiswa, pencinta lingkungan dan lain-lain. Ketidakpuasaan terhadap kebijakan pemerintah beberapa waktu yang lalu bermunculan di mana-mana. Nada-nada protes yang disuarakan banyak kalangan pada akhirnya merubah kebijakan pemerintah. Hal serupa terjadi juga dalam kasus Blok Masela.

Salah satu penyebab konflik sosial yang sering terjadi selama ini karena persoalan ekonomi. Oleh karena itu, harus disikapi dengan arif dan bijaksana agar tidak terulang lagi. Salah satu langkah pencegahannya adalah menghidupkan kembali nilai-nilai persatuan dan kesatauan serta nilai-nilai kebajikan yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi seperti makna simbolik dari kain tenun. Hal itu penting dilakukan karena dengan mengambil cara bersikap seperti itu tentunya memberikan dampak positif  yang sangat besar bagi tatanan politis ideal di kawasan ASEAN.

Pendapat filsuf politik seperti Plato dan Aristoteles mengenai tatanan politis ideal sejalan dengan makna simbolik kain-kain tenun. Sebagai warga negara yang baik dan bagian dari Komunitas Masyarakat ASEAN kita harus mengutamakan nilai-nilai kebajikan dalam menjalin pergaulan di kawasan ASEAN. Inilah syarat utama terciptanya tatanan politis ideal seperti pemikiran kedua filsuf politik itu. Sebagaimana pesan yang tertulis di whatsApp  putri Indonesia 2004  hari ini “Deus ama a todos”, Allah mengasihi kita semua. Kita juga harus dapat mengasihi sesama manusia dengan melakukan nilai-nilai kebajikan. Bukan terjerumus dalam babarisme baru yang akhirnya menjauhkan kita dari tatanan politis ideal.

Pos terkait