Mantan Kasum TNI Nyatakan Keberpihakan Bagi Warga Adat Buru

Namlea, Maluku Post.com – Mantan Kepala Staf Umum TNI, Letjen purn. Prof Dr Syarifudin Tippe dan anggota Komnas HAM, Prof Dr Hafid Abbas datang ke tengah-tengah warga adat Noropito Noropa untuk menyatakan berpihak kepada mereka. Hal itu ditegaskan Letjen Purn. Prof Dr. Syarifudin Tippe dan Prof Dr. Hafid Abbas saat didaulat memberikan sepatah dua patah kata dalam acara silaturahmi warga adat di Dusun Tanah Merah, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Sabtu (21/5) kemarin.

Kegiatan silaturahmi di Tanah Merah itu juga penuh kejutan, saat 12 tokoh adat dikomandani Matatemun dari Noropito. Bapak Mone Nurlatu tiba-tiba saja berdiri dan diikuti oleh seluruh warga adat seraya mengangkat janji dan sumpah untuk mengukuhkan Ir Mansur Wael menjadi Raja Kayeli yang baru menggantikan almarhum kakaknya yang telah meninggal beberapa bulan lalu.

Warga adat ini merasa tersia-siakan dan ditinggalkan oleh pemimpinnya yang lama, pasca diambil paksa tambang emas Gunung Botak oleh salah satu perusahaan yang mendanai seluruh kegiatan tutup paksa itu, kemudian perusahan tersebut menguasai pasir emas dengan dalih pencemaran limbah tambang rakyat.

“Kami datang ke sini dengan satu jiwa dan satu pandangan.Saya ingin menegaskan, tadi dengar pembawa acara mengatakan jangan diskriminatif. Karena saya dilahirkan, kemudian tumbuh dan dikembangkan dalam rangka memprotek bangsa dan negara ini,” kata pensiunan jenderal TNI Ada bintang tiga ini.

Syarifudin Tippe mengaku sudah mendapat informasi yang banyak soal tambang emas ini, termasuk dari mulut Mansur Wael.”Ternyata Pulau Buru yang indah ini. Ada sejumlah orang-orang yang datang dari jauh, datang dari Jakarta dan dari luar Jakarta untuk mengambil hasil emas serta mengabaikan keberadaan masyarakat adat dn hak-haknya,” imbuhnya.

Di hadapan para tokoh adat dan warga adat itu, Syarifudin mengatakan, jangan samakan ia dan rekan-rekannya yang datang hari itu dengan mereka yang ada di salah satu perusahaan tersebut.

”Kami datang justru berbeda. Satu jiwa, satu pandangan,” tegasnya.

Menyentil Prof Dr Hafid Abbas, mantan Pangdam II/Sriwijaya ini juga mengatakan, kalau di komnas HAM ada catatan 126 berperilaku sama dengan satu yang telah ada di Kabupaten Buru ini. Perusahan itu dikuasai orang-orang dari Jakarta dan di luar Jakarta dengan cara yang tidak benar.

“Kami datang di sini untuk menyatakan kami bukan orang-orang yang sudah mengkhianati.Itu saja yang ingin tandaskan, bahwa kami datang tidak seperti yang tercatat di Komnas HAM.Kami ingin menjadikan wilayah ini sebagai prototipe, sebagai contoh di seluruh nusantara,”tandasnya.

Agar perjuangan tambang rakyat ini nantinya berjalan mulus, Syarifudin mengatakan nantinya itu tergantung Rajanya yang baru saja dikukuhkan oleh 12 pemangku adat. Tapi itu saja tidak cukup, karena harus ditunjang tokoh adat dan masyarakat.

“Tapi kalaupun beliau bertekad memajukan daerah ini kalau tidak ditunjang oleh 12 tokoh adat tadi dan kalau tidak ditunjang oleh seluruh masyarakat, maka sama saja bohong.Jadi antara pemimpin dan yang dipimpin dengan seluruh ikhwan harus jadi satu. Itu kuncinya,” pesan Syarifudin.

Sementara itu, anggota Komnas Ham, Hafid Abbas dalam kesempatan itu mengatakan, ada dua hal yang harus terus menerus digelorakan. Pertama meneruskan nilai tradisi yang merupakan warisan budaya yang berabad-abad lamanya jangan sampai punah. Yang kedua warisan alam yang luar biasa terpendamnya di Pulau Buru.

“Di sini ada 171 spesies flora dan fauna yang amat langkah di dunia. Ada babi rusa, ada burung yang indah, ada tumbuhan yang tidak terdapat di mana-mana di seluruh dunia. Ada minyak kayu putih yang asli di sini.” ungkap Abbas.

Salin kesuburan tanah yang sangat luar biasa. Abbas berpesan, agar jangan membiarkan kekayaan yang ada di sana dimiliki oleh pihak luar yang datang dari jauh, melainkan harus dikelola oleh kemampuan warganya sendiri.

Abbas juga memuji semangat kebhinekaan masyarakat adat di Buru dan turut menitip pesan agar terus dirawat kebhinekaan yang ada, toleransi yang indah dengan memelihara nilai tradisi yang melekat.

“Ini yang menyebabkan warga di sini patut menjadi teladan, menjadi kiblat masyarakat adat di seluruh nusantara ini,” puji dia.(*)

Pos terkait