Ambon, Maluku Post.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku memberikan bantuan sejumlah alat pertanian untuk perluasan dan pengembangan kawasan sentra holtikultura seluas 25 hektare kepada kelompok tani Bukit Barisan dan Kambunga di Dusun Taeno, Kota Ambon, Rabu (8/6).
Bantuan yang diberikan berupa yakni saprodi dan alsintan berupa bibit, pupuk, alkon, pengairan, traktor tangan dan kultivator.
Pemberian bantuan itu disaksikan pejabat Dinas Pertanian Kota Ambon, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) serta seluruh anggota dari kelompok tani Bukit Barisan dan Kambunga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Wuryanto dalam sambutan mengatakan anggota kelompok tani perlu terus mengembangkan usahanya ke depan sehingga mampu menyediakan kebutuhan untuk masyarakat lokal serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
“Bantuan yang telah diberikan ini, diharapkan dapat menjadi stimulus bagi pengembangan usaha kelompok tani ke depan, sehingga produksi dan pasokan hortikultura dapat meningkat sekaligus kesejahteraan anggota tani menjadi lebih baik,” katanya.
Lokasi pengembangan kawasan hortikultura di Kota Ambon tersebar di empat desa, yaitu Rumah Tiga, Wayame, Hunut dan Poka, serta 11 dusun.
“Dengan adanya Program Pengendalian Inflasi (PPI) hortikultura ini, diharapkan dapat meningkatkan pasokan dan memenuhi kebutuhan lokal, serta mengurangi ketergantungan impor dari daerah lain,” ujar Wuryanto.
Pada kesempatan tersebut dilakukan diskusi antara kelompok tani dan BI Maluku serta Dinas Pertanian Kota.
Beberapa hal yang dibahas dan perlu mendapat tindak lanjut dari instansi terkait adalah keluhan para petani terkait belum adanya gudang hasil panen bawang merah dan fasilitas pengairan ke lokasi pertanian.
Selain itu, kelembagaan/organisasi anggota kelompok tani yang belum kuat sehingga cenderung mengalami kesulitan dalam pengajuan kredit usaha maupun penyaluran pupuk subsidi.
“Permasalahan-permasalahan ini diharapkan dapat dibantu dan ditindaklanjuti oleh instansi terkait demi mendukung program pemerintah dalam membangun kedaulatan pangan di daerah ini, kata Wuryanto.
Menurut dia, pihaknya berkomitmen memelihara kestabilan nilai Rupiah, dimana salah satu aspek kestabilan nilai rupiah tercermin dari inflasi yang rendah dan terkendali.
“Bank Indonesia berinisiatif untuk membantu petani dalam mengembangkan kawasan sentra hortikultura untuk mendukung pengendalian inflasi di daerah, khususnya komoditas hortikultura. Karena itu, perlu perluasan dan pengembangan kawasan sentra hortikultura,” katanya.
Salah satu kelompok komoditas utama penyumbang inflasi di Maluku, khususnya di Kota Ambon, kata Wuryanto berasal dari komoditas hortikultura utamanya cabai dan bawang merah.
Hal ini disebabkan tingkat kemandirian pangan di Maluku masih rendah, sehingga banyak komoditas hortikultura khususnya dataran tinggi yang didatangkan dari luar daerah seperti Surabaya, Makassar, Bima (NTB) maupun Manado.
Selain itu, tingginya permintaan dan faktor cuaca turut memengaruhi kestabilan pasokan untuk komoditas hortikultura.
Perluasan dan pengembangan kawasan hortikultura merupakan salah satu bentuk Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) yang memiliki tema “Dedikasi Untuk Negeri”.
Kegiatan yang dilakukan ini adalah Program Pengendalian Inflasi (PPI) komoditas hortikultura yang diselenggarakan BI bekerja sama dengan Dinas Pertanian Kota Ambon.
“Kami berinisiatif untuk membantu petani mengembangkan kawasan hortikultura. Dengan adanya bantuan yang diberikan, diharapkan dapat menjaga kestabilan harga pangan di Maluku khususnya di Kota Ambon serta meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok tani,” kata Wuryanto. (MP-8)


