Tradisi Pukul Sapu Lidi Buktikan Maluku Bukan Daerah Konflik

Gubernur Maluku Resmikan Stadion 7 Syawal Di Morela Guna Dukung Tradisi Pukul Sapu

Gubernur Maluku Resmikan Stadion 7 Syawal Di Morela Guna Dukung Tradisi Pukul Sapu Ambon, Maluku Post.com - Gubernur Maluku Said Assagaff akhirnya meresmikan lapangan Stadion tujuh Syawal Negeri Morela untuk menopang pelaksanaan ritual pukul sapu lidi yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka peringatan 7 Syawal di Maluku yang berlangsung di Negeri Mamala dan Morela, kabupaten Maluku Tengah. Dalam sambutannya saat membuka tradisi pukul sapu lidi di Ambon, Rabu ( 13/7), Assagaff berharap dengan adanya stadion 7 Syawal maka tradisi yang telah diperingati sejak abad ke XVII di Maluku ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. “Sesungguhnya budaya pukul sapu lidi ini memiliki nilai-nilai kejuangan, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat tinggi. Maka sejatinya, kita sebagai anak cucu yang mewarisi budaya ritual pukul sapu lidi ini, khususnya masyarakat Morela dan Mamala dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum atraksi ritual pukul sapu lidi ini sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangkitkan kembali semangat heroisme dan cinta tanah air, keberanian memperjuangkan hak dan kebenaran, kerelaan berkorban untuk kepentingan banyak orang, serta kelapangan jiwa untuk hidup bersama dalam damai,” ujarnya. Menurut Assagaff, dalam momentum atraksi pukul sapu lidi pada tanggal 7 Syawal hari ini, tidak hanya masyarakat negeri Morela dan Mamala tetapi kepada seluruh masyarakat Maluku untuk dapat merevitalisasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ritual pukul sapu lidi ini. “Sebab jika nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya sapu lidi ini hilang, maka sangat mungkin kita semua akan terjebak pada ritual yang kering dan hampa nilai atau absurd. Dan secara sosiologis biasanya menimbulkan benturan kepentingan serta tubrukan-tubrukan sosial, yang berakhir dengan konflik dan kekerasan,” ungkapnya. Dijelaskan Assagaff, tradisi pukul sapu saat ini dapat berkembang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwisata Maluku dalam rangka meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. “Oleh karena itu, atraksi budaya pukul sapu ini akan terus dipromosikan hingga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Karena hal ini tentunya dampak yang akan dirasakan tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua Desa tersebut,” pungkasnya. Pada kesempatan tersebut, Assagaff meminta dukungan penuh dari seluruh jurnalis atau wartawan baik media cetak dan elektronik, untuk membantu memberitakan kepada masyarakat dunia, bahwa Maluku, khususnya negeri Mamala dan Morella saat ini, bukan lagi daerah konflik, tetapi telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman, tempat bersemayam nilai-nilai kasih sayang hidup orang basudara. “Jika kita mampu mengawal dan mentransformasikan nilai-nilai yang dikandung dari peringatan pukul sapu lidi ini, saya sangat yakin wisata budaya sapu lidi akan semakin diminati oleh banyak orang, khususnya wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga secara ekonomi dapat meningkatkan income masyarakat untuk hidup lebih sejahtera .” tandasnya. Peringatan 7 Syawal tersebut kemudian ditandai dengan penyulutan obor Tulukabessy yang dilakukan secara serempak pada pukul 17.00 WIT, dimana pada Negeri Morela dilakukan oleh Gubernur Maluku, dengan didampingi Wakapolda Maluku dan Kasdam XVI Pattimura. Sedangkan penyulutan obor di Negeri Mamala dilakukan oleh Sekda Provinsi Maluku dengan Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku serta Bupati Maluku Tengah. Sebelumnya obor tersebut yang telah dibakar dan disemayamkan sejak malam di rumah tua atau rumah adat dari kapitan Tulukabessy. Obor tersebut diambil langsung dari benteng Kapahaha, kemudian didatangkan ke Negeri Mamala dan Morela yang merupakan tempat peringatan perjuangan Kapitan Tulukabessy beserta pasukannya melawan penjajahan VOC Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M). (MP-8)

Ambon, Maluku Post.com – Gubernur Maluku Said Assagaff akhirnya meresmikan lapangan Stadion tujuh Syawal Negeri Morela untuk menopang pelaksanaan ritual pukul sapu lidi yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka peringatan 7 Syawal di Maluku yang berlangsung di Negeri Mamala dan Morela, kabupaten Maluku Tengah.

Dalam sambutannya saat membuka tradisi pukul sapu lidi di Ambon, Rabu ( 13/7), Assagaff berharap dengan adanya stadion 7 Syawal maka tradisi yang telah diperingati sejak abad ke XVII di Maluku ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.

“Sesungguhnya budaya pukul  sapu lidi ini memiliki nilai-nilai kejuangan, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat tinggi. Maka sejatinya, kita sebagai anak cucu yang mewarisi budaya ritual pukul sapu lidi ini, khususnya masyarakat Morela dan Mamala dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum atraksi ritual pukul sapu lidi ini sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangkitkan kembali semangat heroisme dan cinta tanah air, keberanian memperjuangkan hak dan kebenaran, kerelaan berkorban untuk kepentingan banyak orang, serta kelapangan jiwa untuk hidup bersama dalam damai,” ujarnya.

Gubernur Maluku Resmikan Stadion 7 Syawal Di Morela Guna Dukung Tradisi Pukul Sapu Ambon, Maluku Post.com - Gubernur Maluku Said Assagaff akhirnya meresmikan lapangan Stadion tujuh Syawal Negeri Morela untuk menopang pelaksanaan ritual pukul sapu lidi yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka peringatan 7 Syawal di Maluku yang berlangsung di Negeri Mamala dan Morela, kabupaten Maluku Tengah. Dalam sambutannya saat membuka tradisi pukul sapu lidi di Ambon, Rabu ( 13/7), Assagaff berharap dengan adanya stadion 7 Syawal maka tradisi yang telah diperingati sejak abad ke XVII di Maluku ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. “Sesungguhnya budaya pukul sapu lidi ini memiliki nilai-nilai kejuangan, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat tinggi. Maka sejatinya, kita sebagai anak cucu yang mewarisi budaya ritual pukul sapu lidi ini, khususnya masyarakat Morela dan Mamala dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum atraksi ritual pukul sapu lidi ini sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangkitkan kembali semangat heroisme dan cinta tanah air, keberanian memperjuangkan hak dan kebenaran, kerelaan berkorban untuk kepentingan banyak orang, serta kelapangan jiwa untuk hidup bersama dalam damai,” ujarnya. Menurut Assagaff, dalam momentum atraksi pukul sapu lidi pada tanggal 7 Syawal hari ini, tidak hanya masyarakat negeri Morela dan Mamala tetapi kepada seluruh masyarakat Maluku untuk dapat merevitalisasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ritual pukul sapu lidi ini. “Sebab jika nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya sapu lidi ini hilang, maka sangat mungkin kita semua akan terjebak pada ritual yang kering dan hampa nilai atau absurd. Dan secara sosiologis biasanya menimbulkan benturan kepentingan serta tubrukan-tubrukan sosial, yang berakhir dengan konflik dan kekerasan,” ungkapnya. Dijelaskan Assagaff, tradisi pukul sapu saat ini dapat berkembang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwisata Maluku dalam rangka meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. “Oleh karena itu, atraksi budaya pukul sapu ini akan terus dipromosikan hingga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Karena hal ini tentunya dampak yang akan dirasakan tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua Desa tersebut,” pungkasnya. Pada kesempatan tersebut, Assagaff meminta dukungan penuh dari seluruh jurnalis atau wartawan baik media cetak dan elektronik, untuk membantu memberitakan kepada masyarakat dunia, bahwa Maluku, khususnya negeri Mamala dan Morella saat ini, bukan lagi daerah konflik, tetapi telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman, tempat bersemayam nilai-nilai kasih sayang hidup orang basudara. “Jika kita mampu mengawal dan mentransformasikan nilai-nilai yang dikandung dari peringatan pukul sapu lidi ini, saya sangat yakin wisata budaya sapu lidi akan semakin diminati oleh banyak orang, khususnya wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga secara ekonomi dapat meningkatkan income masyarakat untuk hidup lebih sejahtera .” tandasnya. Peringatan 7 Syawal tersebut kemudian ditandai dengan penyulutan obor Tulukabessy yang dilakukan secara serempak pada pukul 17.00 WIT, dimana pada Negeri Morela dilakukan oleh Gubernur Maluku, dengan didampingi Wakapolda Maluku dan Kasdam XVI Pattimura. Sedangkan penyulutan obor di Negeri Mamala dilakukan oleh Sekda Provinsi Maluku dengan Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku serta Bupati Maluku Tengah. Sebelumnya obor tersebut yang telah dibakar dan disemayamkan sejak malam di rumah tua atau rumah adat dari kapitan Tulukabessy. Obor tersebut diambil langsung dari benteng Kapahaha, kemudian didatangkan ke Negeri Mamala dan Morela yang merupakan tempat peringatan perjuangan Kapitan Tulukabessy beserta pasukannya melawan penjajahan VOC Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M). (MP-8)

Menurut Assagaff, dalam momentum atraksi pukul sapu lidi pada tanggal 7 Syawal hari ini, tidak hanya  masyarakat negeri Morela dan Mamala tetapi kepada seluruh masyarakat Maluku untuk dapat merevitalisasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ritual pukul sapu lidi ini.

“Sebab jika nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya sapu lidi ini hilang, maka sangat mungkin kita semua akan terjebak pada ritual yang kering dan hampa nilai atau absurd. Dan secara sosiologis biasanya menimbulkan benturan kepentingan serta tubrukan-tubrukan sosial, yang berakhir dengan konflik dan kekerasan,” ungkapnya.

Dijelaskan Assagaff, tradisi pukul sapu saat ini dapat  berkembang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwisata Maluku dalam rangka meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri.

Gubernur Maluku Resmikan Stadion 7 Syawal Di Morela Guna Dukung Tradisi Pukul Sapu Ambon, Maluku Post.com - Gubernur Maluku Said Assagaff akhirnya meresmikan lapangan Stadion tujuh Syawal Negeri Morela untuk menopang pelaksanaan ritual pukul sapu lidi yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka peringatan 7 Syawal di Maluku yang berlangsung di Negeri Mamala dan Morela, kabupaten Maluku Tengah. Dalam sambutannya saat membuka tradisi pukul sapu lidi di Ambon, Rabu ( 13/7), Assagaff berharap dengan adanya stadion 7 Syawal maka tradisi yang telah diperingati sejak abad ke XVII di Maluku ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. “Sesungguhnya budaya pukul sapu lidi ini memiliki nilai-nilai kejuangan, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat tinggi. Maka sejatinya, kita sebagai anak cucu yang mewarisi budaya ritual pukul sapu lidi ini, khususnya masyarakat Morela dan Mamala dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum atraksi ritual pukul sapu lidi ini sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangkitkan kembali semangat heroisme dan cinta tanah air, keberanian memperjuangkan hak dan kebenaran, kerelaan berkorban untuk kepentingan banyak orang, serta kelapangan jiwa untuk hidup bersama dalam damai,” ujarnya. Menurut Assagaff, dalam momentum atraksi pukul sapu lidi pada tanggal 7 Syawal hari ini, tidak hanya masyarakat negeri Morela dan Mamala tetapi kepada seluruh masyarakat Maluku untuk dapat merevitalisasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ritual pukul sapu lidi ini. “Sebab jika nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya sapu lidi ini hilang, maka sangat mungkin kita semua akan terjebak pada ritual yang kering dan hampa nilai atau absurd. Dan secara sosiologis biasanya menimbulkan benturan kepentingan serta tubrukan-tubrukan sosial, yang berakhir dengan konflik dan kekerasan,” ungkapnya. Dijelaskan Assagaff, tradisi pukul sapu saat ini dapat berkembang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwisata Maluku dalam rangka meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. “Oleh karena itu, atraksi budaya pukul sapu ini akan terus dipromosikan hingga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Karena hal ini tentunya dampak yang akan dirasakan tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua Desa tersebut,” pungkasnya. Pada kesempatan tersebut, Assagaff meminta dukungan penuh dari seluruh jurnalis atau wartawan baik media cetak dan elektronik, untuk membantu memberitakan kepada masyarakat dunia, bahwa Maluku, khususnya negeri Mamala dan Morella saat ini, bukan lagi daerah konflik, tetapi telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman, tempat bersemayam nilai-nilai kasih sayang hidup orang basudara. “Jika kita mampu mengawal dan mentransformasikan nilai-nilai yang dikandung dari peringatan pukul sapu lidi ini, saya sangat yakin wisata budaya sapu lidi akan semakin diminati oleh banyak orang, khususnya wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga secara ekonomi dapat meningkatkan income masyarakat untuk hidup lebih sejahtera .” tandasnya. Peringatan 7 Syawal tersebut kemudian ditandai dengan penyulutan obor Tulukabessy yang dilakukan secara serempak pada pukul 17.00 WIT, dimana pada Negeri Morela dilakukan oleh Gubernur Maluku, dengan didampingi Wakapolda Maluku dan Kasdam XVI Pattimura. Sedangkan penyulutan obor di Negeri Mamala dilakukan oleh Sekda Provinsi Maluku dengan Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku serta Bupati Maluku Tengah. Sebelumnya obor tersebut yang telah dibakar dan disemayamkan sejak malam di rumah tua atau rumah adat dari kapitan Tulukabessy. Obor tersebut diambil langsung dari benteng Kapahaha, kemudian didatangkan ke Negeri Mamala dan Morela yang merupakan tempat peringatan perjuangan Kapitan Tulukabessy beserta pasukannya melawan penjajahan VOC Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M). (MP-8)

“Oleh karena itu, atraksi budaya pukul sapu ini akan terus dipromosikan hingga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Karena hal ini tentunya dampak yang akan dirasakan  tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua Desa tersebut,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut, Assagaff meminta dukungan penuh dari seluruh jurnalis atau wartawan  baik media  cetak dan elektronik, untuk membantu  memberitakan kepada masyarakat dunia, bahwa Maluku, khususnya negeri Mamala dan Morella saat ini, bukan lagi daerah konflik, tetapi telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman, tempat bersemayam nilai-nilai kasih sayang hidup orang basudara.

“Jika kita mampu mengawal dan mentransformasikan nilai-nilai yang dikandung dari peringatan pukul sapu lidi ini, saya sangat yakin wisata budaya sapu lidi akan semakin diminati oleh banyak orang, khususnya wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga secara ekonomi dapat meningkatkan income masyarakat untuk hidup lebih sejahtera .” tandasnya.

Gubernur Maluku Resmikan Stadion 7 Syawal Di Morela Guna Dukung Tradisi Pukul Sapu Ambon, Maluku Post.com - Gubernur Maluku Said Assagaff akhirnya meresmikan lapangan Stadion tujuh Syawal Negeri Morela untuk menopang pelaksanaan ritual pukul sapu lidi yang dilaksanakan setiap tahun dalam rangka peringatan 7 Syawal di Maluku yang berlangsung di Negeri Mamala dan Morela, kabupaten Maluku Tengah. Dalam sambutannya saat membuka tradisi pukul sapu lidi di Ambon, Rabu ( 13/7), Assagaff berharap dengan adanya stadion 7 Syawal maka tradisi yang telah diperingati sejak abad ke XVII di Maluku ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. “Sesungguhnya budaya pukul sapu lidi ini memiliki nilai-nilai kejuangan, keberanian, kebersamaan, dan persaudaraan yang sangat tinggi. Maka sejatinya, kita sebagai anak cucu yang mewarisi budaya ritual pukul sapu lidi ini, khususnya masyarakat Morela dan Mamala dapat manfaatkan dengan sebaik-baiknya momentum atraksi ritual pukul sapu lidi ini sebagai modal sosial kultural dalam rangka membangkitkan kembali semangat heroisme dan cinta tanah air, keberanian memperjuangkan hak dan kebenaran, kerelaan berkorban untuk kepentingan banyak orang, serta kelapangan jiwa untuk hidup bersama dalam damai,” ujarnya. Menurut Assagaff, dalam momentum atraksi pukul sapu lidi pada tanggal 7 Syawal hari ini, tidak hanya masyarakat negeri Morela dan Mamala tetapi kepada seluruh masyarakat Maluku untuk dapat merevitalisasi dan menghidupkan kembali nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi ritual pukul sapu lidi ini. “Sebab jika nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya sapu lidi ini hilang, maka sangat mungkin kita semua akan terjebak pada ritual yang kering dan hampa nilai atau absurd. Dan secara sosiologis biasanya menimbulkan benturan kepentingan serta tubrukan-tubrukan sosial, yang berakhir dengan konflik dan kekerasan,” ungkapnya. Dijelaskan Assagaff, tradisi pukul sapu saat ini dapat berkembang menjadi salah satu lokomotif untuk menggerakkan sektor pariwisata Maluku dalam rangka meningkatkan arus kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri. “Oleh karena itu, atraksi budaya pukul sapu ini akan terus dipromosikan hingga mendapat tempat dan dikenal luas secara nasional maupun internasional. Karena hal ini tentunya dampak yang akan dirasakan tidak hanya mendatangkan devisa bagi daerah namun juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di dua Desa tersebut,” pungkasnya. Pada kesempatan tersebut, Assagaff meminta dukungan penuh dari seluruh jurnalis atau wartawan baik media cetak dan elektronik, untuk membantu memberitakan kepada masyarakat dunia, bahwa Maluku, khususnya negeri Mamala dan Morella saat ini, bukan lagi daerah konflik, tetapi telah bertransformasi menjadi daerah yang sangat aman, tempat bersemayam nilai-nilai kasih sayang hidup orang basudara. “Jika kita mampu mengawal dan mentransformasikan nilai-nilai yang dikandung dari peringatan pukul sapu lidi ini, saya sangat yakin wisata budaya sapu lidi akan semakin diminati oleh banyak orang, khususnya wisatawan, baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sehingga secara ekonomi dapat meningkatkan income masyarakat untuk hidup lebih sejahtera .” tandasnya. Peringatan 7 Syawal tersebut kemudian ditandai dengan penyulutan obor Tulukabessy yang dilakukan secara serempak pada pukul 17.00 WIT, dimana pada Negeri Morela dilakukan oleh Gubernur Maluku, dengan didampingi Wakapolda Maluku dan Kasdam XVI Pattimura. Sedangkan penyulutan obor di Negeri Mamala dilakukan oleh Sekda Provinsi Maluku dengan Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku serta Bupati Maluku Tengah. Sebelumnya obor tersebut yang telah dibakar dan disemayamkan sejak malam di rumah tua atau rumah adat dari kapitan Tulukabessy. Obor tersebut diambil langsung dari benteng Kapahaha, kemudian didatangkan ke Negeri Mamala dan Morela yang merupakan tempat peringatan perjuangan Kapitan Tulukabessy beserta pasukannya melawan penjajahan VOC Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M). (MP-8)

Peringatan 7 Syawal tersebut kemudian ditandai dengan penyulutan obor Tulukabessy yang dilakukan secara serempak pada pukul 17.00 WIT,  dimana pada Negeri Morela dilakukan  oleh Gubernur Maluku, dengan didampingi Wakapolda Maluku dan Kasdam XVI Pattimura. Sedangkan penyulutan obor di Negeri Mamala dilakukan oleh Sekda Provinsi Maluku dengan Pangdam XVI Pattimura dan Kapolda Maluku serta Bupati Maluku Tengah.

Sebelumnya obor tersebut  yang telah dibakar dan disemayamkan sejak malam di rumah tua atau rumah adat dari kapitan Tulukabessy. Obor tersebut diambil langsung dari benteng Kapahaha, kemudian didatangkan ke Negeri Mamala dan Morela yang merupakan  tempat peringatan perjuangan Kapitan Tulukabessy beserta pasukannya melawan  penjajahan VOC Belanda dalam Perang Kapahala (1643-1646 M).  (MP-8)

Pos terkait