Para Nelayan Diimbau Waspadai Gelombang Tinggi Laut Arafura

  • Whatsapp
Ambon, Malukupost.com - Para nelayan tradisional diimbau mewaspadai gelombang tinggi 1,25 - 2,5 meter di laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku pada beberapa hari ke depan.  "Gelombang setinggi 1,25- 2,5 meter itu berbahaya bagi nelayan yang hendak menangkap ikan dengan armada tradisional," kata Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon, George Mahubessy, dikonfirmasi, Minggu (1/10).

Ambon, Malukupost.com – Para nelayan tradisional diimbau mewaspadai gelombang tinggi 1,25 – 2,5 meter di laut Arafura, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku pada beberapa hari ke depan.

“Gelombang setinggi 1,25- 2,5 meter itu berbahaya bagi nelayan yang hendak menangkap ikan dengan armada tradisional,” kata Kepala BMKG Stasiun Pattimura Ambon, George Mahubessy, dikonfirmasi, Minggu (1/10).

Laut Arafura merupakan “surga” penangkapan aneka jenis ikan bernilai ekonomis yang diburu para nelayan.

Apalagi, laut Arafura secara geografis letaknya berdekatan dengan Australia.

Begitu pula, sering nelayan tradisional asal kabupaten Kepulauan Aru maupun Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD) hanyut hingga ke perairan Australia.

Karena itu, para nelayan yang hendak menangkap ikan jangan memaksakan diri melaut hanya dengan mengandalkan armada tradisional.

“Armada tradisional berupa perahu yang biasanya disebut ketinting tersebut tidak kuat menahan gempuran ombak tinggi sehingga lebih baik mengantisipasi kemungkinan terjadinya musibah laut,” ujar George.

Imbauan tersebut telah diteruskan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku maupun sembilan kabupaten dan dua kota.

Begitu pun, kepada para Bupati maupun Wali Kota se- Maluku agar mengingatkan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) teknis agar memperhatikan peringatan dini dari BMKG.

Geoerge mengemukakan, bila kondisi cuaca ekstrim, maka Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas 1 Ambon berwenang tidak memberikan izin berlayar, bahkan sekiranya dipandang perlu aktivitas pelayaran untuk sementara ditutup sambil menunggu laporan perkembangan cuaca terbaru dari BMKG.

“Jadi para pengusaha maupun pengguna jasa transportasi juga hendaknya memaklumi bila terjadi penundaan dan keterlambatan jadwal keberangkatan kapal laut akibat faktor cuaca karena pertimbangan perlunya memprioritaskan keselamatan,” tandasnya. (MP-2)

Pos terkait