
Laporan Rudi Fofid-Ambon
Ambon, Malukupost.com – Masih segar dalam memori orang Buru Selatan peristiwa di Sungai Nalbessy, pada hari Sabtu, 13 Januari 2018. Kala itu, Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Buru Selatan Hans Lesbatta dan rombongan menggunakan mobil Ambulans Keliling. Dari arah Namrole hendak kembali ke Leksula, mereka melintasi Sungai Nalbessy.
Sore itu, air sedang meluap. Ketika mobil ambulans masuk ke dalam sungai hendak menyeberang ke Desa Neath, luapan air menyeret ambulans. Lesbatta dan lima stafnya terseret air. Semua stafnya selamat, sedangkan Lesbata ditemukan empat hari kemudian dalam keadaan tidak bernyawa.
Tragedi ini masih menyisakan trauma bagi para pengendara sepeda motor maupun mobil yang melintas Sungai Nalbessy saat banjir. Akan tetapi karena tidak ada pilihan lain, para pengemudi selalu saja nekat bertaruh nyawa di sini.
Sebuah video berdurasi 5,11 menit dirilis Melky Solissa pada kanal youtube, memperlihatkan perjuangan warga melintasi Sungai Nalbessy dengan mobil saat banjir. Masyarakat menggunakan tali tambang, membantu manarik mobil yang masuk sungai. Mobil terlibat laksana berenang agar selamat sampai di seberang. Suara sorak-sorai terdengar ketika mobil sudah sampai di seberang. Warga bagai merayakan kemenangan karena lolos dari maut.
Sungai Nalbessy saban hari dilintasi warga Desa Liang dan Desa Neath, jika hendak ke ibukota Kecamatan Leksula. Bahkan, sebelumnya warga Namrole pun bisa melintas di sini, kendati harus menempuh jalan sirtu. Kini, jalan sirtu sudah hancur sehingga warga Namrole tidak bisa melintas lagi.
Derita dan nestapa warga Neath dan Liang ini, sudah berlangsung puluhan tahun, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Sebuah foto hasil jepretan fotografer tak dikenal, tersimpan di Tropenmuseum, Amsterdam, Belanda. Foto itu memperlihatkan warga menyeberangi sungai dengan berjalan kaki, dengan latar belakang sebuah jembatan gantung yang terbuat dari rotan. Jika sedang banjir, luapan air bisa mencapai tinggi jembatan gantung tersebut.
Puluhan tahun setelah Indonesia merdeka, jembatan gantung tersebut sudah tiada. Jika banjir kecil, warga memberanikan diri terjun ke air dengan bantuan tali yang dibentangkan melintasi sungai. Jika banjir besar, warga berakrobat dengan tiga utas tali. Laksana pemain sirkus, warga berjalan di atas satu utas tali, sambil memegang dua tali di kiri dan kanan.
Warga Neath dan Liang sudah lama angkat suara. Melky Solissa (22) mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Pattimura asal Desa Neath juga bersuara. Kepada Media Online Maluku Post di Ambon, Senin (9/2), Melky bercerita dirinya terhenyak mendapat kiriman foto perjuangan seorang siswa SMA asal Neath, awal Maret ini. Siswa bernama Perdo Liligoli berakrobat di atas tali melintasi sungai Nalbessy yang sedang meluap. Hal itu dilakukannya agar bisa pergi ke sekolah di Leksula, sekitar 3 kilometer dari tempat tinggalnya di Neath.
Melky mengatakan, Liang dan Neath merupakan desa yang kaya akan hasil pertanian dan perkebunan seperti cengkih, pala, kelapa coklat, durian, dan sebagainya. Andai jalan dan jembatan bisa dibangun, dia yakin masyarakat mampu meningkatkan pendapatannya sehingga bisa mengurangi angka kemiskinan.
“Kami sudah bosan mendengar jawaban klasik dari para pejabat yang mengatakan, kekurangan anggaran,” kata Melky.
Menurut dia, masyarakat juga sudah kenyang dengan janji-janji tentang pembangunan jembatan melintasi Sungai Nalbessy. Karena jembatan yang dijanjikan tidak kunjung hadir, warga sudah sampai melupakan sebuah jembatan permanen.
“Pernah ada pejabat datang lalu menjanjikan jembatan darurat. Nah, jembatan darurat itu saja yang kami perlu, tidak usah permanen. Ternyata impian kami yang sederhana, sebuah jembatan daruratpun tidak pernah ada,” jelas Melky lagi.

SURAT TERBUKA UNTUK PRESIDEN
Impian warga Neath dan Liang akan hadirnya infrastruktur jalan dan jembatan pernah dicetuskan dalam sebuah surat terbuka kepada Presiden RI Joko Widodo. Surat terbuka dibuat oleh 15 warga Neath dan Liang, dirilis pada akun facebook milik Dolfis Tasane, Kamis 24/8/2018).
“Ribuan manusia yang tinggal di sekitar daerah ini tidak memiliki akses pembangunan seperti yang Bapak kobarkan di daerah lain. Ketika musim hujan tiba, seluruh akses dari Kecamatan Leksula ke Desa Neath-Liang dan daerah sekitarnya putus total. Pemerintah daerah tutup mata. Bupati tidak tahu ke mana? Gubernur? DPRD? Semua ke mana? Haruskah masyarakat, umat, seperti kata Ebiet G. Ade, penyanyi balada kebanggaan Indonesia, ‘Mesti bertanya pada rumput yang bergoyang?’ Sebagai putra Desa Neath-Liang, kami memohon Bapak memperhatikan kami warga Bapak ini. Potret buram infrastruktur ini kiranya menjadi bagian yang bisa Bapak perhatikan dan selesaikan,” demikian petikan surat tersebut.
Pada akhir surat tersebut, warga meminta tolong presiden, membangun jembatan dan jalan untuk membuka akses ke Leksula dan daerah sekitarnya.
“Kami memohon untuk menjadikan jalan strategis yang melintasi Kecamatan Leksula-Desa Neat-Desa Liang-Dusun Waelfau-Desa Namrinat-Namrole sebagai jalan negara,” pungkas warga dalam surat tersebut.
Tokoh-tokoh masyarakat yang menyurat tersebut adalah Herman Tasane, Marsel Hukunala, Urbanus Nurlatu, Robby Nurlatu, John Tasane, Ferdi Hukunala, dan Petrus Hukunala. Mereka adalah warga Neath. Sedangkan dari Liang terdapat nama-nama Petra Hukunala, Riky Nurlatu, Dessy Hukunala, Aulya Hukunala, Agustinus Tasane, Fiska Nurlatu, Rinto Hukunala, dan Hendra Solissa.

OPTIMIS
Melky Solissa mengaku optimis, Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas PUPR dalam waktu dekat akan mengarahkan perhatian ke Buru Selatan, khususnya pembangunan ruas jalan Leksula-Namrole, dan sudah tentu jembatan di Sungai Nalbessy.
“Saya dan kawan-kawan dari Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Neath (HPPMN) akan menghadap Dinas PUPR untuk meminta kepastian tentang jalan dan jembatan, sebab ada dana lebih Rp4 miliar dari APBD Maluku tahun 2020 untuk jalur ini,” kata Melky. (Maluku Post)


