Christian Tamaela, Air Mata Di Ngilngof Dan Tuhaha (2)

  • Whatsapp
Pendeta Christian Izaac Tamaela di Belanda. (foto crts youtube djari thenu)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Sungguh menyenangkan melakukan liputan jurnalistik di Maluku Tenggara. Selain menulis untuk surat kabar Suara Maluku, saya juga bisa melakukan perjalanan pulang kampung ke tanah kelahiran Langgur, sekaligus kampung leluhur “tanah air beta” di Woma El Walken, Ngilngof.

Saya dihubungi wartawati Vonny Litamahuputty untuk liputan Pesparawi Tingkat Provinsi Maluku di Maluku Tenggara. Saya dan reporter Jersey Latul dari harian Siwalima Ambon mendapat tempat menginap di Hotel Rosengem, Watdek. Pengelola hotel Ongen Rahanra menyambut kami dengan marah dan ramah.

“Untung bae, ose yang datang. Kalau wartawan lain, beta tolak,” kata Ongen.

Ongen curhat kepada saya dan Jersey bahwa hotelnya itu tidak pernah dihubungi panitia. Jadi, dirinya tidak punya urusan terima tamu seperti saya dan Jersey. Dia hanya menyediakan hotelnya untuk makan dan minum para tamu, sebab dia juga warga jemaat yang ikut berpartisipasi.

“Jangan kurang hati. Mari makan dolo,” kata Ongen sambil memegang bahu saya.

Saban hari saya dan Jersey meliput dari satu lokasi ke lokasi lain. Saya tidak ingat persis semua hasil waktu itu, kecuali Nyanyi Solo Remaja Putra Glory Pattimahu sedangkan Nyanyi Solo Remaja Putri Marieony Serhalawan. Saya ingat dua orang ini karena kami sama-sama anak Pohon Pule-Air Matacina.

Sebelum malam penutupan Pesparawi di Gedung Larvul Ngabal, lebih dulu ada acara makan patita di Pantai Ngurbloat, Ngilngof. Seluruh peserta bersukacita di pantai nan elok itu.

Saya dan Jersey ikut makan. Setelah itu, kami berkeliling melihat suasana sukacita tersebut. Tiba-tiba, Pak Kres menghadang saya dan Jersey.

“Wartawan, luar biasa. Anda berdua perlu menulis ini. Bahwa pelaksanaan Pesparawi berjalan dengan baik, dan sekarang basudara Katolik di sini menjamu basudara GPM seperti begini. Orang Evav luar biasa, anda harus abadikan ini,” kata Pak Kres dengan perasaan haru.

“Beginilah sudah gaya hidup yang asli kampung-kampung Maluku. Beta orang kampung ini, Pak Kres,” kata saya menjelaskan.

“Ha, Bung Rudi orang Ngilngof? Beta baru tahu. Ngilngof luar biasa,” ujar Pak Kres lalu kembali menjabat sebelah tangan saya dengan kedua belah tangannya. Saya menyaksikan mata Pak Kres berkaca-kaca. Dia terharu.

Pada malam hari, berlangsung pengumuman hasil Pesparawi di Gedung Larvul Ngabal, Ohoijang. Kontingen Kota Ambon tampil sebagai juara umum. Beberapa orang dari Kota Tual melakukan protes. Mereka banting kursi dan marah-marah. Suasana sempat mencekam.

“Bung Rudi, beta manyasal. Semua proses yang begitu baik, bahkan dikukuhkan oleh basudara Katolik di Ngilngof, akang jadi ternoda karena ulah satu dua orang saja,” kata Pak Kres kepada saya di atas “Kapal Midun” dari Tual ke Ambon. Lagi-lagi, matanya berkaca-kaca sampai tumpah di pipi.

Pak Kres memang seorang perasa, sangat sensitif. Pada kesempatan lain, air matanya kembali tumpah di Tuhaha, Saparua, Maluku Tengah. (Bersambung ke bagian 3)

Pos terkait