AMBON, MalukuPost.com – Melemahnya nilai tukar rupiah hingga menyentuh angka Rp17 ribuan terhadap dolar Amerika Serikat dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi makro atau gejolak pasar semata. Di balik angka-angka itu, ada dapur rakyat kecil yang mulai goyah, ada keluarga yang harus menghitung ulang pengeluaran harian, hingga anak-anak yang terancam kehilangan hak dasar mereka.
Pandangan itu disampaikan akademisi sekaligus pengamat pekerjaan sosial, Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si melalui tulisan reflektif berjudul “Rupiah 17 Ribuan dalam Perspektif Pekerjaan Sosial”.
Dalam narasinya, Hobarth menggambarkan rupiah seolah berdiri di depan cermin dan terkejut melihat dirinya sendiri di angka Rp17.500 per dolar AS. Baginya, pelemahan rupiah bukan hanya mengguncang grafik ekonomi, tetapi juga mengguncang kehidupan masyarakat kecil.
“Ibu-ibu mulai menghitung ulang uang belanja di pasar tradisional, kepala keluarga pulang dengan dahi lebih berkerut, sementara isi piring di rumah perlahan berkurang,” tulisnya, Kamis (14/5/2026).
Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengalami luka besar pada krisis 1998, ketika jatuhnya rupiah menyeret jutaan orang ke jurang kemiskinan. Karena itu, menurutnya, kondisi saat ini harus menjadi alarm agar negara tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Hobarth menilai tekanan global seperti konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia memang menjadi faktor penting, namun kebijakan pembangunan juga harus dievaluasi agar tidak terlalu berfokus pada proyek-proyek besar sementara perlindungan terhadap rakyat kecil terabaikan.
“Pembangunan tanpa perlindungan sosial hanya akan menghasilkan gedung tinggi yang berdiri di atas pondasi keluarga-keluarga rapuh,” tegasnya.
Dalam tulisannya, ia juga menyoroti kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 100 hingga 110 dolar per barel. Dampaknya dinilai langsung terasa pada harga BBM, ongkos transportasi, biaya logistik, hingga kebutuhan rumah tangga masyarakat kecil.
Menurut Hobarth, kelompok yang paling rentan menghadapi situasi ini adalah keluarga miskin, pekerja informal, nelayan kecil, buruh berupah rendah, dan anak-anak yang kehidupannya bergantung pada sisa pendapatan harian keluarga.
Ia menegaskan bahwa pekerjaan sosial harus hadir bukan hanya setelah krisis terjadi, tetapi sejak awal sebagai sistem peringatan dini untuk melindungi masyarakat rentan dari dampak kebijakan ekonomi.
“Rupiah yang melemah bukan sekadar berita pasar, tetapi ancaman nyata terhadap kemampuan keluarga membeli beras, susu dan obat-obatan,” katanya.
Lebih jauh, Hobarth menggambarkan bagaimana krisis ekonomi perlahan berubah menjadi tekanan sosial di tingkat keluarga. Meja makan mulai kehilangan lauk yang layak, anak-anak berisiko putus sekolah, sementara tekanan ekonomi memicu pertengkaran rumah tangga hingga gangguan kesehatan mental.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat jaring pengaman sosial melalui bantuan tunai yang adaptif terhadap kenaikan harga, perlindungan subsidi bagi masyarakat kecil, hingga layanan psikososial berbasis komunitas.
Baginya, angka pertumbuhan ekonomi dan stabilitas pasar tidak boleh membuat negara lupa pada wajah-wajah kecil yang berjuang mempertahankan hidup setiap hari.
“Yang tidak boleh jatuh terlalu dalam adalah martabat keluarga-keluarga kecil yang terus berjuang menjaga dapur tetap menyala dan anak-anak tetap bisa bermimpi,” tutupnya.


