“Dilatih Christian Tamaela, Katong Bisa Jadi Orang Gila”

  • Whatsapp
Neil Abaroea dan Pendeta Christian Izaac Tamaela (foto dok Neil Abaroea/Anis de Fretes)

Catatan Neil Abaroea-Jakarta

PENGANTAR REDAKSI

PENGANTAR REDAKSI
Sekitar 30 tahun silam, sebanyak 70 mahasiswa anggota Tim Musik Universitas Pattimura (Unpatti) bertemu Pendeta Christian Izaac Tamaela, sang maestro yang baru saja berpulang.  Pak Christ menjadi pelatih musik.  Latihan unik, berat, dan baru pernah dialami para mahasiswa.  Beragam reaksi muncul.  “Katong bisa jadi orang gila,” kata seorang mahasiswa. Neil Abaroea adalah salah satu mahasiswa tersebut.  Ia merasa betapa kuat fondasi budaya yang ditanam Pak Christ.  Itulah yang membuat Neil berani terjun sebagai seniman tulen, kendati bergelar sarjana perikanan. Berikut ini catatan kenangan Neil untuk pembaca Media Online Maluku Post.

E ju jaro deng mungare
Inga Tita e
Tita ina ama….

Cinta tana deng budaya
Hidup rukun
Manis lawang e

Itulah penggalan lirik lagu Siwalima Arika gubahan Christian Tamaela yang saat itu bergelar BCh.M atau Bachelor in Church Music. Selain Siwalima Arika, ada juga lagu Sopa Nusu Mae, Pela, dan lagu Bahasa Kei Ang Waring e.

Waktu beta masih kuliah di Universitas Pattimura,  Rektor Prof  Dr.  J.  Nanere  membentuk satu group musik  Daerah Maluku. Grup itu hendak tur ke Belanda dan Hawaii.  Banyak mahasiswa mendaftar.  Pak Christ Tamaela pelatihnya. Di sinilah awal cerita beta baku dapa Pak Christ.

Setiap kali latihan, ada saja pengalaman baru dan unik.  Pak Christ tidak langsung mengajari musik, melainkan memaparkan latar belakang, sambil membangun sikap-mental sebagai orang yang berbudaya.  Ada saja pertanyaan-pertanyaan provokatif yang dilontarkan Pak Christ.

“Ale seng malu jalan bawa-bawa kuli bia?”

“Dong seng malu jalan bawa-bawa suling bambu, bawa tifa?

“Hati-hati tiup kuli  bia.  Nanti pipì bisa kambong!

“Dong malu ka seng?”

Itulah pertanyaan-pertanyaan Pak Chris saat memberi motivasi buat katong.  Pertanyaan-pertanyaan itu tidak segera katong jawab, tetapi katong merenung, berpikir, dan jawab sendiri dalam hati.

Pada saat latihan berlangsung, katong benar-benar terkejut-kejut dengan cara, gaya, dan pendekatan yang digunakan.  Misalnya, tiba-tiba dalam suasana hening,  Pak Christ melatih kepekaan dan ketajaman jiwa, kemampuan imajinasi, rasa kesenian, dengan beberapa latihan indra.

“Dengar!  Ada suara burung,” ujar Pak Christ.

Katong para mahasiswa mencoba mendengar suara burung di tempat yang tidak ada burung sama sekali.  Katong satu pandang satu.  Katong bertanya saja dalam hati, burung apa di mana?  Beberapa mahasiswa tidak tahan.  Mereka merasa latihan ini lucu dan konyol, sehingga tertawalah mereka.

Belum selesai suara burung, ketika beberapa mahasiswa tertawa, Pak Christ  berteriak: “Diammmmm..  diammmm,  dan dengar … ada suara ombak…”

Sama seperti perintah mendengar suara burung,  para mahasiswa saling menatap lagi dan bertanya dalam hati.  Ombak di mana?  Lagi-lagi, tawa sebagian mahasiswa terdengar.

“Dengar … ada suara orang menangis….uuuu .. uuuuuuu”

“Dengar… dengar .. Ada suara org panggil  dari hutan Nunusaku ..”

“Ale e ……. e … e,” teriak Pak Christ

Semua mahasiswa serempak menjawab: Ale e …. e…e

Itulah contoh latihan Pak Christ dengan katong. Ada juga latihan rhytm dengan tepukan tangan, tepukan paha, dan tepukan ke kursi, dll.  Pokoknya, ada saja yang baru, unik, dan terkadang lucu.

Setelah mengalami latihan-latihan tersebut, beragam reaksi muncul di kalangan mahasiswa. Ada yang mengaku latihan ini sebagai sesuatu yang luar biasa.  Ada yang mengatakan, ini mau latihan musik atau mau latihan apa?

“Latihan model begini, katong bisa jadi orang gila,” kata seorang rekan beta.  Seorang rekan yang lain malah lebih sadis. “Beta seng mau iko lai!”

Itulah Pak Christ Tamaela. Dalam latihan selanjutnya, banyak sekali pendekatan-pendekatan  budaya yang belum pernah kita alami, termasuk pendekatan gaya teater.

Singkat cerita,  katong berjumlah hampir 70 org akhir jadilah. Katong selalu membawakan lagu-lagu tradisional Maluku.   Hampir semua lagu adalah gubahan Pak Christ. Semua lagu pakai partitur. Begitu juga alat-alat musiknya.  Ada suling, ada pong-pong, ada sariki, ada loleba, ada klong, hia

Katong bukan hanya belajar nyanyi, belajar notasi siwalima, dan notasi musik umumnya tetapi katong  diajarkan cara bermain dan membuat semua alat musik tersebut. Satu-satunya alat musik yang katong seng belajar buat adalah batu yang bernada.

Pak Christ tidak membuat katong menjadi semacam robot pintar yang dapat membunyikan alat-alat musik melainkan memberi gambaran utuh, dari latar belakang filosofi sebuah alat atau simbol, barulah turun ke hal teknis bermain musik. Pendekatan budaya jualah yang sering dipakai  Misalnya, Pak Christ cerita lebih dulu latar sejarahnya. Contoh:  Alat musik Pong-Pong.  Pak Christ akang bercerita begini:

“Dolo-dolo, orang ambil aer itu pake bulu. Bulu besar-besar yang biasa orang biking mariam bulu. Kadang saat ambil aer di parigi atau di kali, orang iseng toki-toki bulu di tanah, di batu. Ada bulu yang kosong, ada bulu yang air masih sadiki,  ada bulu yang aer pono.  Pong pong  pong  dan semua itu menghasilkan bunyi nada yang berbeda-beda. Dari situlah, awal mula alat musik pong-pong.”

Tidak hanya tentang musik.  Pak Christ juga bicara tentang simbol-simbol budaya Maluku.  Misalnya,  saat jahit kostum untuk naik panggung,  ada pake motif gigi anjing  yakni renda di baju dan celana. Pak Christ juga memberi penjelasan etnografi.

“Mengapa renda atau gigi anjing ini dong pasang di  tangan kebaya pung pinggir-pinggir? Mangapa seng di tengah-tengah? Dolo-dolo di hutan, kalau habis baku pukul atau  bunuh orang, biasanya orang kasih tanda. Motif gigi anjing di tempat  kejadian itu. Bisa  gambar di tanah pake kayu/batu atau cari ranting-ranting kecil  kemudian  dipatah-patah seng putus model gigi anjing dan diletakkan di pohon atau batu. Hal itu menandakam bahwa di sini tadi ada kejadian berbahaya atau daerah berbahaya. Makanya kalau dong lihat motif ini selau dipakai di rumah-rumah suku Noaulu di atas jendela dan di atas pintu rumah”.

Banyak orang tidak tahu bahwa Pak Chrits itu maestro musik. Bukan hanya entnomusikolog (minor) tetapi di bidang komposisi (mayor)  sehingga kadang orang di Ambon kalau bicara, jadinya lucu. Maklum jua, samua merasa tau manyanyi.  Beta pernah dengar orang komentar begini:

“Pak Christ tuh, kalo musik tradisional boleh, sedangkan kalau nyanyi, seng kapa!”

“Pak Christ itu jago musik etnik bolehlah, tetapi kalo masalah paduan suara, mungkin seng.”

Kalo beta ke rumah Pak Christ di Tanah Lapang Kecil, Ontua selalu kasih tunjuk karya-karyanya atau karya-karya orang yang ikut  lomba cipta lagu  dan Pak Christ jadi juri. Selalu ada catatan.

“Ale lihat partitur not balok Toki Gong. Bukan hanya sekedar notasi tetapi seperti lukisan  indah. Ale lia komposisi lagu ini.. dong tulis di not angka oke saja tetapi kalau di not balok, akang baku tarika.”

Pandangan minor terhadap kemampuan dan keahlian Pak Christ berubah ketika suatu saat bersama Ibu Monica Pariela (Dirigen Ps. Cresendo) jalan-jalan di Manila. Di satu toko musik,   ia mendengar lagu rohani tetapi kata-kata dialek Ambon.  Akhirnya ketika pulang ke Ambon, Pak Christ tulis notasi angka lagu Toki Gong. Dari situ orang di Ambon mulai tahu siapa Christ Tamaela.

Dalam kenangan beta, Pak Christ itu rapi. Saat itu beta berpikir,  orang ini rapi sekali,  bukan hanya dari penampilan,  dari rambut  yang selalu dirapikan dengan  sisir kecilnya,  juga kemeja, celana, dan sepatu.

Kemeja favorit Pak Christ adalah kemeja lengan pendek dan selalu pakai kaos dalam singlet putih. Setiap kali selesai latihan, harus ganti pakaian.

“Beta orangnya cepat keringat,” ujar Pak Christ.

Dalam hal penulisan partitur menggunakan notasi-notasi  siwalima, walaupun tulisan tangan, selalu ditulis secara rapi.  Beta tahu persis hal ini sebab salah satu tugas beta adalah fotokopi partitur tersebut.

Dalam kenangan beta, Pak Christ itu punya ide-ide gilaaaaaaa, namun sangat kreatif, dan sungguh di luar dugaan.  Contoh saja, saat Paskah di Lapangan Merdeka, Ambon, katong dapa suruh siapkan drum-drum bekas minyak untuk dijadikan pengganti tifa kulit.  Katong diminta siapkan penari cakalele untuk kawal prosesi Alkitab saat masuk.  Demikian juga katong siapkan rebana untuk lagu “Tuhan Allah Telah Berfirman.”  Waktu itu, hujan deras mengguyur tetapi katong tetap jalan terus.

Pak Christ, sosok sederhana namun megah.  Ia keras dalam latihan tetapi lembut sebagai orang tua, guru, pelatih, yang penuh cinta.  Nah, pernahkah Pak Christ marah?  Tentu saja,  pernah.

Pernah sekali waktu , Pak Christ marah ketika saat latihan, ruangan ribut.  Sudah bilang ulang-ulang, masih saja seng mau diam. Akhirnya ontua pukul tifa kencang sekali. Samua kaget, lalu diam.

Beta ingat persis saat-saat lagu Pela dikarang.  Waktunya, satu atau dua hari.  Setelah lagu kelar, Pak Christ bilang, lagu Pela nanti dipakai di acara pemda , acara KNPI.  Akhirnya, lagu Pela dinyanyikan pertama kali dalam suatu acara di Sport Hall Karangpanjang, oleh Nona Thea da Costa.

Satu hal lain yang tidak bisa beta lupa adalah pesan ontua tentang hal tulis-menulis.  Menurut Pak Christ,  orang Maluku itu pamalas tulis.

“Jadi ale inga! Kalo ada ide apa-apa, tulis!“ Begitulah pesan Pak Christ.

Perjumpaan beta dengan Pak Christ telah membuat beta banyak berubah dalam banyak hal , dalam pola pikir maupun pola perilaku, terutama pemahaman musik dan budaya Maluku.

Bayangkan,  setiap minggu selama tiga tahun lebih, beta mengalami hari-hari baku dapa  sang maestro.  Semua itu menjadi momen indah dan menyenangkan.  Beta beruntung bisa dekat dan bekerja sama dengan Pak Christ  sebab beta belajar sangat banyak hal.

Sudah 30 tahun berlalu, beta kaget baca facebook Bung Jacky Manuputty yang beri info bahwa Pak Christ su seng ada. Sedih sekali.  Sekarang ontua su seng ada.  Seng ada lai yang panggil beta untuk bilang:

“Neil,  jang lupa kasih inga anak-anak, Sabtu latihan”

“Neil Minggu depan bantu beta cari bulu untukk biking pong-pong, klong, gata-gata, loleba“

“Neil, coba ajak tamang-tamang, katong cari bintangor di pante  lalu nanti cat warna-warni untuk jadi rante:

“Neil, jang lupa fotokopi partitur lagu”

Danke banyak. Danke banyak, Pak Christ. Danke banyak untuk begitu banyak hal yang beta bisa pelajari.

Jakarta, 21 April 2020

Penulis adalah Mantan Ketua UKM Musik Tradisional Unpatti,  1992-1995.

Pos terkait