Salam Arafura Untuk Ley Jar Glenn Fredly

Mika Ganobal (penulis) dan Glenn Fredly, tahun 2018. (foto dok mika)

Catatan Mika Ganobal-Dobo

Pertengahan 2014, di tengah musim kampanye pemilihan presiden, beta ada di Jakarta. Telepon genggam berdering. Rupanya, Mbak Intan, aktivis #Save Aru di Jakarta.

“Hai Mika. Hari Sabtu, kita jumpa Bung Glenn ya!” Ujar Mbak Intan.
“Bung Glenn siapa?” Tanya saya.

“Ya Bung Glenn Fredly,” kata Intan.

“Maaf! Saya Sabtu dini hari sudah balik ke Aru. Tiket sudah oke!” Saya menjawab lagi.

“Oh, oke, soalnya Bung Glenn jadwalnya yang free hari Sabtu. Saya coba komunikasi ulang dengan Bung Glenn,” ujar Mbak Intan.

Sepuluh menit kemudian, Mbak Intan menelepon lagi.

“Bung Mika! Kita bisa jumpa Bung Glenn hari Jumat siang di Cilandak Town Square. Saya sudah hubungi Bung Habib Almascatie, dan Bung Burhanudin Borut untuk hadir juga,” terangnya.

Hari Jumat, kami berjumpa. Bung Glenn, Burhanudin, Almascatie, Mbak Intan dan suaminya Aria. Agenda tunggal diskusi kami yaitu #Save Aru. Glenn menyatakan keinginan kuat untuk bisa ke Aru.

Pada 2 Januari 2018, kami berjumpa lagi di Jakarta, masih dalam semangat #Save Aru. Kami berdiskusi tentang agenda hari esok.

“Bung Mika, beta rencana tahun ini harus ke Aru,” ungkap Bung Glenn penuh semangat.

Akhirnya, tibalah saatnya. Pada 13-16 Maret 2018, Bung Glenn datang ke Aru.

Selama di Aru, Bung Glenn mengunjungi Desa Lorang dan Desa Manjau Kecamatan Aru Tengah. Dalam perjalanan dari Benjina Ke Lorang, melewati Sungai Barakai dengan hamparan Hutan Mangrove, hanya ada satu pertanyaan untuk beta.

“Bung Mika. Pohon yang di bibir pantai itu mangrove? Pohon yang agak ke dalam itu hutan alam?”

“Iya, Bung!” Jawab beta.

“Luar biasa! Amazing!” Begitulah Bung Glenn memberi komentar.

Di Desa Lorang kami dijemput oleh tua adat dengan prosesi makan Sirih Pinang.

Kami sempat mengunjungi Desa Manjau, desa tetangga Lorang. Bung Glenn pergi ke SD Negeri Manjau, berdiskusi dengan warga desa.

Selama di Lorang, Bung Glenn menyusuri hutan mangrove dan hutan alam. Kekaguman Bung Glenn akan hutan Aru yang masih terjaga, diungkapkan dengan menyebutnya Amazon Kecil.

“Amazon kecil ini wajib dijaga. Warga perlu diberdayakan. Salah satunya adalah melalui eko-wisata,” ungkap Bung Glenn.

Melihat pesona hutan Aru, Bung Glenn lantas melontarkan mimpinya membuat klip tentang hutan di Aru.

“Bung, beta punya mimpi. Suatu saat, beta akan buat klip. Beta bisa main gitar di dermaga waktu sore, melihat matahari tenggelam, nyanyi di rimba Aru, di bawah pohon merbau, lenggua, dan beta mau lihat cendrawasih menari,” ujar Bung Glenn berapi-api.

Selama di Lorang, Bung Glenn nampak penuh sukacita disuguhi kepiting bakau sebagai menu wajib. Desa Lorang menyuguhkan pula buah rambutan dan langsat yang memang sedang ranum.

“Bung Mika! Beta punya teman. Dia jago masak. Dia sudah keliling dunia, hanya untuk masak saja. Beta mau ajak dia ke Aru, ajar mama- mama masak karaka, biar jangan hanya satu menu karaka tapi banyak variasi masakan,” kata Bung Glenn.

Pada malam terakhir di Desa loraang, Bung Glen sempat “manggung dadakan”. Dia membawakan dua lagu yakni “Tinggikan” dan “Karena cinta”.

“Basudara samua. Beta ada di sini karena beta ini juga Orang Aru. Beta ada untuk basudara dan mau belajar bersama basudara. Untuk beta punya ade-ade, ana-ana muda, harus semangat. Laen harus tongka laen, laen harus bantu laen. Satu hal yang beta pesankan untuk anak-anak muda, kalau mau besar, jangan sombong,” begitulah pesan Bung Glenn di konser kampung itu.

Sebelum balik ke Dobo, Bung Glen sempat memainkan Gitar akustiknya, lantunan lagu lagu Ambon dan diakhiri dengan lagu Rohani “Kami Memuji Kebesaran-Mu”, dilanjutkan dengan doa oleh Bung Glenn sendiri sebelum kembali ke Dobo.

Sampai di Dobo, Bung Glenn sempat bertemu beberapa pimpinan OPD dan Sekretaris Daerah Kepulauan Aru.

“Sebagai anak Maluku, beta siap baku bantu bangun negeri ini. Beta siap diri,” ungkapnya.

Satu hal yang menjadi perhatian serius Bung Glenn yaitu masalah pendidikan. Perpustakaan yang tidak terurus menjadi perhatiannya.

“Bung, kalau daerah mau maju, masyarakat harus pintar. Salah satu indikatornya adalah sarana baca, perpustakaan daerah.

Dalam sakitpun Bung Glen sempat menyapa, memberikan semangat bagi perjuangan. “Salam hormat basudara di Aru. Semangat! Lawan dengan kebaikan dan kecerdikan. Warga Aru seng sendiri. Tuhan jaga dan berkati. Salam hormat sepenuh cinta.” Demikian pesan whatsup tanggal 10 Maret 2020, Jam 16:43 WIB yang dikirimnya dari rumah sakit.

Beta menulis catatan ini dengan air mata. Bagaimana mungkin seorang bintang tenar di blantika musik Indonesia, tiba-tiba muncul di TV, mengenakan topi bertuliskan “Save Aru”. Dia juga membuat petisi mendesak pemerintah cabut izin PT Menara Group. Dia bukan orang satu kampung dengan kami. Bagaimana mungkin bintang yang hanya bisa kami saksikan di televisi itu bisa datang berjalan di kampung dan hutan kami?

“Semua karena cinta!” Beta yakin cinta yang lebih luas dari Laut Arafuru telah membawa Bung Glenn masuk ke jantung orang Jarjui, dan ikut membela Jargaria, Tanah Aru.

Bung Glenn, lelaki Aru “Ley Jar”. Terima kasih untuk buang badan ke dalam perjuangan #SaveAru. Salam kami, salam Arafuru.  Salam Sita Eka Tu, katong samua satu. Selamat jalan.  Mainkan musik dan lantunkan suara merdumu di keabadian sumber Cahaya Dari Timur. Katong tetap teruskan perjuangan #SaveAru.

Penulis adalah Koordinator Gerakan #SaveAru, tinggal di Dobo

Pos terkait