AMBON, MalukuPost.com – Memasuki usia 40 tahun, Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) terus meneguhkan perannya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya berfokus pada pendidikan, tetapi juga berkontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat Maluku. Perjalanan panjang yang dimulai sejak 19 Agustus 1985 menjadi fondasi bagi UKIM untuk terus menghadirkan dampak melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Marla Beatriecs Kailola, S.P., Divisi Pendanaan YAPERTI, menilai bahwa momentum empat dekade perjalanan UKIM menjadi kesempatan penting untuk melihat kembali kontribusi kampus terhadap masyarakat sekaligus memperkuat perannya di masa depan.
“Empat puluh tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah perguruan tinggi. Dalam rentang waktu tersebut, kampus tidak hanya dituntut melahirkan lulusan, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata yang dirasakan masyarakat,” ujarnya, Senin (02/06/2026).
Menurut Kailola, visi UKIM sebagai perguruan tinggi yang inklusif, mandiri, dan berkualitas dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni demi kesejahteraan masyarakat kepulauan menjadi arah yang perlu terus diwujudkan melalui berbagai program strategis.
Ia menjelaskan, dampak sebuah perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau pembangunan infrastruktur kampus, melainkan dari kemampuannya menjawab kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi daerah.
Dalam bidang akademik, kata Kailola, UKIM memiliki potensi besar untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, budaya penelitian, serta karya-karya ilmiah yang dapat mendukung pembangunan Maluku. Peran dosen melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan tujuan tersebut.
Selain itu, berbagai program pengabdian yang telah dilakukan menunjukkan komitmen UKIM untuk hadir di tengah masyarakat. Salah satunya melalui keterlibatan dalam pemasangan Earthquake Warning Alert System (EWAS) di sejumlah wilayah rawan bencana di Maluku sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman gempa bumi.
Kailola juga menyoroti pentingnya kolaborasi yang terus dibangun UKIM dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan. Menurutnya, kerja sama tersebut membuka peluang pengembangan riset, pertukaran pengetahuan, serta penguatan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Maluku.
“Sebagai perguruan tinggi yang lahir dari rahim Gereja Protestan Maluku, UKIM memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan karakter yang kuat,” katanya.
Ia berharap memasuki dekade kelima, UKIM semakin memperluas dampaknya bagi masyarakat kepulauan melalui pendidikan yang berkualitas, penelitian yang relevan, serta pengabdian yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
“Melampaui empat dekade perjalanan, UKIM memiliki modal sejarah, nilai-nilai pelayanan, dan sumber daya yang besar untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat bagi Maluku. Pada akhirnya, kampus akan dikenang bukan hanya karena usianya, tetapi karena kontribusinya bagi masyarakat,” tutup Kailola.


