Ini Penjelasan Gustu Covid-19 Kabupaten Malra Terkait Ditetapkan Zona Kuning

  • Whatsapp
Juru Bicara Tim Gustu Covid-19 Kabupaten Malra, dr. Katrinje Notanubun, M.Kes.

dr. K. Notanubun: “Masyarakat jangan panik, Malra masih hijau”

Langgur, Malukupost.com – Gugus Tugas (Gustu) Percepatan Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) Nasional, telah merilis 136 kabupaten/kota masuk dalam wilayah zona kuning (mempunyai resiko rendah terhadap Covid-19), dan di provinsi Maluku terdapat 5 kabupaten/kota termasuk Maluku Tenggara (Malra).

Kepada media ini di Langgur, Jumat (12/6/2020), Juru bicara Tim Gustu Covid-19 kabupaten Malra, dr. Katrinje Notanubun menjelaskan bahwa usai menerima rilis dari Gustu Nasional tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan tim Gustu Provinsi, Gustu Nasional dan pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

“Kami melakukan upaya-upaya untuk mengetahui bagaimana Gustu Nasional mendapatkan data sehingga mengeluarkan pernyataan demikian. Kami mulai berkoordinasi dengan Gustu Provinsi Maluku yakni kepala dinas kesehatan setempat, dimana hasilnya diketahui bahwa Malra tidak ada kasus Covid-19 seperti ODP maupun PDP,” ujarnya.

Usai berkoordinasi dengan pihak provinsi, pihaknya kemudian berkomunikasi dengan juru bicara pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dr. Achmad Yurianto.

“Waktu itu disampaikan bahwa beliau sementara rapat, sehingga saya diberikan nomor kontak (telpon) Ketua Tim Pakar Gustu Nasional Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito. Hasil dari komunikasi tersebut bahwa data yang diterima dari Kemenkes RI itu terdapat 1 kasus positif yang berasal dari provinsi Maluku Utara dengan kabupaten Malra, sehingga tercatat di Gustu sebagai Maluku Tenggara. Itu yang Prof. Wiku sampaikan ke saya,” tuturnya.

Untuk diketahui, Prof. Wiku Adisasmito (lengkapnya Prof. Drh. Wiku Bakti Bawono Adisasmito, M.Sc., Ph.D) merupakan Sekretaris Majelis Wali Amanat (MWA) dan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia.

Tidak cukup sampai disitu, Gustu Covid-19 Malra juga melakukan koordinasi dengan pihak Kemenkes RI (tepatnya Direktur Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular), dan diperoleh data bahwa ada pasien terkonfirmasi (pasien ke-178) berasal dari provinsi Maluku Utara yang memiliki KTP kabupaten Maluku Tenggara.

“Dari keterangan pihak Kemenkes RI bahwa ternyata pasien nomor 178 dari provinsi Maluku Utara ini punya KTP Malra. Jadi, walaupun dia berdomisili di Maluku Utara tetapi dia punya KTP Malra,” bebernya.

Diketahui, sesuai prosedurnya, ketika proses SOP dalam pengambilan spesimen (pengambilan swab) atau PCR terhadap pasien dan hasilnya terkonfirmasi, maka diinput nama pasien yang bersangkutan sesuai dengan NIK (identitas pada KTP).

“Sehingga secara otomatis, berdasarkan KTP itu sudah terdata di pusat bahwa ada pasien positif di Malra. Oleh karena itu, terdatalah kita sebagai zona kuning. Jika zona hijau berarti tidak ada kasus Covid-19 (kasus bisa dikendalikan),” tandasnya.

“Selain itu, pasien 178 tersebut sudah dimasukan dalam laporan provinsi Maluku Utara. Secara administrasi kita dikatakan zona kuning, karena salah satu warga di Maluku Utara yang ber-KTP Malra, hasil swabnya positif. Jadi, secara epidemologi dimasukan dalam Maluku Utara, namun secara administrasi berada di kabupaten Malra,” ungkapnya.

Untuk diketahui, pasien 178 asal provinsi Maluku Utara tersebut pernah melakukan kontak dengan isteri dari Walikota Tidore Kepulauan (Almh. Hj. Sulamah) yang meninggal dunia pada 31 Mei 2020 lalu akibat Covid-19.

“Saya sudah dapatkan data tressing-nya. Jadi, saudara kita (pasien ke-178 yang sudah lama tinggal di Maluku Utara tapi KTP-nya masih kabupaten Malra) ini, pernah melakukan kontak dengan almarhumah isteri Walikota Tidore Kepulauan yang meninggal akibat terpapar Covid-19,” tuturnya.

Karena menyadari pernah kontak dengan isteri Walikota Tidore (Almh) yang meninggal karena Covid-19 sebelumnya, maka yang bersangkutan melakukan pemeriksaan secara mandiri.

“Setelah melakukan pemeriksaan tersebut, ternyata yang bersangkutan dinyatakan positif Covid-19,” pungkasnya.

dr. Notanubun menegaskan, terkait hal tersebut, pihaknya telah meminta klarifikasi dari Gustu Nasional untuk pembaharuan data zonasi Covid-19.

“Kami juga sudah minta klarifikasi-klarifkasi, dan oleh Prof. Wiku. Beliau sampaikan bahwa, Ibu, nanti data ini setiap minggu (tepatnya hari senin) Gustu Nasional akan memperbaharui data zonasi (zona merah, kuning dan hijau),” bebernya.

Untuk itu, pihaknya akan menunggu rilis terbaru (update) dari Gustu Nasional tentang data zonasi dimaksud.

“Nanti kita lihat lagi data (rilis) terbaru dari Gustu Nasional minggu depan. Paling tidak, mereka di pusat juga tahu bahwa warga (pasien 178 di Maluku Utara) tersebut tidak tinggal dan berdomisili di Malra,” tegasnya.

dr. Notanubun yang juga Kepala Dinas Kesehatan Malra juga meminta warga masyarakat agar tidak panik, karena kabupaten Malra masih tetap hijau.

“Biar Gustu Nasional katakan Malra zona kuning, tapi bagi saya Malra tetap Hijau karena terbukti tidak ada satu kasus pasien Covid-19 disini. Saya himbau kepada warga untuk tidak panik. Mari bersama-sama saling menjaga, karena ketika kita sudah masuk dalam situasi New Normal nanti, maka masyarakat diwajibkan untuk tetap patuh dan taat terhadap protokol kesehatan yakni jaga jarak, pakai masker dan rajin cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Itu yang harus katong bentengi,” pungkasnya.

Pos terkait