Ini Riwayat Sejarah Orangkai Di Ohoi Waur

Waur
Raja Me Umfit atau Rat Ler Endat, bapak Edison Elkel, menyerahkan Keris Pusaka kepada Benediktus Farneubun, S. Sos. Keris pusaka tersebut kemudian disematkan pada pinggangnya, sebagai tanda dirinya resmi dikukuhkan secara Adat sebagai Orangkai Ohoi Waur. Sabtu (12/9/2020)

Langgur, MalukuPost.com – Ohoi (desa) di kepulauan Kei tentu memiliki sejarah sendiri, termasuk didalamnya yakni sejarah Orangkai.

Pada saat pengukuhan secara adat Orangkai ohoi Waur, Kecamatan Kei Besar, atas nama Benediktus Farneubun, oleh Rat (Raja) Me Umfit (bapak Edison Elkel) pada hari Sabtu tanggal 12 September 2020 lalu, disampaikan pula Sinopsis Riwayat Orangkai Ohoi Waur.

Informasi yang berhasil dihimpun Malukupost.com, Senin (21/9/2020), berdasarkan sinopsis tersebut diketahui bahwa pada jaman dahulu kala, ada Tujuh Bersaudara yang dikisahkan berasal dari Bali, dan hidup di Nuhufo pada pesisir timur tengah Nuhuyuut (pulau Kei Besar).

Ketujuh bersaudara tersebut yakni Tafdod/ Tafitik Tahaide sebagai yang Tertua, Mam Teen Mam Tabal Bail Elkel (Yamtel), Soin Ngil (Waurtahit), Mon Bakait (Ohoiren Yamru), Naraha Kukurmas (Ohoilim), Monkil (Ohoinangan), dan Badmas (Ohoinangan).

Selanjutnya, seiring musim berganti musim, keadaan dan kehidupan Tafdod Tahaide berganti juga, dimana Tafdod Tahaide membangun rumah tanga (kawin) dengan seorang perempuan bernama Ngavamuref yang berasal dari keturunan Kowul-Wul dengan marga besar Ohoiwirin, yang merupakan penduduk asli.

Dikisahkan pula bahwa dari perkawinan Tafdod Tahaide dan Ngavamuref tersebut ternyata mereka tidak memiliki keturunan.

Orangkai Ohoi Waur, Benediktus Farneubun, S. Sos bersama Isteri, di depan Woma El-Bulil.

Ketika tahun berganti tahun, maka Tafdod Tahaide pun kembali membangun rumah tangga (kawin) dengan seorang perempuan dari ohoi Ohoiel yang bernama Mas Belian Mafun Retraubun.

Dari perkawinan tersebut, mereka dianugerahi anak yang diberi nama Somes Tahaide (Lok Lokar Soho Bauktel), dan kemudian Somes Tahaide memperanakan Bateen Tahaide.

Pada masa Bateen di Ohoi Lair, anaknya bernama Bayenat Tahaide lahir, yang kemudian menggantikan ayahnya (Bateen ).

Dalam kekuasaan Bayenat Tahaide terciptalah nama baru dari perkampungan yang kedua bernama Rai Sud Kot Wadan dengan Womanya bernama Ub Kok Harvat. Pada masa kekuasaannya itu pula lahirlah seorang anak bernama Kaanyaan Tahaide atau Yai.

Seiring berjalannya waktu, Kaanyaan Tahaide pun beranjak dewasa. Dalam jiwanya terdapat keahlian berperang dan berniat mempersatukan penduduk asli Rai Sud Kot Wadan yang masih terpencar-pencar.

Pada suatu waktu, Kaanyaan Tahaide mencari sebidang tanah untuk membuat kebun yang didalamnya ditanam padi ladang.

Dan ketika tiba musim panen, padi itu diambil hasilnya dan ternyata beras itu semuanya berwarnah merah, dan beras tersebut diberi nama Kok Wul. Di sekeliling kebun itu tumbuh juga tanaman bambu dan buluh yang berwarna merah.

Kaanyaan Tahaide merasa bahwa tempat itu cocok untuk membuka suatu perkampungan baru dan diberi nama Ohoi Kok-Wul dengan Womanya bernama El-Bulil, dan dirinya sendiri selaku panglima perangnya.

Sebagai seorang panglima perang, Kaanyaan Tahaide memiliki tiga orang pembantunya bernama Holuk dan Kowarin sebagai juru tembak yang ulung, dan Basarder sebagai pengatur strategi perang.

Ohoi Kok-Wul dikelilingi tembok sebagai penangkis serangan musuh dari luar. Tembok tersebut diberi nama Lutur Mas Kokngiar. Pada masa kekuasaannya pula, Kaanyaan Tahaide dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Farneuru Rahanteen. Kemudian, Farneuru Rahanteen dikaruniai anak bernama Teverel Tahaide Rahanteen.

Setelah tumbuh dewasa, timbullah keinginan Teverel Tahaide Rahanteen untuk mempersatukan dan meneruskan cita-cita kakeknya Kaanyaan Tahaide.

Pada masa Teverel Tahaide Rahanteen waktu itu, kekuasaan Pemerintah Belanda sudah ada di kepulauan Kei yang berkedudukan di Dullah. Mereka (Pemerintah Belanda) mencari jalan untuk meredam kekacauan di pulau Kei Besar terutama di Ohoi Kok-Wul dan sekitarnya.

Oleh karena itu, Teverel Tahaide Rahanteen dipanggil oleh Binsov Yaman Yahau Rahaded yang merupakan Perwakilan dari Pejabat Pemerintah Belanda yang berkedudukan di Dullah untuk menerima penghargaan.

Orangkai Ohoi Waur bersama keluarga besar Farneubun di depan Rumah Adat Rahan Tade.

Tanda penghargaan tersebut diberi nama Kroon Mas (Mahkota Emas) dengan surat keterangan berbahasa Belanda yang disebut Verte Voklaria.

Penyerahan kekuasaan dengan tanda bukti tersebut diterima diatas geladak kapal Pemerintah Belanda di Namorlet (pelabuhan Elat waktu itu).

Usai penyerahan kekuasaaan tersebut, Teverel Tahaide Rahanteen kembali ke Ohoi Kok-Wul melalui Ngurmas Yamlim, dan dalam waktu yang sama pula raja Elkel dari Me Umfit, menerima tanda penghargaan dari Pemerintah Belanda yang diberi nama Baingsut.

Sejak penerimaan penghargaan dari Pemerintah Belanda tersebut maka terbentuklah Pemerintahan baru/Orangkai Ohoi Kok-Wul.

Orangkai pertama di ohoi Waur adalah Tever-El Tahaide Rahanteen. Kedua, dijabat oleh Armau Rahanteen.

Orangkai ketiga yakni Yoseph Mathias Taruut Rahanteen (1924-1956). Yang keempat Bernardus Rahanteen (1957-1974). Kelima, dijabat oleh Laurensius Farneubun (1977-1979).

Selanjutnya, Bernardus Farneubun (1986-2009) adalah Orangkai Keenam. Yang ketujuh yakni Yoseph Yopi Rahanteen (2011-2017), dan yang Kedelapan yakni Benediktus Farneubun, S. Sos (yang dikukuhkan secara adat pada tanggal 12 September 2020).

 

Pos terkait