Dugaan Kejahatan Konsumen Istri Petinggi Brimob di Tanimbar Masih Didalami

  • Whatsapp
Rahanwarat
Barang bukti sitaan oleh Disperindagnaker Kabupaten Kepulauan Tanimbar

Rahanwarat: “Sudah Enam Bulan Kasus Ini Mondok di Polres Kepulauan Tanimbar”

Saumlaki, Malukupost.com – Penyidik polres Kepulauan Tanimbar hingga kini masih terus mendalami kasus dugaan kejahatan konsumen yang dilakukan oleh Hj. Artini, pemilik toko Nanda yang berlokasi kawasan pasar Omele, Sifnana, kecamatan Tanimbar Selatan. Yang juga merupakan seorang istri Brimob Kompi C di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kasat Reskrim Polres Kepulauan Tanimbar AKP. Richard WH yang dikonfirmasi mengaku, hingga kini pihaknya sedang mengembangkan kasus tersebut.

“Soal kasus barang kedaluwarsa ini sedang diselidiki, karena kami masih telusuri asal usul barang-barang tersebut. Kita tetap akan proses,”ujarnya di Saumlaki, Jumat (23/10/2020)

Sementar itu, Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) SM-Indonesia di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Agustinus Rahanwarat menyatakan, persoalan itu telah dilaporkan sejak bulan April 2020 berdasarkan temuan dinas Perindustrian, Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disperindagnaker) Kabupaten Kepulauan Tanimbar tentang barang yang diduga telah rusak, cacat, tercemar dan kedaluwarsa yang dijual oleh Hj.Artini.

“Usai menerima laporan pada bulan April 2020, kemudian saya mendatangi Hj. Artini, namun dia tidak mau mengklarifikasi kejadian itu dan dengan marah meminta untuk dilaporkan saja ke polisi,” ungkapnya.

Dijelaskan Rahanwarat, Jumlah barang yang disita oleh Dinas peridustrian, perdagangan, dan tenaga kerja Kabupaten Kepulauan Tanimbar sebanyak 7.184 jenis, yang telah diamankan untuk kepentingan penyidikan. Walau perbuatan terlapor tidak menyebabkan adanya korban yang jatuh sakit, namun menjual dan mengedarkan barang-barang yang dilarang pelaku usaha dapat berurusan dengan hukum yakni pelanggaran undang-undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“LPK SM-Indonesia memiliki kewenangan menurut undang-undang untuk mengadvokasi konsumen yang dirugikan akibat perbuatan pelaku usaha yang menjual atau mengedarkan barang-barang yang bertentangan dengan UU No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” tandasnya.

Ia berharap, perkara tersebut dapat segera dituntaskan oleh penyidik Polres Kepulauan Tanimbar sembari mengimbau masyarakat selaku konsumen agar lebih cerdas saat membeli barang/jasa dari pelaku usaha sehingga tidak menimbulkan kerugian.

“Harapan saya semoga persoalan ini dapat segera dituntaskan oleh penyidik, mengingat sudah enam bulan lamanya kasus ini mondok di Polres Kepulauan Tanimbar,” pungkasnya.

Pos terkait