Ina Bala Wattimena, Politisi dan Jurnalis Perempuan Pertama di Maluku

foto: yo makupala
Ina Bala Wattimena (tengah), selalu tanpa alas kaki (foto ym)


Catatan Rudi Fofid & Evie Kissya – Ambon

Martha Latumahina lebih popular dengan nama Ina Bala Wattimena.  Dialah perempuan tiga zaman dengan banyak dimensi.  Walau hanya tamatan Sekolah Rakyat di Hunuth, Ambon, dia melejit di kancah politik, jurnalisme, ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan budaya.

Ina Bala mendirikan organisasi perempuan pertama di Maluku yakni Ina Tuni (Ina Toeni).  Ina berarti perempuan, atau ibu.  Tuni bermakna asli, sejati, mulia.  Ina Tuni menjadi sayap politik Sarekat Ambon.  Lantas di kemudian hari, Ina Bala pun menjadi perempuan Maluku pertama di parlemen yakni DPR Gotong Royong yang diketuai Amin Ely.

Tidak heran Pemerintah Indonesia memberi gelar sebagai perintis kemerdekaan kepadanya.  Belakangan ketika sudah banyak orang di Maluku melupakannya, barulah tahun 2015, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu memberi penghargaan kepada Ina Bala sebagai Tokoh Nasional asal Maluku.

Membicarakan nasionalisme orang Maluku, tentu tidak bisa melupakan jasa Alexander Jacob Patty dan Sarekat Ambon.  Kalau sudah sampai di situ, tidak afdal pula jika tidak sebut nama Ina Bala.  Patty adalah guru politik kaum nasionalis Maluku.  Sedangkan Ina Bala sebagai kawan berjuangnya.  Dwi tunggal Patty-Ina Bala adalah sepasang kabaresi-kapista yang legendaris.

Selain sebagai politisi kepala batu, Patty dan Ina Bala boleh dicatat sebagai perintis pers di Maluku.  Patty mendirikan Sarekat Ambon, 9 Mei 1920, sedangkan Ina Bala mendirikan organisasi perempuan Ina Tuni, tahun 1923.  Keduanya berkoalisi secara politik, dan mendirikan surat kabar SAIT.  SAIT adalah penggabungan nama Sarekat Ambon Ina Tuni.

Surat kabar SAIT  tercatat sebagai surat kabar ketiga di Maluku setelah Penghentar (1894-1900),  dan Ambon Vooruit (1917-1919).  Meskipun SAIT kemudian dibreidel oleh Pemerintah Belanda di Ambon, SAIT  menjelma menjadi surat kabar dengan nama Mena Muria.  Mena Muria mengalami nasib yang sama, dilarang terbit.  Semua ini karena tulisan-tulisan yang tajam mengkritik pemerintah Belanda.

Saat ini, nama Ina Bala nyaris hilang dalam memori orang Maluku.  Sebagian besar kawula muda milenial tidak tahu tentang Ina Bala maupun Ina Tuni.  Bisa dimaklumi, sebab catatan dokumentasi tentang Ina Bala sangatlah minim.  Tulisan ini disusun dari berbagai informasi berserak.  Itupun harus selektif, sebab banyak data tidak akurat sehingga diabaikan. Beruntung masih ada saksi mata dari kalangan kerabat dekat, sesuai memori mereka.

Ina Bala tidak sendiri.  Ada banyak pejuang di Maluku yang tidak diingat lagi.  Orang bahkan negara gampang sekali melupakan pahlawannya.  Beruntung, di Karangpanjang Ambon, di sisi kiri Stadion Mandala Remaja, pemerintah mengabadikan nama Ina Tuni sebagai nama jalan.  Justru nama Ina Bala sama sekali tidak diabadikan di jalan manapun.

Ina Bala lahir di Hunuth, 15 Mei 1902.  Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Hunuth.  Sekolah Rakyat juga ditempuh di sini.  Nama aslinya Martha Latumahina.  Marga Latumahina didapat dari orang tuanya yang berasal dari Paperu, Saparua.  Ia masih memiliki pertalian darah dengan Geerits  Latumahina, yang kelak menjadi Gubernur Maluku.

Nama Martha Latumahina kurang dikenal sebab sejak remaja, ia sudah memakai nama Ina Bala.  Lantas ketika menikah dengan pria asal Abubu Nusalaut kediaman Lateri, Abraham Wattimena, ia lebih popular dengan nama Ina Bala Wattimena.

Ina Bala dan Abraham alias Tete Bang  mempunyai enam putera-puteri.  Mereka adalah Christina Latumahina, Rachel Wattimena, Benjamin Wattimena, Martha Wattimena, Yohanis Wattimena, dan Maria Yuliana Wattimena. Ina Bala juga merawat anak-anak dari keluarga sendiri yakni Pieter Latumahina, Martha Latumahina, dan Rekbi Latumahina.

Meskipun bertubuh kecil dan ceking, namun nyali seribu.  Dengan busana kain-kebaya Ambon sepanjang hidupnya, Ina Bala ke mana-mana selalu berjalan kaki dengan kaki isi.  Ia bisa berjalan dari jantung Kota Ambon sampai ke Gubernuran Mangga Dua.

Setelah Patty ditangkap, diadili, dan diasingkan keluar Maluku, Johannes Latuharhary menjadi pelanjut Patty.  Ina Bala tetap menjaga Ambon.  Ia menyokong seluruh kerja-kerja politik Latuharhary.  Setelah Indonesia merdeka, Gubernur Latuharhary harus meyakinkan orang Maluku untuk pertahankan kemerdekaan. Ina Bala selalu ada untuk Latuharhary.

Saking akrab sebagai kawan berjuang, Ina Bala bahkan menyapa Latuharhary dengan kata yang intim: Se! (Ose).  “Belum sumbayang lae, se su makang.  Lama-lama tasangko.  Sumbayang dolo,” tegur Ina Bala pada suatu kesempatan di restoran.  Latuharhary berhenti makan.  Ina Bala pun berdoa, barulah acara makan dilanjutkan.

Ina Bala juga kerap menelepon Latuharhary untuk minta dijemput.  Ada kalanya gubernur menjemput, lain waktu, tidak sama sekali.  Jika tidak dijemput,  Ina Bala memutuskan berjalan kaki saja.  Sambil berjalan, mendekati rumah gubernur di Mangga Dua, Ina Bala melontarkan kata-kata canda.

Biar se…..! Se seng bisa jemput beta. Beta berjuang par se, baru beta mau bajalan kaki, beta minta oto jemput beta, baru seng jemput. Angka lempar se! ujar Ina Bala saat berjalan kaki menuju rumah gubernur di Mangga Dua.

Apa yang disampaikan Ina Bala itu, bukanlah ungkapan kemarahan atau protes serius.  Ina Bala melontarkan ucapannya sebagai bentuk keintiman dengan sang gubernur.  “Ia mengucapkannya sambil tersenyum,”  ungkap Mathelda “Ice” Latumahina.  Ice masih punya pertalian darah dengan Ina Bala.  Ia sekaligus menjadi kawan berjalan, ke manapun.

Sebelum Indonesia merdeka, Ina Bala selalu berurusan dengan polisi Belanda, bahkan juga Jepang.  Akan tetapi, sekali pun dia tidak pernah ditahan.  Berbeda dengan pasangan perjuangannya, Patty yang berkali-kali diasingkan.  Patty diasingkan ke Makassar, Bengkulu, Ende, Digul, dan akhirnya Australia.

Jika dipanggil polisi Belanda, Ina Bala tidak gentar.  Dia pergi menghadap polisi. Biasanya Ina Bala mengajukan argumentasi yang kuat sehingga tidak ada alasan bagi polisi untuk menangkapnya.   Belanda memang memata-matai aktivitas Sarekat Ambon dan Ina Tuni.  Dua organisasi ini tidak mengdapat legalitas dari Pemerintah Belanda. Sebab itu, mereka tidak boleh menggelar pertemuan tanpa izin.

Dasar kepala batu, Ina Bala tetap punya cara untuk melaksanakan pertemuan. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan Ambon di rumahnya.  Di sana, ia mengajarkan ketrampilan masak-memasak dan jahit-menjahit.  Perempuan-perempuan yang dihimpun itu, bukan saja dari kalangan rakyat jelata, melainkan juga istri-istri tentara KNIL.

Pada saat semua sudah berkumpul, di sela kesibukan belajar masak dan jahit itulah, Ina Bala mengajarkan lagu Indonesia Raya, yang naskah lagunya dibawa dari Batavia, setelah Sumpah Pemuda.  Mereka bernyanyi dengan suara perlahan saja.

Spionase zaman Belanda selalu ada di mana-mana.  Sebab itu, laporan intelijen selalu menyebut Ina Bala sebagai tokoh berbahaya. Hal ini semakin nyata ketika Pengadilan Belanda di Makassar memvonis Patty bersalah dan diasingkan ke Bengkulu, praktis kursi Ketua Sarekat Ambon lowong.  Untuk mengisi kekosongan itu, Ina Bala tampil sebagai pemimpin sementara Sarekat Ambon.

Selain mendirikan surat kabar dan mengurus partai politik, Ina Bala juga dikenal sebagai penulis lagu.  Mars Sarekat Ambon atau lagu untuk menghormati Patty, adalah lagu gubahannya.   Liriknya sangat disiplin rima.  Patty-sejati-memberkati-mati.  Ama-tanah-sama-menang-genap-genap. Lirik lengkapnya termuat dalam buku Tokoh Inspiratif Bangsa:

Aleksander Jacob Patty
Dialah pemimpin kita yang sejati
Kami minta Tuhan tinggal memberkati
Akan dikau dari hidup sampe mati

Bangsa perempuan dari Ambon sana sini
Jadi kawan kemajuan, mari masuk Ina Tuni,
Sabar sebentar sampai akhir zaman
Tentu kelak Ina menang,
Tentu kelak Ina menang.

Mari Ina-ina serta juga ama-ama
Cinta bangsa, cinta tanah,
Tolong bantu sama-sama
Sabar sebentar sampai maksud menang
Maksud kita telah genap
Maksud kita telah genap.

Walau sudah banyak yang dilakukannya di kancah politik,  Ina Bala masih sempat mengabdi sebagai anggota majelis di Jemaat Gereja Protestan Maluku Lateri.   Ketika usia makin lanjut dan lebih banyak tinggal di rumah, Ina Bala masih belum benar-benar istirahat.  Ia masih mengerjakan sendiri kacang goreng dalam bungkusan kertas kerucut untuk dijualnya.

Ina Bala menghembuskan nafas terakhir, pada 20 Juli 1982 dalam  usia 80 tahun.  Ia dimakamkan di tempat pemakaman umum Lateri.  Anak-cucunya merawat makam dengan baik. (Malukupost.com)

Pos terkait