Legenda-Legenda Maluku Bertaburan Di Ganefo 1963

  • Whatsapp
Arnold Lisapally, Willy Tomasoa, Steve Mainake, Nicky Pattiasina, dan Paulus Pesurnay. Mereka adalah sebagian kecil dari legenda Maluku yang berpartisipasi di Ganefa 1963, di Jakarta (Foto fb AL-SS, wartanusantara.com./dokpri friendsky/fakehistorian/detik)
Arnold J. W. Lisapally dan Presiden Soeharto. Arnold adalah tokoh olahraga Indonesia yang bertahun-tahun mengurus kontingen Indonesia di SEA Games, Asian Games, sampai Olympic Games. Pada tahun 1963, ia memimpin kontingen atletik Indonesia di ajang Ganefo. (foto fb arnold lisapally dan saida saelan)

Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Steve Thenu dan Steve Mainake adalah dua pelari Indonesia yang ikut membuat Indonesia Raya berkumandang di megah Gelora  Bung Karno, tahun 1963.   Di ring tinju, giliran Frans Soplanit naik podium tertinggi.  Lagu kebangsaan kembali menggema.

Kontingen Indonesia di ajang Ganefo 1963, ditaburi bintang-bintang berwajah dan nama Maluku.  Sebagian  kelahiran Maluku,  sebagian lagi kelahiran Pulau Jawa, bahkan Banda Aceh.  Kilau Maluku ada di level olfisial,  pelatih, maupun atlet.  Ada yang meraih medali emas, perak, dan ada pula perunggu.  Sebagian  mereka sudah tiada, sebagian lagi memasuki usia senja, namun ada yang masih aktif. Bagaimanapun, mereka semua telah menjadi legenda.

“Onward! No Retreat!”  Maju Terus! Pantang Mundur! Demikian semboyan pesta olahraga Games of the New Emerging Forces (Ganefo) yang dihelat di Jakarta, 10-22 November 1963.  Ganefo digagas Presiden Soekarno dan inilah peran putra-putri Maluku untuk sebuah republik muda yang sedang bergolak di dalam dan di luar negeri.

Bermula dari Asian Games 1962 di Jakarta, tuan rumah Indonesia tidak undang dua anggota KOI, Israel dan Taiwan. Indonesia punya alasan solider dengan Tiongkok maupun Palestina.  Komite Olimpiade  Internasional (KOI) tidak sejalan dengan keputusan Bung Karno yang mencampur olahraga dan politik.

KOI lantas menghukum Indonesia tidak boleh ikut Olimpiade di Tokyo, 1964.  Dari situlah Presiden Soekarno menggagas Ganefo sebagai tandingan olimpiade.  Lebih-lebih, Indonesia sudah punya pengalaman menggelar Asian Games 1962.

Ganefo 1963 diikuti 51 negara Asia, Eropa, Amerika Latin, dan Afrika.  Tiongkok tampil perkasa sebagai juara umum dengan  65 medali emas,  56 perak, dan  47 perunggu. Uni Sovyet yang menurunkan atlet kelas dua, menempati posisi kedua dengan 39 emas, 20 perak, dan 8 perunggu. Indonesia di peringkat ketiga  dengan 17 emas, 24 perak, dan 30 perunggu.

Penelusuran Media Online Maluku Post pada dokumentasi Ganefo, ditemukan nama-nama Maluku berperan sebagai official, pelatih, maupun atlet.  Buku bertajuk Ganefo, Olimpiade Kiri di Indonesia mencantumkan nama-nama lengkap kontingen Indonesia.

Kontingen dipimpin Kolonel Jonosewojo, Kolonel Soewagio, dan Mayor Sorarjo.  Terdapat sepuluh staf pembantu, dua di antaranya bermarga Maluku yakni L. Tomasoa dan Ny H.T. Tomasoa.

Pada cabang olahraga sepakbola, ada dua nama Maluku sebagai pemain yakni Maurits Manuhutu dan A. Titaheluw.   Sedangkan cabang atletik, komandannya  A. J. W. Lisapaly.  Dari 16 atlet puteri, terdapat dua nama Maluku yakni Willy Tomasoa dan Flora Karmomyanan.

Dari 39 atlet putera cabang atletik, terdapat beberapa nama Maluku yakni Bram Soeselissa, Paulus Pesurnay, J. Pattipawae, Steve Thenu,  John Latuputty,  Nicky Pattiasina, Z. Lesnussa, dan Awang Papilaya.

Pada cabang olahraga tenis meja, terdapat pelatih Piet Syauta.  Cabang bola voli tidak ketinggalan, ada pelatih putera B. D. Tuwahatu, dengan staf offisial E. L. Wattimena.

Terdapat nama Maluku dalam jajaran atlet voli putri yakni Suzanna Rehatta,  Guus Rehatta, Deetje Tuwahatu, dan Conny Sapulette.  Sedangkan di kelompok putera, ada Zacharias Matitaputty dan Otto Laisina.

Pada cabang anggar, dari 18 atlet, terdapat satu nama Maluku yakni Max Sigarlaki.  Di cabang angkat besi, pemimpin regu  adalah W. Parinussa.  Gulat mengirim 16 atlet putera, satu di antaranya Jong Tamnge. Ada dua nama Maluku juga di cabang layar.  Mereka adalah atlet putera J. Matulessy,  dan E. S. Mahulette.

Cukup sulit untuk menemukan data prestasi lengkap para atlet berdarah Maluku di ajang Ganefo.  Namun prestasi emas Frans Soplanit dapat ditemukan di beberapa sumber, termasuk skripsi.  Petinju peraih medali perak pada Asian Games 1962 di Jakarta  Frans Soplanit,  juga menjadi andalan kontingen tinju Indonesia .    Frans meraih medali emas di Ganefo, dan inilah untuk pertama kali tinju Indonesia bisa merebut medali emas internasional.   Setelah Frans, barulah  muncul Wim Gomies.   Wim menjadi petinju Indonesia pertama yang meraih emas tinju Asian Games 1970 dan 1974

ATLETIK

Khusus pada cabang atletik, ditemukan nama-nama tenar asal Maluku. Selain Arnold J. W. Lisapally yang menjadi komandan tim atletik,  para atlet berkontribusi meraih medali emas, perak, maupun perunggu, dan berhak naik ke podium kehormatan.

Dari 21 atlet putera dan 12 atlet puteri yang diturunkan Indonesia pada cabang atletik, terdapat nama-nama Steve Mainake, Steve Thenu,  Z. Lesnussa, Willy Tomasoa, dan Flora Karmomyanan. Kelima putera-puteri Maluku ini bersaing dengan bintang-bintang internasional terutama dari Tiongkok.

Steve Mainake dan Steve Thenu adalah pelari cemerlang.  Pada babak final lari 4 x 400 meter putera,  keduanya bersama M. Aminuddin dan Agus Soegiri menjadi kwartet Indonesia yang sukses menyabet medali emas pertama di cabang atletik.  Indonesia Raya berkumandang berkat catatan waktu tercepat 3.20.6 menit yang mereka toreh.  Indonesia unggul atas pelari-pelari Philipina dan Kamboja.

Medali emas 4 x 400 meter putera tersebut melengkapi kejayaan Indonesia pada estafet 4 x 100 meter putera.  Kwartet Indonesia Jootje Oroh, Soenjoto, Mohammad Sarengat, dan  Bambang Wahyudi menyabet medali emas dengan catatan waktu 41.8 detik, terpaut 1 detik dengan kwartet Tiongkok yang meraih medali perak dengan waktu 41.9 detik.

Pertarungan sengit terjadi pada nomor lari 10.000 meter putera.  Pelari Mesir oussef Abdel Saoud masuk finis lebih dulu dengan catatan waktu 31.05.2 menit.  Pelari Maroko Saïd Gerouani Benmoha menyusul di belakangnya dengan waktu 31:09.0 menit.

Perebutan medali perunggu berlangsung bagai perebutan medali emas.  Pelari Lesnussa dari Indonesia berlari pada posisi sejajar dengan pelari Tunisia, Rachid.  Persaingan berlangsung sampai di garis finis.  Lesnussa dan Rachid akhirnya ditetapkan sebagai peraih perunggu setelah menoreh catatan waktu yang sama 32:51.1 menit.

Seorang gadis mungil bernama Willy Tomasoa asal Negeri Titaway, Nusalaut, dikenal sebagai pelari tanpa alas kaki.  Willy tampil di lintasan  atletik Gelora Bung Karno pada dua nomor berbeda.  Dari dua nomor tersebut, Willy mengalungkan sebuah medali perak dan sebuah medali perunggu.

Willy mencatat waktu 26.8 detik pada nomor lari 200 meter puteri.  Ia berada di belakang pelari Korea Sin Kim-dan (23.5) dan Tiongkok Chin Yihing (25.8).  Sedangkan pada nomor estafet 4 x 100 meter puteri, Willy memperkuat kwartet Indonesia.  Ia berlari bergantian dengan tiga pelari lain yakni Ernawati, Souratmi, dan W. Machwijar.  Willy dkk meraih medali perak dengan catatan waktu 50.5 detik, di belakang Tiongkok yang meraih medali emas dengan waktu  48.2 detik.

Masih ada satu perempuan Maluku yang berjaya di nomor field yakni Flora Karmomyanan.  Gadis asal Kampung Taar, Kota Tual, turun di nomor lempar lembing puteri.  Lemparannya sejauh 39,45 meter mengantarnya meraih medali perak.  Emas nomor ini diraih atlet Tiongkok Dong He (47,32 m), sedangkan perunggu diperoleh rekan Flora yakni Jeane Toar (39.31 m).

Ganefo hanya diselenggarakan sebanyak dua kali yakni di Jakarta (1963) dan di Kamboja (1966).  Sejak itu, Ganefo berhenti karena Indonesia sudah dipulihkan KOI dan boleh ikut Asian Games lagi.

Steve Mainake, legenda atletik Indonesia asal Maluku. Selain berjaya sebagai atlet dan pelatih bertangan dingin, Steve juga tetap mennjadi pengurus olahraga di Maluku sampai usia senja di kampung halaman di Amahusu, Ambon (foto dokpri friendsky mainake)

DI MANAKAH MEREKA?

Di manakah bintang-bintang atletik Indonesia asal Maluku yang berjaya di ajang Ganefo 1963?   Satu-satunya atlet yang sudah tutup usia adalah Flora Karmomyanan.  Guru olahraga di SMA Sanata Karya dan STM Siwalima Langgur itu tutup usia beberapa tahun silam, dan dimakamkan di kampung halamannya di Taar, Kota Tual.  Flora adalah  pelatih bertangan dingin yang mengorbitkan sprinter Agus Ngamel.

Steve Thenu berdomesili di Jakarta dan menjadi pelatih di Sekolah Ragunan.   Willy Tomasoa yang menjadi Nyonya Willy Tuapattinaya juga bermukim di Jakarta.   Ia bergerak di bidang media dan kegiatan sosial.  Z.  Lesnussa diketahui berdomesili di Kudamati Ambon, dan Steve Mainake kembali ke Amahusu, dan terus berkontribusi di dunia atletik, baik sebagai pelatih maupun pengurus.

Komandan tim atletik Indonesia saat itu adalah Arnold J. W. Lisapally.  Pria kelahiran Pekalongan, 1926 itu, merupakan salah satu tokoh olahraga Indonesia yang selalu mengabdikan diri untuk kemajuan olahraga nasional.   Ia mengurus kontingen Indonesia dari masa ke masa, sebelum tutup usia tahun 1999. (Malukupost.com/dok.genefo dan berbagai sumber)

Pos terkait