Laporan Rudi Fofid-Tual
Malukupost.com – Hanya ada lima sosok Maluku yang pernah menjabat menteri dalam kabinet-kabinet di Indonesia. Mereka bukan muncul sesaat lalu menghilang. Tokoh-tokoh Maluku ini memiliki riwayat nan heroik.
Berikut ini, sekilas para menteri yang dihimpun Media Online Maluku Post dari sumber Balagu.com dan Wikipedia:
PUTUHENA, MENTERI PERTAMA DARI MALUKU

Sosok pertama asal Maluku yang muncul dalam kabinet adalah Ir Marthinus Putuhena dari Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Dalam Kabinet Sjahrir I, Putuhena dipercayakan sebagai Menteri Pekerjaan Umum. Ia menggantikan Abikoesno Tjokrosoejoso yang pada kabinet pertama bentukan Presiden Soekarno, menjabat Menteri Pekerjaan Umum merangkap Menteri Perhubungan.
Kabinet Sjahrir I bertugas sejak 14 November 1945 sampai 28 Februari 1946, digantikan dengan Kabinet Sjahrir II dan III. Dalam tiga pergantian kabinet, Putuhena tetap dalam jabatan yang sama. Sampai kabinet Sjahrir III berakhir 27 Juni 1947, Putuhena sudah tidak menjabat menteri lagi.
Putuhena lahir di Ihamahu Saparua, 27 Mei 1901. Ia belajar di Saparoeasche School dekat Benteng Duurstede dan lulus tahun 1916. Tiga tahun ia menempuh pendidikan menengah di MULO Tondano. Setelah lulus tahun 1919, Putuhena masuk AMS Jurusan B (Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam) di Yogyakarta, sampai lulus tahun 1923.
Putuhena pindah ke Bandung, belajar di Technische Hooge School (THS) sampai tahun 1927 dengan gelar insinyur sipil. Putuhena tercatat sebagai putera pertama asal Maluku pertama alumnus THS Bandung. THS kemudian dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ketika diangkat menjadi menteri, Putuhena berusia 44 tahun. Ia ikut dalam pembubaran Negara Indonesia Timur (NIT) maupun perundingan dengan RMS. Putuhena tutup usia di Jakarta 20 September 1982, dalam usia 81 tahun. Ia dianugerahi bintang jasa tertinggi Mahaputera Utama.
LEIMENA, SANG PENJELAJAH KABINET

Dokter Johannes Leimena adalah sosok Maluku nan spektakuler. Ia hadir dalam 19 kabinet era Soekarno dalam rupa-rupa jabatan di kabinet. Mula-mula, dalam Kabinet Sjahrir II (12 Maret 1946-2 Oktober 1946 ) Leimena menjabat Menteri Muda Kesehatan. Pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946-27 Juni 1947), ia menjabat Wakil Menteri Kesehatan.
Pada tiga kabinet berikutnya yakni Kabinet Amir Sjarifuddin I, Kabinet Amir Sjarifuddin II, Kabinet Hatta I, Leimena menjabat menteri kesehatan. Setelah diselingi kabinet darurat tanpa sosok Maluku, Kabinet Hatta II mengangkatnya menjadi Menteri Negara. Ia kemudian kembali menjadi Menteri Kesehatan menggantikan Surono.
Jabatan Leimena selama di kabinet adalah wakil menteri kesehatan, menteri muda kesehatan, menteri kesehatan sebanyak delapan kali, Menteri Distribusi/Menteri Koordinator Distribusi sebanyak lima kali, menteri sosial, menteri negara, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan, serta enam kali sebagai Wakil Perdana Menteri (Wakil Menteri Utama/Wakil Menteri Pertama).
Leimena lahir di Ambon, 6 Maret 1905. Ia lulus Ambonsche Burgerschool di Ambon, lantas pindah ke Cimahi, Jawa Barat, ikut pamannya. Dari Cimahi ia ikut paman ke Batavia. Ia lulus Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) dan akhirnya masuk sekolah kedokteran sampai akhirnya jadi dokter.
Leimena adalah tokoh Jong Ambon, yang menjadi wakil sekretaris panitia Kongres Pemuda II di Jakarta. Leimena punya riwayat karier yang panjang. Karya abadinya adalah konsep puskesmas yang dikena sebagai Bandung Plan atau Leimena Plan. Ia juga menjadi Bapak Pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Untuk jasa nya yang besar, Leimena dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia.
PELLAUPESSY, SALAH SATU PERANCANG GARUDA

Setelah Putuhena dan Leimena, muncullah sebuah nama Maluku di jajaran kabinet yakni Melkianus Agustinus Pellaupessy. Salah satu karyanya nan abadi adalah ikut merancang lambang negara Burung Garuda bersama Muhammad Yamin, Ki Hadjar Dewantara, Mohammad Natsir, dan Poerbatjaraka.
Pria kelahiran Ihamahu, 15 Mei 1906 ini, pertama kali tampil di Kabinet Natsir (6 September 1950-27 April 1951). Dalam kabinet ini, Ia menjabat Menteri Penerangan sedangkan Leimena sebagai Menteri Kesehatan. Pada kabinet berikut yakni Kabinet Sukirman-Suwiryo, Pellaupessy dipercaya sebagai Menteri Kehakiman Ad Interim, dan kemudian menjabat Menteri Negara Urusan Umum. Sekali lagi, pada saat yang sama, Leimena juga sebagai Menteri Kesehatan.
SIWABESSY, SANG UPULERU

Prof. Dr. Gerrit Augustinus. Siwabessy adalah putera Maluku keempat dalam sejarah kabinet di tanah air. Ia sudah muncul pada era Soekarno, dan tetap dipertahankan oleh Presiden Soeharto.
Namanya muncul pada Kabinet Dwikora I (27 Agustus 1964-22 Februari 1966). Saat itu, Leimena menjabat Waperdam II dan Menteri koordinator distribusi Menteri, sedangkan Siwabessy dipercaya sebagai Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional.
Pada Kabinet Dwikora II, maupun Kabinet Dwikora III, ia pun menjabat Menteri/Dirjen Badan Tenaga Atom Nansional. 24 Februari 1966-28 Maret 1966. Pada masa transisi, Orde Lama ke Orde Baru, dua kali ia menjabat Menteri Kesehatan yakni pada Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II.
Ketika Presiden Soeharto mulai berkuasa sepenuhnya, dimulailah Kabinet Pembangunan I. Sosok dengan julukan Upuleru itu tetap dipertahankan sebagai menteri kesehatan, dan dilanjutkan ke Kabinet Pembangunan II.
Siwabessy lahir di Ullath, Saparua, 19 Agustus 1914. Ia meninggal di Jakarta, 11 November 1982, dan dikenal sebagai Bapak Atom Nasional.
ABDUL GAFUR, ORANG TERAKHIR

Abdul Gafur Tengku Idris adalah tokoh eksponen 1966. Ia menjadi orang kelima asal Maluku yang duduk di kabinet. Mula-mula Presiden Soeharto melantik putra Halmahera ini menjadi Menteri Muda Urusan Pemuda pada Kabinet Pembangunan III (31 Maret 1978-19 Maret 1983).
Pada Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988), Presiden mengangkat Abdul Gafur sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga. Ternyata, Abdul Gafur kemudian menjadi menteri terakhir di kabinet. Hingga kini, tidak ada lagi orang Maluku menjabat menteri.
Abdul Gafur adalah seorang anak Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ia menamatkan SMP di Ternate dan lulus SMA di Jakarta, dan meraih gelar dokter di Universitas Indonesia. Pria kelahiran Patani 20 Juni 1939 itu meninggal di Jakarta, 4 September 2020. (Malukupost.com)


