Kantor Bahasa Maluku Sarankan Ngurbloat Pertahankan Nama Rupabumi

Kepala Kantor Bahasa Maluku Sahril SS MPd di Pantai Ngurbloat Ohoi Ngilngof Kecamatan Manyeu Maluku Tenggara. Sahril sarankan penggunaan istilah Bahasa Kei di Pantai Ngurbloat. (foto zulhan angga tukan)
Kepala Kantor Bahasa Maluku Sahril SS MPd di Pantai Ngurbloat Ohoi Ngilngof Kecamatan Manyeu Maluku Tenggara. Sahril sarankan penggunaan istilah Bahasa Kei di Pantai Ngurbloat. (foto zulhan angga tukan)

Laporan Rudi Fofid-Langgur

Malukupost.com – Kepala Kantor Bahasa Maluku Sahril SS MPd mengagumi toponimi rupabumi di Ohoi Ngilngof Kecamatan Manyeu, Maluku Tenggara. Ia menyarankan pemerintah dan masyarakat setempat mempertahankannya, sebagaimana ditunjukkan di Pantai Ngurbloat.

“Bagus bahwa warga di sini mempertahankan nama Ngurbloat sebagai nama pantai, dan tidak menerjemahkannya menjadi pantai pasir panjang,” kata Sahril saat mengunjungi Pantai Ngurbloat, Selasa (9/2) petang ini.

Sahril menyebut UU Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial Pasal 12 menyebutkan bahwa peta dasar meliputi garis pantai, hipsografi, perairan, nama rupabumi, batas wilayah. Sedangkan toponimi  adalah bidang keilmuan dalam linguistik yang membahas asal-usul penamaan nama tempat, wilayah, atau suatu bagian lain dari permukaan bumi, termasuk yang bersifat alam buatan seperti kota, gedung, jalan, jembatan dan sebagainya.

Setelah melihat Pantai Ngurbloat, Sahril menyatakan, istilah-istilah Inggris dan Indonesia boleh tetap dipakai sesuai proporsi, namun istilah lokal dalam Bahasa Kei tetap menjadi daya tarik.

Menurut Sahril, jika turis asing melihat istilah cafe, beach, welcome, dan sebagainya, mereka merasakan hal itu biasa-biasa saja. Akan tetapi jika menggunakan nama dalam istilah lokal, mereka akan sangat tertarik.

“Ini era medsos sebab itu, nama lokal akan menarik bagi mereka yang datang dari tempat jauh,” kata Sahril.

Sahril memberi saran, dicarikan dalam bahasa Kei istilah rumah, pondok, kios, rumah makan lantas digunakan di Pantai Ngurbloat, akan memberi sensasi tersendiri bagi para turis.

“Pohon-pohon di sini pun diberi nama lokal dan internasional dan ditancapkan di bawah pohon. Jangan dipaku di batang pohon. Nah, istilah lokal dan internasional itu juga merupakan daya tarik,” pungkasnya. (foto zulhan angga tukan)

Pos terkait