BSNE-GSKI Pentaskan Tragedi Sasi Pertama Di Muka Bumi

  • Whatsapp
TRAGEDI KELAPA KENARI oleh Bengkel Sastra Maluku dan Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Malra-Tual

Laporan Rudi Fofid-Langgur

Malukupost.com – Sebuah pentas teater berjudul “Tragedi Kelapa Kenari” dipentaskan pagi ini di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Langgur, Sabtu (12/6). Teater pendek berdurasi setengah jam mengisahkan tragedi pelanggaran sasi pertama di muka Bumi.

Kisah “Tragedi Kelapa Kenari” dipentaskan oleh komunitas Bengkel Sastra Nuhu Evav (BSNE) bekerja sama dengan Gerakan Siswa Kristen Indonesia (GSKI) Cabang Malra-Tual.

Kegiatan ini untuk menyambut pelantikan pengurus baru GSKI Malra-Tual. Hadir pada kesempatan para pengurus DPC GSKI Tual-Malra diketuai Kace Ecep Ubro. Hadir pula Ketua DPD GSKI Maluku Hengky R Pelata SE dan Sekretaris DPD Maluku Doddi L.K Soselisa, SH dan Sekretaris Umum DPP GSKI Vernando Siahaan ST.

Tragedi Kelapa Kenari berkisah tentang sepasang manusia di taman pertama di Bumi. Di sana, pria bernama Bran Lalain (Max Dany Labetubun) hidup bahagia bersama Vat Lalain (Anugerah Manis Labetubun).

Sang pencipta taman, yakni Hian (Argonex Far-Far) meletakkan sasi adat di taman itu. Semua boleh dimakan, kecuali kelapa kenari bernama nuur mehen (Steven R.D Macora).

“Jika kalian makan, kalian akan mati,” kata Hian kepada Bran Lalain.

Ternyata, kebahagiaan Bran Lalain dan Vat Lalain terusik ketika ular bernama Rubai Laten (Muhamad Fahd Difinubun) datang menggoda. Akibatnya, Vat Lalain dan Baran Lalain melanggar sasi. Buah kelapa kenari dimakan. Inilah pelanggaran sasi pertama di bumi, akibat kabar bohong pertama di muka bumi, yang dilancarkan oleh ular.

Pentas teater “Tragedi Kelapa Kenari” oleh BSNE adalah sebuah kisah saduran dari kitab genesis pada perjanjian lama. Naskah ditulis oleh Oppa Rudi, pementasan disutradarai Revoo Komarudin dan Viencensia Maturan.

Sukses pentas ini tidak lepas dari kekompakan para pendukung yang berlatih selama tiga minggu. Mereka terdiri dari kelompok penyanyi Vincensia Maturan, Henrik Toatubun, Tirsanty Leonie Makisurat, Gracia Plena Belekubun, Enty Renyaan, dan Mira Kobarubun.

Pentas ini dikolaborasikan dengan kelompok penari. Penata tari Umi Hani Nuhuyanan-Kiky Renhoran menyiapkan penarinya tampil matang di panggung. Para penari adalah Wajid Nuhuyanan dan Delima Rahanar, ditopang penari Umel Dancer yakni Chuy Koedoeboen dan Herdy Koedoeboen.

Demikian juga pemeran lainnya Maikel Tharob, Imanuel J. Betaubun Stephanus F. Sabubun, dan Mahdi Difinubun yang sukses menjadi kabitan penjaga taman.

Pentas dikuatkan pula dengan dua kali penampilan rapper Gustavo Ngutra dari Rap of Psyco di tengah dan puncak pementasan, setelah pembacaan puisi “Kepada Hawa” karya Aan Mansyur, oleh Rubai Laten.

“Teater ini hanya mau memberi pesan, bahwa ular yang dulu di menggoda manusia pertama, masih hadir dalam bentuk hoaks-hoaks modern,” kata Muhammad Fahd Difinubun.

Sutradara Revoo Komarudin menyatakan, sukses pementasan juga tidak lepas dari penata musik Clinton Hukubun dan Noris Warbal. Musik memang ditata di studio, tetapi Noris tetap tampil menjadi pengiring panggung karena beberapa adegan tidak direkam di studio.

Menurut Ketua BSNE Muhammad Fahd Difinubun menyatakan, pentas “Tragedi Kelapa Kenari” akan dipentaskan lagi di beberapa tempat  lain di Tual dan Malra. (malukupost/foto andrey jacob).

Pos terkait