Pastor Böhm Dan Not Balok: “Sisanya Cari Sendiri”

  • Whatsapp
Pastor Cornelis Johannes Bohm MSC dan partitur Ave Maria. (foto rico ufie/mey rahawarin)
Rico Ufie

Catatan Rico Ufie-Ambon

Pada suatu sore di tahun 2009 atau 2010, saya melangkahkan kaki ke Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Katolik (STPAK) St. Yohanes Penginjil. Saya membawa partitur Ave Maria karya Anton Bruckner di tangan.

Saya ingin bertemu Pastor Böhm. Tujuan saya meminta kesediaan pastor “menterjemahkan” not balok yang ada di partitur itu ke not angkat. Waktu itu, saya belum menemukan partitur not angka dari lagu tersebut. Saya yakin, Pastor pasti akan membantu.

Setibanya di depan ruang kerja Pastor Böhm, saya ketuk pintu dan ucapkan salam. “Selamat sore, Pastor.”

“Selamat sore, mari masuk, ada yang bisa dibantu?” Pastor membalas dengan senyum khas yang selalu ia tunjukan ke semua orang.

Saya segera masuk, mendekat ke meja kerja Pastor.
“Pastor, saya mau minta tolong.” Saya langsung sodorkan partitur Ave Maria ke hadapannya.

“Wah, not balok ya?” Ucap Pastor.

“Iya, Pastor. Bolehkah ditulis not angkanya, Pastor? Biar bisa kami nyanyikan di gereja.”

“Hmmm…” gumam Pastor yang tampak sementara berpikir.

“Percuma saya tulis kalau tidak dinyanyikan,” ucap Pastor dengan aksennya yang khas sambil menatap saya.

Mendengar jawaban Pastor, semangat tinggi sebelum memasuki ruang kerjanya langsung anjlok.

Ternyata Pastor melihat perubahan ekspresi saya. Ia kembali menatap partitur. Diambilnya pensil yang tergeletak di atas meja, sambil mulai menulis pada partitur yang dipegangnya.

“Kalau ini sol,” ucap Pastor sambil mulai menulis.

Semangat saya kembali tumbuh.

“Sol… Sol… Sol… La… Sol…”, ucap Pastor sambil membunyikan tiap not-nya.

“Do… La… Sol… La… Sol…”, lanjut Pastor.

Saya serius mendengarkan dan menangkap bunyi yang keluar dari mulut Pastor.

Setelah membunyikan empat bar dari partitur tersebut, Pastor berhenti dan menatap saya.

“Selanjutnya, Pastor?” Pinta saya.

“Sisanya cari sendiri!” Balas Pastor sambil tersenyum.

Kecewa? Sudah pasti. Saya kecewa karena tidak semua not dalam partitur diterjemahkan oleh Pastor.

Sambil menyodorkan kembali partitur yang sudah dicoret-coret, Pastor tersenyum. Ia lantas berpesan, “kamu belajar yaa…”

“Siap, Pastor! Permisi, Pastor. Selamat sore.” Saya pun melangkah keluar dari ruang kerja Pastor.

Sekarang saya sudah bisa membaca not balok, suatu kemampuan yang mungkin biasa saja bagi mereka yang belajar musik.

Rasa ingin tahu dan pengalaman bersama Pastor serta pesan yang disampaikan menghantarkan saya pada upaya belajar mandiri.

Ada satu hal lagi yang sedari dulu ingin saya tanyakan ke pastor yaitu cara mengiringi nyanyian liturgi yang baik. Pada suatu malam, ketika Suara Palestrina Choir (SPC) latihan, Pastor datang. Ia mengiringi nyanyian gregorian yang sementara dilatih. Jemari Pastor memainkan keyboard dan menghasilkan bunyi yang menyatu dengan nyanyian.

Kisah di atas adalah dua di antara sekian banyak kisah yang saya alami bersama Pastor Böhm.

Pernah suatu saat, sekitar tahun 2008 saat Pastor ditugaskan sebagai Pastor Paroki Santo Joseph Rumahtiga, kami sedang berlatih paduan suara untuk persiapan misa hari Mingg. Pastor Böhm masuk ke gereja dan duduk melihat kami berlatih. Waktu itu gedung gereja belum sebesar gedung sekarang.

Mendengar kami yang saat itu bernyanyi dengan sembarangan, menggunakan “suara leher”, Pastor berdiri dan berujar. “Aduuhhh, kalian jangan bernyanyi seperti ini.”

Ia lantas mencontohkan cara membunyikan suara yang baik. Suara yang pastor hasilkan terdengar halus dan mengayun dengan lembut terlebih pada perpindahan ke nada tinggi.

“Buat suara kalian bergema di dalam mulut,” ujar Pastor sambil menggerakkan wajah dan mulutnya.

Tak berhenti di situ, Pastor lanjut memperbaiki pengucapan Bahasa Latin dari lagu yang kami latih.

“Pada salve, perbaiki pengucapannya. Bunyikan ‘ve’ bukan ‘fe’. ‘E’ bukan dibunyikan seperti ‘Seram’ (nama Pulau), tapi ‘seram’ (keadaan menakutkan). Pada Regina, ‘gi’ diucap ‘ji’, re(ji)na.” Begitulah Pastor membuat koreksi, pada malam itu. Ada banyak hal yang diperbaiki dan langsung dipraktekkan ketika kami bersamap-sama.

Di lain kesempatan, Pastor memperbaiki cara teman-teman yang akan bertugas sebagai Lektor.

“Awal kalimat, bawakan dengan lembut. Pada kata ini, tinggikan volume suara kamu. Berikan penekanan!” ujar Pastor sambil menggerakkan tangannya, ke atas dan ke bawah sesuai dengan intonasi yang dikehendaki dalam membacakan kalimat.

Perhatian dan ketelitiannya dalam segala hal, terlebih liturgi, kadang membuat kami para petugas liturgi stres. Akan tetapi begitulah sang gembala. Ia mempersiapkan segala sesuatu secara baik! Terlebih karena penghayatan dan penghormatannya yang teramat tinggi terhadap Perayaan Ekaristi.

Kemarin sore, saat berada di kampus, saya mendengar Pastor telah pergi selama-lamanya. Pastor yang baik itu telah berpulang.

Terima kasih Pastor atas ajaran dan pesannya.

Rumahtiga, 21 Agustus 2021

Penulis adalah anggota Suara Palestrina Choir

Pos terkait