“Blok Masela” Datang, Masyarakat Bertanya: Laut Kami Akan Jadi Apa?

AMBON, MalukuPost.com – Proyek strategis nasional Blok Masela kembali menjadi perhatian publik. Di balik janji investasi raksasa dan ribuan lapangan kerja, muncul kegelisahan yang perlahan tumbuh di tengah masyarakat pesisir Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya. Pertanyaan sederhana namun dalam mulai terdengar dari kampung-kampung nelayan: laut kami akan jadi apa?

Kegelisahan itu disampaikan akademisi Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si melalui refleksinya tentang Blok Masela dalam perspektif kesejahteraan sosial.

Menurutnya, masyarakat di dua kabupaten tersebut selama ini hidup dengan ketergantungan yang kuat terhadap laut dan tanah adat sebagai sumber utama kehidupan.

Setiap hari, nelayan melaut dengan perahu kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Para perempuan menjaga ekonomi rumah tangga melalui kebun, pasar, dan hasil laut. Sementara komunitas adat mempertahankan aturan tradisional yang selama puluhan tahun menjaga keseimbangan hubungan manusia dan alam.

Namun situasi itu mulai dibayangi ketidakpastian sejak hadirnya proyek gas raksasa Blok Masela.

“Di telinga sebagian warga, proyek ini terdengar seperti pintu keluar dari kemiskinan. Tapi di telinga yang lain, muncul kecemasan apakah laut yang selama ini menjadi dapur bersama akan dipagari,” tulis Hobarth, Minggu (17/5/2026).

Ia menilai, pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari besarnya investasi atau pertumbuhan ekonomi semata. Sebab bagi masyarakat pesisir dan adat, laut bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan bagian dari identitas hidup mereka.

Ketika wilayah tangkap nelayan menyempit karena kawasan industri, kata dia, masyarakat bukan hanya kehilangan penghasilan, tetapi juga kehilangan rasa memiliki terhadap ruang hidupnya sendiri. Begitu pula ketika tanah ulayat berpindah tangan, yang hilang bukan sekadar lahan, tetapi juga ruang ritual, sejarah keluarga, dan warisan leluhur.

Dalam kajiannya, Hobarth mengingatkan bahwa masyarakat Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya memiliki modal sosial yang selama ini menjadi penyangga kehidupan mereka. Solidaritas keluarga besar, budaya saling membantu, hingga mekanisme adat telah menjaga masyarakat bertahan di tengah keterbatasan layanan dan pembangunan.

Karena itu, ia menilai pembangunan yang tidak sensitif terhadap dinamika sosial berpotensi memecah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok yang saling berhadapan: antara yang mendukung proyek dan yang menolak, antara yang memperoleh pekerjaan dan yang tersisih.

Menurut Hobarth, keberhasilan Blok Masela seharusnya tidak hanya diukur dari nilai investasi atau jumlah proyek yang dibangun, tetapi sejauh mana masyarakat lokal benar-benar dilibatkan dalam menentukan masa depan wilayah mereka sendiri.

Ia mendorong adanya perlindungan hak ulayat, penguatan wilayah tangkap tradisional nelayan, investasi pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, serta mekanisme partisipatif yang memberi ruang masyarakat mengawasi dampak sosial dan lingkungan proyek.

“Jangan sampai kita silau oleh besarnya investasi, tetapi lupa menempatkan masyarakat sebagai inti dari pembangunan energi di Maluku,” tegasnya.

Pos terkait