Cerita Pendek: Perkusi Di Rumah Berpagar Gadihu

  • Whatsapp

Oleh Rudi Fofid

“Sei hale hatu, hatu lisa pei. Siapa bale batu, batu tindis dia!”  Aku pernah dengar kalimat ini pada album hip-hop Beta Maluku.  Para rapper dari Molucca Hiphop Community (MHC) menyanyikannya dengan penuh keramat.

Irama tifa dan gong lamat-lamat.  Riuh itu kian dekat dan nyaring.  Pasti ada sukacita di kota ini tetapi justru saat itulah, aku kecewa.  Ayah yang kuat, perkasa, punya riwayat kejayaan masa lalu,  sudah tidak bisa apa-apa.  Julukan singa forum, setan logika,  pendekar, panglima, dan segala kebesaran yang melekat padanya, kini tinggal kenangan.  Ayah bukan siapa-siapa lagi.  Lemah, penakut, hanya bisa jadi orang  payah dan kalah.

Gemerincing musik semakin dekat.  Aku keluar rumah.  Ayah sedang pangkas pucuk daun gadihu yang dibentuknya serupa bangku panjang.  Bangku itu  jadi pagar keliling pekarangan rumah.  Bentuk ini sudah ia pertahankan puluhan tahun.   Bahkan, rumah berpagar gadihu, sudah menjadi penanda rumah kami.

Tifa-gong bertalu-talu.  Puluhan sepeda motor dengan klakson meraung.  Orang-orang dengan busana warna-warni berdesakan di atas beberapa truk terbuka.  Begitu rombongan utama melintas di depan rumah kami, mereka kompak menyoraki ayah dengan sorak-sorai panjang.  Aku melihat jari kelingking dan jari tengah diarahkan kepada ayah.  Ada beberapa lemparan botol air mineral juga datang dari atas truk.  Beruntung,  tidak kena.

Aku pungut botol-botol plastik itu, manakala rombongan paling belakang sudah berlalu.

“Semua ini karena ayah tidak tuntas.  Ayah penakut.  Aku kecewa!” Akhirnya aku meletus.

Ayah berhenti menggunting  gadihu.  Ia turun duduk bersila di atas rumput.  Aku ikut duduk,  menunggu apa yang hendak  ia ucapkan.

“Semua persyaratan adat,  persyaratan administrasi, ayah sudah penuhi.   Keputusan siapa dilantik, itu bukan keputusan ayah,” ujar ayah dengan suara rendah.

“Hari ini, mestinya ayah dilantik menjadi  kepala kampung.   Akan tetapi, kau tahulah, pamanmu itu pandai  bermain arus dan ombak.  Dia gencar dekati orang di atas.  Dia juga bikin silsilah palsu,  seakan-akan dia keturunan garis lurus.  Padahal, kau tahu,  pamanmu itu bukan marga yang berhak.   Dia hanya bikin surat pergantian nama di pengadilan,”  kata ayah lagi.

“Kalau ayah tahu seperti ini, mengapa ayah diam saja?  Mengapa tidak melawan?”  Aku protes.

Ayah tersenyum.  Ia mengambil gunting, membersihkan sisa daun yang menempel di kedua bilah pisaunya.

“Ayah sudah tempuh seluruh mekanisme pemerintah, mekanisme adat,  sampai mekanisme  agama.  Camat,  kepala dinas,  kepala daerah,  semuanya sudah.   Kepala kampung,  tetua adat, juga sudah.  Moyang-moyang  juga sudah.   Tuhan yang di langit juga sudah,” katanya dengan suara pelan.

“Yah, tetapi apalah arti semua itu, kalau ternyata paman yang dilantik, bukan ayah!” Protesku berlanjut.

“Nyong! Dengar.  Sapa pung barang tinggal dia punya barang.  Sapa punya kursi,  tinggal dia punya kursi.  Itu sumpah orang tua-tua,” ucap ayah dengan bibir bergetar.

“Sumpah orang tatua.  Tetapi paman sudah langgar.  Mau apa?”  Aku bertanya lagi.

Ayah mengambil gunting rumput.  Ditancapkannya ke tanah.

“Sei hale hatu, hatu lisa pei.  Sei lesi sou, sou lesi ei.  Sapa bale batu, batu tindis  dia.  Sapa langgar sumpah, sumpah bunuh dia.  Pernah dengar?  Jangan sembarang!”  Ucap ayah dengan suara gelombang, tetapi bukan marah.

Aku merasa bersalah telah menganggap ayah sebagai lelaki lemah.  Ternyata, ayah yang mundur, yang diam, adalah ayah yang tetap alot.  Mundur tidak  berarti kalah.  Disingkirkan tidak berarti terbuang.

Ayah sudah tidak lanjut bicara.  Aku juga tidak tahu mau protes apa lagi.  Aku justru beralih melihat siaran langsung di youtube.  Pelantikan sejumlah kepala kampung di aula kantor kepala daerah.   Para pejabat kepala kampung dipanggil satu-satu, berdiri dalam satu barisan.

Sakit sekali melihat wajah paman, melangkah angkuh  maju ke muka.  Tanpa sadar, kepalan tanganku meninju tanah.

“Kalau nonton untuk menambah sakit hati, sebaiknya tidak usah nonton,”  kata ayah sambil berdiri melanjutkan pekerjaannya.

Giliran aku yang bingung.  Mau masuk ke dalam, melanjutkan nonton youtube demi mempertebal sakit hati, atau relakan saja.  Aku ikut ayah.  Tenang saja, berserah saja.

Maka dengan langkah cepat aku melewati zebra cross depan rumah, maksudku memberi rokok di kios seberang agar bisa santai di pekarangan rumah.  Saat kembali,  saking masih terbawa suasana, aku tidak mendengar sirene  meraung-raung.  Untung suara ayah dari balik pagar gadihu membuat langkahku terhenti.  Ambulans itu berlalu. Ayah geleng kepala.

Aku kembali duduk menyaksikan ayah sibuk-sibuk dengan gadihu. Baru dua tiga kepulan asap dari bibirku, suara sirene ambulans terdengar lagi.  Sejumlah mobil dan sepeda motor berjalan di belakangnya.  Aku melihat  wartawan-wartawan dengan kamera sedang mengambil gambar sepanjang jalan.

“Ada pesta pelantikan, dan ada pula dukacita.  Hidup ini  begitu sudah.  Suka dan duka berjalan seiring-sejalan,” kata ayah.

“Seorang calon kepala kampung meninggal dunia saat hendak disumpah dan dilantik di kantor kepala daerah, pagi ini,”  begitulah suara reporter dalam siaran pagi ini di youtube.

Wajah paman muncul di layar monitor.  Aku serahkan  gawai kepada ayah.  Ayah tidak tertarik.  Ia terus saja menggunting daun gadihu.  Daun-daun itu memang rajin tumbuh dan setia membatik.

Aku masuk ke kamar, mencoba melihat laporan-laporan wartawan dari tempat kejadian perkara.  Bunyi sirene sudah tidak terdengar.  Aku hanya mendengar gunting berbunyi.  Irama gunting rumput, bagai perkusi, sudah bertahun-tahun mengalun di rumah berpagar gadihu.

Aku teringat ungkapan tua yang diucap ayah.  “Sei hale hatu, hatu lisa pei. Siapa bale batu, batu tindis dia!”  Aku pernah dengar kalimat ini pada album hip-hop Beta Maluku.  Para rapper dari Molucca Hiphop Community (MHC) menyanyikannya dengan penuh keramat.

Gunung Nona, 30 September 2021

Pos terkait