Rekor Emma Tahapary Dan 12 Bintang Maluku, Masih Bertahan 10-37 Tahun

  • Whatsapp
Sebagian putera-puteri Maluku dari berbagai daerah yang masih memegang rekor nasional lari selama bertahun-tahun (foto/fb-kompas-memori atlit)


Laporan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Emma Tahapary, Henny Maspaitella, Martha Lekransy, Irene Joseph, dan Viera Hetharie sudah bukan lagi berstatus atlet. Demikian juga Alex Resmol, Julius Leuwol, dan Novi Persulessy. Mereka ini ratu dan raja lintasan pada masa lalu. Kini posisi mereka digantikan pelari lebih muda seangkatan Alvina Tehupeiory.

Meskipun begitu, jangan dikira mereka sudah tenggelam dan dilupakan dalam sejarah. Sembilan nama tersebut, dari Emma Tahapary hingga Alvina Tehupeiory, akan terus diperbincangkan dalam setiap kejuaraan atletik nasional, termasuk PON XX di Papua. Pasalnya, para pelari berbagai daerah akan berjuang menumbangkan rekor nasional yang digenggam bintang-bintang atletik tersebut.

Meskipun membela panji-panji berbeda pada zaman berbeda, putra-putri Maluku tersebut sudah menjadi legenda hidup. Mereka bahu-membahu mengharumkan nama Maluku di kancah nasional dan dunia dengan rekor-rekor spektakuler yang ditoreh.

Pelari Indonesia kelahiran DKI Jakarta Emma Tahapary tercatat sebagai ratu lari 400 meter nan spektakuler. Rekor nasional yang dibukukan di Manila, 1 Desember 1984 dengan catatan waktu 54,2 detik, belum terpecahkan. Rekor Emma sudah bertahan 37.

“Saya harap, pelari-pelari junior bisa memecahkan rekor ini karena sudah terlalu lama,” kata Emma saat ditemuinya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bukan hanya menggenggam rekor lari 400 meter selama 37 tahun. Rekor nasional lari 4 x 400 meter puteri oleh Emma dkk di Jakarta tahun 1985 sudah 36 tahun belum ditumbangkan para pelari di tanah air.

Emma tidak sendiri pada nomor estafet. Waktu itu Emma menjadi pelari terakhir untuk kwartet Indonesia. Putri Maluku kelahiran Surabaya Henny Maspaitella menjadi pelari pertama, disusul Nona Teon Nila Serua (TNS) Martha Lekransy, dan Indah Wahyuni. Emma menyentuh finis lebih dulu untuk memastikan rekor 03.42.25 menit yang masih bertahan hingga sekarang.

Rekor nasional yang bertahan lama di bawah 37 dan 36 tahun adalah kwartet Indonesia di nomor 4 x 400 meter. Di sana ada Arnold “Novi” Pelupessy. Ia menciptakan rekor tersebut di Singapura tahun 1993 bersama Elieser Watebosi, Don Bosco, dan Herman Balagaize. Rekor mereka 03:09,54 menit juga belum terpecahkan.

Ada dua raja lintasan jarak menengah yang juga melegenda. Putra Evav Alex Resmol yang berlari di nomor 800 meter, mencetak rekor nasional di Chiang Mai, tahun 1995. Rekor 01:49,9 menit sudah 26 tahun tidak terpecahkan.

Demikian pula pelari dari “dinasti atletik” di Saparua Julius Leuwol yang merajai lari 1.500 meter di Jakarta 1995. Catatan waktu rekor nasional 03:46,2 menit sudah 26 tahun belum dipecahkan pelari-pelari masa kini.

Perempuan tercepat Indonesia Irene Joseph adalah sebuah legenda lain. Rekor lari 100 meter 11,56 detik yang diciptakan di Bandar Seri Begawan, 1999, belum bisa dilampaui selama 22 tahun.

Irene juga pemegang rekor nasional lari 200 meter selama 20 tahun, sebelum dipatahkan Alvina Tehupeiory, yang saat ini menjadi tulang punggung Maluku dan Indonesia. Sukses Alvina mematahkan dominasi seniornya, membuat Alvina langsung masuk dalam jajaran legenda hidup atletik tanah air.

Sebuah nomor lari yang penuh tantangan yakni lari 400 meter gawang puteri, telah melahirkan seorang bintang yakni Viera Hetharie. Viera mengukir rekor nasional 59,65 detik di Palembang tahun 2011. Rekor itu belum terpatahkan selama 10 tahun.

REKOR PON

Selain rekor nasional, putera-puteri Maluku di berbagai daerah juga membukukan rekor PON yang bertahan din atas 20 tahun.

Irene Joseph masih menjadi ratu sprinter dari PON ke PON. Nona Kairatu ini pemegang rekor PON lari 100 meter (11,73 detik) dan 200 meter (23,98 detik). Kedua rekor PON sama-sama dicetak di Jawa Timur tahun 2000, sehingga sudah 21 tahun belum terpecahkan.

Irene Joseph dan Betharia Sahulata di tim DKI Jakarta yang berlari bersama Liesa Yunita dan Dedeh Erawati adalah pemegang rekor PON 4 x 100 meter. Rekor 45,93 detik diciptakan di Kalimantan Timur tahun 2008 sehingga sudah bertahan 13 tahun.

Alvina Tehupeiory, Reny Tehupeiory, Nining Souhaly, dan Vira Hetharie adalah kwartet Maluku pemegang rekor PON 03:46,18 menit, di Riau tahun 2012. Rekor tersebut masih relatif muda, baru sembilan tahun bertahan.

Sedangkan Julius Leuwol yang menguasai rekornas lari 1.500 m, juga masih memegang rekor PON di nomor spesialisnya itu. Catatan rekor 03:51,9 yang dibukukan di Jakarta, 1993, masih bertahan selama 28 tahun.

Tidak kalah spektakuler, rekor PON lompat jauh 7,64 meter, berada di tangan putera Maluku Yousan Lekahena yang membela panji-panji Jawa Barat. Rekor yang diciptakan di Jakarta, 1996, masih bertahan selama 25 tahun.

PON XX di Papua tahun ini akan tetap menjadi ajang perburuan medali sekaligus perjuangan melahirkan rekor-rekor baru. Gegap-gempita seremoni pembukaan, kiranya berlanjut pada gegap-gempita prestasi di lintasan maupun lapangan.

PON adalah ajang “membela daerah” tetapi sekaligus di sana, pentas seleksi kader bangsa. Semoga rekor-rekor legendaris ini bisa ditumbangkan para atlet milenial. Kalau sampai rekor-rekor ini tidak bisa pecah, maka itulah petanda, atletik kita masih berjalan 37 tahun lalu di belakang Emma Tahapary, Julius, Henny Maspaitella, Martha Lekransy, Julius Leuwol, Alex Resmol, Yousan Lekahena, dan “tetua” lintasan dan lapangan atletik. (Malukupost/PASI)

Pos terkait