SMK Kasih Theresia Hadir Menjawab Kebutuhan Pendidikan Di Pulau Kei Besar

SMK Kasih Theresia yang berlokasi pada SD Naskat Bombay Kecamatan Kei Besar, Kabupaten Maluku Tenggara. (Foto: Dokpri/Suaradamai)

Langgur, MalukuPost.com – Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kini hadir untuk menjawab kebutuhan pendidikan generasi di Pulau Kei Besar secara keseluruhan.

Sekolah kejuruan dengan nama SMK Kasih Theresia tersebut terletak di ohoi (desa) Bombay Kecamatan Kei Besar Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

Dikutip dari www.suaradamai.com, kehadiran sekolah yang bergerak di bidang pariwisata ini, menjadikannya sebagai SMK pertama di Pulau Kei Besar.

Selain itu, SMK Kasih Theresia merupakan sekolah kejuruan pertama yang membuka jurusan Ekonomi Perbankan di Malra.

Adalah Amon Fautngiljanan (alumni SMA Negeri 1 Maluku Tenggara) mendedikasikan dirinya di tanah leluhurnya untuk menggagas dan mendirikan sekolah dimaksud.

Putera asal Kepulauan Kei yang merupakan alumni Universitas Cenderawasih dan berpengalaman sebagai operator di sejumlah sekolah di tanah Papua tersebut mampu membangun jaringan di tingkat daerah hingga pusat.

Berbekal pengalamannya selama kurang lebih lima tahun sebagai operator sekolah dan berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris dan PGSD, Amon tergerak untuk mendirikan sekolah baru di Kei Besar.

Amon kemudian bekerja keras, bahkan harus menyisihkan sekian rupiah dari gajinya yang kurang dari Rp. 1.000.000 per bulan, untuk mengurus pendirian sekolah baru, dan SMK Kasih Theresia dinyatakan resmi berdiri pada tanggal 6 Juli 2021.

Dirinya punya alasan yang tepat untuk berjuang mendirikan SMK Kasih Theresia.

Pertama, sektor unggulan pembangunan di Malra adalah pariwisata, dimana daerah ini masih membutuhkan tenaga-tenaga terampil di bidang tersebut.

Kedua, kehadiran SMK di pulau Kei Besar dapat menjawab rentang kendali, dimana
sekolah yang terdekat bagi anak-anak Ratschaap Hoar Ngutru di Kei Besar adalah SMA Negeri 1 Malra yang terletak di Ohoi Elat.

Untuk sampai ke SMA yang berada di ibukota Kecamatan Kei Besar yakni Elat dengan jarak sekitar 4-15 km tersebut, anak-anak Hoar Ngutru harus merogoh kocek hingga Rp. 780.000 hingga Rp. 1.040.000 per bulan hanya untuk biaya transportasi.

Ketiga, untuk mengurangi angka putus sekolah. Menurutnya, anak-anak Bombay memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan anak-anak Elat dimana setiap tahun terjadi tawuran, karena lokasi SMA Negeri 1 Elat terletak di wilayah adat Ratschaap Hoar Ngutru, sering terjadi pemasangan “sasi” yang berakar dari perkelahian antar siswa.

“Dampak dari itu, angka putus sekolah di wilayah kami yakni Bombay dan sekitarnya sangat banyak, bahkan tertinggi bahkan,” katanya.

Diketahui, salah satu syarat pendirian SMK adalah ada dukungan dari instansi terkait, dan itu telah dimiliki oleh sekolah yang berada dibawah naungan Yayasan Kasih Antonius Maluku Tenggara dimana Amon Fautngiljanan selaku pimpinan yayasan dimaksud.

Persyaratan intansi pemerintah tersebut yakni Izin Usaha (izin Pendirian Program Atau Satuan Pendidikan) dari Gubernur Maluku.

Dokumen Perizinan Intansi Pemerintah

Dalam izin usaha tersebut disebutkan Berdasakan ketentuan Pasal 19 ayat (2) dan Pasal 32 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2018 tentang Pelayanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara elektronik, untuk dan atas nama Meneteri, Pimpinan Lembaga, Gubernur, Bupati/Walikota, Lembaga OSS menrbitkan Izin Usaha Izin Pendirian Program Atau Satuan Pendidikan kepada Yayasan Kasih Antonius Maluku Tenggara dengan Nomor Induk Berusaha : 0220204770113 (Tanggal Terbit Izin Usaha Proyek Pertama 6 Juli 2021, Perubahan Ke-4 tanggal 1 Juli 2021).

Berikutnya, Rekomendasi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kabupaten Maluku Tenggara Nomor 420/052/2021 tertanggal 11 Juni 2021, dan Surat Pemenuhan Komitmen Nomor 503/0/SPPL/VI/2021 dari Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Maluku Tenggara tertanggal 22 Juni 2021.

Sementara dukungan dari sejumlah Kepala-kepala Ohoi (Desa) juga disampaikan dalam Surat Pernyataan Dukungan (bermeterai) kepada pihak Yayasan/SMK Kasih Theresia, diantaranya Kepala Ohoi Sirbante, Pj. Kepala Ohoi Soindrat dan Kepala Ohoi Ngat.

Persyaratan lainnya yakni adanya dukungan dari instansi swasta/perusahaan lainnya, dan itupun telah dimiliki oleh pihak SMK Kasih Theresia dimana kurang lebih ada 14 perusahaan dan lembaga yang mendukung SMK Kasih Theresia, yakni Asita, Pata Indonesia, BPPD Malra, PHRI, RRI Tual, Bank Mandiri Cabang Langgur, dan Ngurbloat Beach/APDW, Rumah Kreatif BUMN PT. Telkom, Bukit Indah, Exotikei, Dinas Pariwisata Malra, Times Indonesia, PT. Pelni Cabang Tual, dan Paroki Hati Kudus Yesus Bombay.

“Jadi, selain dari pemerintahan, swasta dan gereja juga mendukung. Rata-rata perusahaan/lembaga ini kantor pusatnya di Jakarta,” bebernya.

Kini, SMK Kasih Theresia Bombay memiliki dua jurusan, yaitu Usaha Perjalanan Wisata (UPW) dan Ekonomi Perbankan.

Untuk jurusan Usaha Perjalanan Wisata bertujuan untuk menghasilkan tenaga-tenaga profesional yang mampu membuat usaha perjalanan wisata melalui paket-paket wisata, sementara dibukanya jurusan Ekonomi Perbankan karena Malra belum memiliki sekolah yang membuka jurusan tersebut.

“Jadi biarkan kami yang pertama,” ujarnya.

Meskipun SMK Kasih Theresia kini telah memiliki lahan untuk pembangunan sekolah, namun karena belum adanya gedung maka saat ini bangunan SD Naskat Bombay digunakan sebagai kegiatan belajar mengajar, dimana anak-anak SD di pagi hari, dan siangnya untuk siswa SMK.

Penggunaan SD Naskat Bombay tersebut telah mendapat izin dari pihak Gereja Katolik Keuskupan Amboina, Kepala Sekolah, dan Penjabat Kepala Ohoi Bombay.

Terkait penerapan kurikulum, SMK Kasih Theresia memprioritaskan pelajaran jurusan dari pelajaran umum dengan menerapkan sistem 75 persen praktek dan 25 persen teori dalam kurikulumnya.

Dijelaskannya, ketika memasuki dunia kerja (usaha) maka dibutuhkan tiga hal yakni
kemampuan berbicara di depan umum, kemampuan mengoperasikan komputer, dan kemampuan berbahasa asing.

“Kalau kegiatan ekstrakulikuler sekolah lain adalah pramuka, olahraga, dan lain-lain. Kami di SMK ini tiga hal itu yang diprioritaskan. Kami sudah masukkan dalam kurikulum sehingga setiap hari Sabtu, semua siswa wajib mengikuti tiga kegiatan tersebut,” tandasnya.

Selain itu, SMK Kasih Theresia juga akan menyediakan Tempat Ujian Kompetesi (TUK) selain menilai siswa berdasarkan keahliannya di jurusan, agar nantinya ketika para siswa lulus, mereka tidak hanya dapat ijazah, tetapi juga sertifikat kompetensi SMK, bahasa Inggris, Komputer, dan Public Speaking.

“Satu ijazah tambah empat sertifikat, saya pikir, cukup bagi lulusan untuk mencari pekerjaan,” tukasnya.

Untuk mendukung pengembangan kompetensi berbahasa Inggris, pihaknya akan mendatangkan penguji dari Bali untuk menguji kemampuan berbahasa Inggris, dalam rangka mendapat sertifikat TOEFL atau IELTS.

“Empat dosen dari Australia sudah siap mendukung program ini. Tujuannya cuma satu, ketika lulusan tidak mau kerja dan mau lanjut kuliah, maka sertifikat TOEFL dan IELTS ini menjadi kunci bagi mereka untuk mengakses beasiswa di dalam maupun luar negeri,” ungkapnya.

Ditambahkannya pula, , jika para siswa berproses dengan baik di SMK Kasih Theresia, dan orangtua mendukung dalam segala hal termasuk mendorong anak ke sekolah, membantu pihak sekolah serta hal lain dalam mengembangkan kapasitas,, maka siswa lulusan SMK Kasih Theresia tidak akan kesulitan mencari pekerjaan.

“Saya jamin siswa ketika selesai itu, pekerjaan yang cari dia. Bukan dia yang cari pekerjaan. Karena strategi ini sudah diatur secara matang berdasarkan pengalaman saya dan beberapa teman,” tukasnya.

Pengalaman yang dimaksudkannya adalah niat berusaha yang tinggi dimana dia bersama sejumlah teman yang menjadi tenaga pengajar di SMK Kasih Theresia, pernah mendapat beasiswa untuk ke perguruan tinggi.

“Kami ini sudah sebagai bukti bahwa, tanpa uang tetapi kita punya kemampuan, pemerintah pasti bantu kita. Kita memang tinggal di kampung, tapi kita tidak kampungan. Dulu itu kami anak-anak kampung sekolah di kota. Akan ada saat anak-anak kota datang cari pendidikan di kampung. Karena di sana ada sesuatu yang beda. Jadi kami beda dengan sekolah lain. Kalau kami tampil sama saja untuk apa sekolah ini dibuka? Kami bawa nuansa yang beda,” tegasnya.

Untuk diketahui, pada tahun ajaran 2021/2022 ini, SMK Kasih Theresia sudah memiliki sekitar 25 sampai 30 siswa angkatan pertama dan tenaga pengajar sebanyak 22 orang.

 

Pos terkait