Si Cantik Bungur Berjuang Rawat Karakter Botani Kota Ambon

  • Whatsapp
Setangkai bunga bungur yang sedang mekar di Ambon (foto nicho tulalessy)

Catatan Rudi Fofid-Ambon

Malukupost.com – Nicho Tulalessy dan Rico Ufie adalah dua seniman di Ambon. Tulalessy merintis Ambon Ukulele Kids Community (AUKC) yang terkenal sampai ke manca negara. Ufie membina paduan suara gereja, sampai meraih predikat champion Perparani Katolik se-Indonesia. Meskipun di jalur berbeda, kesamaan menggeluti seni bisa membuat kesamaan respon terhadap pohon penghias kota.

“Selamat pagi..selamat bahagia di cuaca yang cerah dari kota Ambon Manise..terimakasih utk orang2 yang tanam bunga ini di tepi jln kota Ambon..kita juga punya pohon bunga yang manis ini 💚💐”.

Demikian Nicho Tulalessy menulisnya status facebook hari Selasa, 14 Desember 2021. Beberapa orang memberi komentar, minta bibit, usul lokasi tanam, dan menyebut nama tabebuya dan bungur. Tulalessy tidak menulis nama bunga. Dia hanya menyiarkan beberapa foto pohon yang sedang berbunga, dan menyebutnya “bunga ini”.

Tiga tahun sebelumnya, Rico Ufie yang kini mengajar di Politeknik Negeri Ambon, juga menggunakan istilah “bunga ini”. Melalui akun facebook, 28 November 2018, Ufie menyiarkan beberapa foto dan menulis komentarnya.

“Beta sementara membayangkan, seandainya pohon ini tumbuh berjejer di salah satu jalan di Kota Ambon. Mungkin ketika pohon ini berbunga, lokasinya akan viral seperti jalan di Kota Surabaya yang sekarang lagi viral. Foto ini diambil di depan gedung Perum Percetakan Negara RI, Jl. Dr. Setiabudi, Kota Ambon,” tulis Ufie.

Curah pikiran dan perasaan Tulalessy maupun Ufie bolehlah mewakili rasa keindahan banyak orang. Para perancang tata kota era Belanda memang merias kota jajahan menjadi kota yang cantik estetis. Sebab itu, pohon-pohon berbunga menjadi salah satu andalan.

Selain pohon-pohon berkayu seperti mahoni, Kota Ambon sejatinya dirias dengan pohon flamboyan dan pohon bungur. Sepanjang musim kemarau, pohon-pohon flamboyan akan menyuguhkan warna merah, sedangkan bungur menyodorkan pesona ungu.

Bungur (Lagerstroemia speciosa) adalah tanaman asli benua Asia. Sering orang keliru menyebutnya tabebuya. Padahal tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) berasal dari Brazil dan bukan tumbuhan asli Asia sebagaimana bungur.Tabebuya tergolong famili Bignoniaceae, sedangkan bungur dari famili Lythraceae. Perbedaan prinsipil pada bunga yakni tabebuya tergolong jenis bunga terompet, sedangkan bungur mempunya susunan helai yang melingkar tetapi tidak utuh.

Pohon Bungur di Jalan Setia Budi Ambon, ketika diabadikan Rico Ufie, tiga tahun lalu.
Pohon Bungur di Jalan Setia Budi Ambon, ketika diabadikan Rico Ufie, tiga tahun lalu.

TERUS TERANCAM

Kota Ambon pada mulanya adalah satu kawasan yang berpusat di Benteng Nieuw Victoria, lengkap dengan Esplanade (lapangan terbuka, sekarang Lapangan Merdeka). Sebelah utara adalah Teluk Ambon, sebelah selatan meliputi Belakang Soya sampai Batu Gajah. Di sebelah timur ada Batumerah, sedangkan sebelah barat ada Pohon Pule dan Waihaong. Jadi, pada mulanya Ambon hanyalah pemukiman antara Sungai Batumerah dan Sungai Batugajah.

Ambon yang kecil mungkil semakin cantik dengan aneka tanaman kayu, perdu, dan pohon berbunga. Di sisi kiri dan kanan Jalan Grooteolifan Straat (sekarang jalan Pattimura) terus membelok di Batumeja sampai Batu Gajah dipenuhi pohon bungur. Ada aksentuasi di Batu Gajah karena di sana ada Hotel Park dengan tanaman hias yang lebih bervariasi.

Sejak Ambon tumbuh paksa karena semua orang berorientasi ke pusat pemerintahan, pendidikan, dan ekonomi, urbanisasi tidak terelakkan. Ambon makin penuh beban. Pada masa Presiden Soeharto, gusur-menggusur demi kepentingan umum adalah harga mati. Demikianlah jalan-jalan di Kota Ambon diperlebar.

Ketika jalan-jalan diperlebar, korban pertama adalah trotoar dengan tanaman yang berdiri di atasnya. Akibatnya, tanaman yang sudah berusia puluhan hingga seratusan tahun ditebang dalam sekejap. Sisa-sisa pohon bungur yang masih bertahan dari “ganas” mesin pembangunan bisa ditemukan di Jalan D.I. Panjaitan, Jalan Ahmad Yani, dan Jalan Dr Setiabudi. Selebihnya hanya tinggal kenangan.

Meskipun terancam dari masa ke masa, setiap tahun bungur memberi isyarat keindahan. Bunga-bunga dengan pesona ungu tua dan ungu muda di beberapa ruas jalan Kota Ambon, memberi semacam kode bahwa keindahan ini jangan sampai berlalu. Bulan November-Desember adalah puncak pembungaan yang hebat.

Bila ingin menikmati keindahan bungur, datanglah ke depan Stasion RRI Ambon, memandang ke kiri-kanan, kemudian melangkah ke Jalan Setiabudi. Berhentilah di depan Kantor Percetakan Negara. Di sana, bungur akan memancarkan keramahannya yang ungu, gratis.

Penggusuran oleh pelebaran jalan dan penebangan bungur pada akhir 1970an-an, telah menyebabkan bungur diganti akasia. Akasia pun bertahan hanya sekitar 15 tahun, diganti lagi dengan linggua. Pada beberapa ruas jalan, linggua pun digusur oleh trembesi.

KOTA TANPA KARAKTER BOTANI

Ketika Kota Surabaya menjadikan pohon tabebuya sebagai ikon baru, apakah Ambon harus “iko modo” tanam tabebuya juga? Tidak masalah, tetapi di manakah karakter botani Kota Ambon. Silih berganti tebang dan tanam pohon peneduh sekaligus tanaman yang memberi keindahan di Ambon telah menyebabkan Ambon kehilangan keunikan botani.

Secara terpadu, Pemerintah Provinsi Maluku pada masa Gubernur Akib Latuconsina menetapkan kawasan sagu dan mangrove di Tawiri. Begitu orang keluar dari Bandara Pattimura, melewati Jembatan Tawiri, hamparan sagu di kiri dan mangrove di kanan bagai mengucapkan selamat datang.

Hative Besar, Wayame, Rumahtiga Poka dengan aneka tanaman buah-buahan terutama gandaria, akan menjanjikan pesona lain. Pada level perdu, lebih dari 100 jenis tanaman gadihu menawarkan pesona pagar tanaman sepanjang jalan. Mangrove sepanjang bibir Teluk Dalam, dari Poka memutar Passo sampai Halong, adalah keunikan estuari. Selanjutnya cengkeh, flamboyan, pohon pule, linggua, akan menuntun masuk jantung Ambon.

Ambon perlu secara berani menetapkan satu atau dua jenis pohon yang cocok untuk memberi keteduhan dan kesejukan, tetapi juga keindahan. Pohon bungur dan flamboyan terbukti cocok untuk itu. Jika ingin menambah satu jenis lagi, maka pohon kenanga adalah sebuah pilihan. Pohon kenanga pertama kali dilaporkan secara ilmiah oleh G. E. Rumphius ketika sang ilmuwan buta itu menemukan kenanga tumbuh di Pulau Ambon. Tanaman berbunga harum tersebut tentu bisa menjadi kombinasi yang unik.

Bagaimanapun, Ambon perlu melakukan upaya sadar untuk membangun karakter botani yang khas. Sebagai bandingan, Pulau Tidore adalah sebuah pulau yang secara spontan, telah tumbuh menjadi pulau bogenvil. Di semua rumah, kantor, sekolah, pasti ada bogenvil. Bermacam-macam bentuk dan warna bunga bogenvil tak pernah bersolek demi kecantikan Tidore.

Di Tual dan Langgur, pemerintah, swasta, dan prakarsa masyarakat telah membuat jumlah pohon flamboyan semakin banyak. Flamboyan ada di mana-mana, di ruas jalan strategis. Flamboyan memang teruji sanggup bertahan pada musim kemarau paling ekstrem sekalipun. Justru saat-saat ekstrem itu, flamboyan berbunga semerah saga. Tanah Kei sedang bersolek, sebentar lagi akan menjadi Negeri Flamboyan. Sio! (Malukupost.com)

Pos terkait