Maluku Sudah Punya Surga Wisata, Kini Saatnya Dikelola Secara Profesional

AMBON, MalukuPost.com – Hamparan laut biru, gugusan pulau eksotis, pasir putih yang membentang panjang, hingga kekayaan sejarah rempah menjadikan Maluku sebagai salah satu daerah dengan pesona wisata paling lengkap di Indonesia. Dari Banda Neira yang mendunia karena jejak sejarahnya, Pantai Ora di Seram yang dijuluki surga tersembunyi, hingga Teluk Ambon yang dikenal para penyelam internasional sebagai surga bawah laut, Maluku sesungguhnya menyimpan kekayaan yang sulit ditemukan di tempat lain.

Namun di balik keindahan itu, Maluku masih menghadapi satu persoalan besar, yakni bagaimana menjadikan seluruh potensi tersebut benar-benar hidup sebagai kekuatan ekonomi daerah. Promosi wisata memang terus dilakukan dari tahun ke tahun, wisatawan mulai berdatangan, bahkan nama Maluku semakin dikenal di luar negeri. Tetapi pertumbuhan sektor wisata dinilai masih berjalan lambat karena banyak destinasi belum dikelola secara profesional dan belum ditopang ekosistem pariwisata yang kuat.

Di tengah kekayaan alam yang dimiliki, sebagian destinasi wisata di Maluku hingga kini masih menghadapi berbagai persoalan mendasar. Mulai dari fasilitas yang terbatas, akses transportasi yang belum pasti, tingginya harga tiket, hingga pengelolaan kawasan wisata yang dinilai belum mampu memberi kenyamanan maksimal bagi wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Melky Lohy, menilai tantangan terbesar pariwisata Maluku saat ini bukan lagi sekadar memperkenalkan destinasi kepada dunia, melainkan memastikan wisatawan yang datang merasa nyaman, mendapatkan pengalaman berkesan, lalu kembali lagi membawa cerita tentang Maluku.

“Harapan kita ketika orang datang ke Maluku, mereka bisa menceritakan pengalaman itu kepada orang lain dan membuat semakin banyak orang datang lagi. Tetapi kalau melihat tren perkembangan wisata, pertumbuhannya masih cukup lambat,” kata Lohy diruang kerjanya, kamis (21/5/2026).

Menurutnya, Maluku memiliki banyak destinasi unggulan yang sebenarnya mampu bersaing dengan daerah wisata lain di Indonesia. Mulai dari Banda, Pantai Pasir Panjang di Kei, Ora di Seram, Welora di Maluku Barat Daya, hingga destinasi di Buru, Buru Selatan dan Kepulauan Tanimbar.

“Potensi kita luar biasa, tetapi pengelolaannya belum dilakukan secara profesional sebagai industri pariwisata,” ujarnya.

Lohy menegaskan pengembangan pariwisata Maluku ke depan tidak lagi bisa dilakukan dengan cara-cara konvensional dan parsial. Seluruh destinasi wisata harus mulai dibangun dengan pendekatan industri pariwisata yang terintegrasi.

“Tugas kita bukan hanya membuat orang datang ke Maluku, tetapi membuat mereka jatuh cinta dan ingin kembali lagi,” tegasnya.

Ia mengaku sejak dilantik sebagai Kepala Dinas Pariwisata, dirinya mulai membangun komunikasi dengan berbagai organisasi dan komunitas wisata seperti PHRI, ASITA, GENPI, HPI hingga komunitas diving untuk memetakan berbagai persoalan sektor wisata di Maluku.

Salah satu masalah paling mendasar menurutnya adalah tingginya harga tiket dan lemahnya konektivitas menuju destinasi wisata unggulan di Maluku.

“Kalau orang mau datang menikmati keindahan Maluku, kadang biaya perjalanan lebih mahal dibanding ke luar negeri. Ini menjadi tantangan serius,” katanya.

Menurut Lohy, persoalan konektivitas menuju Banda, Ora dan sejumlah destinasi lainnya membuat wisatawan belum mendapatkan kepastian perjalanan yang baik.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku mulai mendorong pembangunan ekosistem pariwisata yang lebih terintegrasi, mulai dari penguatan destinasi, transportasi, sumber daya manusia hingga kerja sama dengan pelaku usaha.

Salah satu langkah yang kini diprioritaskan adalah pengembangan Pantai Liang Hunimua sebagai destinasi wisata unggulan di Pulau Ambon.

Menurut Lohy, Pantai Liang memiliki potensi besar untuk menjadi ikon wisata Maluku, namun pengelolaannya masih jauh dari pendekatan industri pariwisata modern. Bahkan abrasi mulai mengancam garis pantai di kawasan tersebut.

“Kalau tidak mulai ditata sekarang, Pantai Liang yang indah ini bisa menjadi kenangan,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya juga terus mendorong Banda Neira agar masuk dalam kategori Destinasi Super Prioritas Nasional karena dinilai memiliki kekayaan wisata sejarah, budaya, bahari dan religi yang sangat lengkap.

“Kalau Banda masuk Destinasi Super Prioritas Nasional, maka pengembangan pariwisata Maluku tidak lagi menjadi mimpi, tetapi menjadi kenyataan,” katanya.

Ia optimistis jika seluruh pihak bergerak bersama membangun ekosistem wisata yang profesional, maka Maluku tidak hanya dikenal sebagai negeri yang indah, tetapi juga menjadi destinasi unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi daerah dan mensejahterakan masyarakat.

Sebab bagi Melky Lohy, Maluku tidak kekurangan keindahan. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian membangun, menata, dan memperlakukan pariwisata sebagai masa depan ekonomi daerah yang harus dikelola secara serius.

Di tengah ombak, pulau-pulau kecil dan jejak sejarah yang dimiliki, Maluku sesungguhnya telah memiliki semua syarat menjadi destinasi kelas dunia. Kini, tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi itu tidak lagi hanya dipandang indah, tetapi benar-benar hidup dan memberi kesejahteraan bagi masyarakat.

Pos terkait