Perjuangan Senyap HL: Mengubah Nasib Maluku Dengan Data dan Fakta

AMBON, MalukuPost.com – Di tengah berbagai kritik dan keraguan yang berkembang terhadap kepemimpinan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, perlahan mulai muncul pandangan lain yang menilai bahwa perubahan besar di Maluku sebenarnya sedang dibangun secara senyap melalui kebijakan strategis dan pendekatan berbasis data.

Pandangan itu disampaikan akademisi sekaligus pengamat kebijakan publik, Dr. Hobarth Williams Soselisa, S.Sos., M.Si, Minggu (24/5/2026), yang menilai Hendrik Lewerissa atau HL bukan tipe pemimpin yang bekerja dengan banyak retorika politik.

Menurut Hobarth, HL lebih memilih membangun fondasi pembangunan jangka panjang yang dampaknya baru akan benar-benar dirasakan beberapa tahun mendatang.

“Memimpin Maluku itu ibarat mengemudikan kapal besar di tengah ombak. Tidak bisa dibelokkan secara tiba-tiba. Butuh strategi, kesabaran, dan kerja yang terukur,” kata Hobarth.

Ia menjelaskan, HL menghadapi kondisi fiskal daerah yang tidak mudah sejak awal memimpin Maluku. Ketergantungan terhadap dana transfer pusat yang mencapai sekitar 75 hingga 85 persen membuat kemampuan keuangan daerah sangat terbatas.

Belum lagi, APBD Maluku tahun 2025 yang hanya berkisar Rp2,87 triliun diproyeksikan turun menjadi Rp2,41 triliun pada tahun 2026 akibat kebijakan efisiensi nasional.

“Dalam situasi seperti itu, beliau tidak memilih mengeluh. Justru kedekatan dengan pemerintah pusat dipakai untuk memperjuangkan kepentingan Maluku,” ujarnya.

Salah satu langkah yang dinilai paling strategis adalah perjuangan HL dalam mendorong perubahan formula Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah kepulauan.

Selama ini, kata Hobarth, penghitungan anggaran nasional lebih banyak bertumpu pada luas daratan dan jumlah penduduk, sementara luas wilayah laut serta karakter daerah kepulauan belum menjadi pertimbangan utama.

Melalui posisinya sebagai Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Seluruh Indonesia (APPSI), HL disebut aktif memperjuangkan agar luas laut dan jumlah pulau masuk dalam formula dasar penghitungan anggaran nasional.

“Kalau perjuangan ini berhasil, dampaknya luar biasa bagi Maluku. Ini bukan soal miliaran lagi, tetapi potensi tambahan anggaran triliunan rupiah setiap tahun,” katanya.

Selain itu, Hobarth juga menyoroti masuknya sejumlah proyek strategis nasional ke Maluku yang dinilai tidak lepas dari komunikasi intensif HL dengan pemerintah pusat.

Salah satunya yakni proyek Blok Masela yang kini mulai bergerak setelah bertahun-tahun tertunda. Proyek investasi senilai lebih dari Rp200 triliun itu diproyeksikan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi Maluku.

Tak hanya itu, proyek Maluku Integrated Port (MIP) di Ambon dengan nilai investasi mencapai Rp8 hingga Rp10 triliun juga mulai mendapatkan dukungan pusat.

Menurut Hobarth, pelabuhan tersebut nantinya akan menjadi gerbang logistik Indonesia Timur dan berpotensi menekan biaya distribusi barang di Maluku yang selama ini sangat tinggi.

“Kalau logistik turun, maka harga kebutuhan pokok masyarakat juga akan ikut turun. Ini dampak nyata yang langsung dirasakan rakyat,” ujarnya.

Di sektor sosial, Pemerintah Provinsi Maluku juga menjalankan program “Manggurebe Bikin Bae Rumah” yang menargetkan ribuan rumah warga kurang mampu diperbaiki hingga tahun 2030.

Sementara di bidang kesehatan, pembangunan pusat layanan jantung dan pembuluh darah pertama di kawasan Indonesia Timur mulai dipersiapkan, bersamaan dengan penguatan fasilitas rumah sakit di Namlea, Saumlaki, dan Dobo.

Hobarth menambahkan, data ekonomi Maluku juga menunjukkan tren yang relatif stabil di tengah tekanan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi juga terkendali. Artinya ada kerja nyata yang dilakukan pemerintah daerah,” katanya.

Selain itu, Maluku juga berhasil meraih penghargaan pelayanan dasar wilayah kepulauan serta predikat tata kelola pemerintahan yang baik.

Bagi Hobarth, berbagai capaian tersebut menjadi bukti bahwa HL sedang membangun Maluku melalui pendekatan jangka panjang yang berbasis data dan kebijakan strategis.

“Beliau mungkin tidak banyak bicara, tetapi jejak kerjanya mulai terlihat lewat angka, kebijakan, dan proyek besar yang sedang dibangun. Perjuangannya senyap, tetapi dampaknya akan dirasakan generasi Maluku ke depan,” tandasnya.

Pos terkait