Pemneg Soya Gelar “Kalesang Sirimau” Jelang HUT GPM Dan Kota Ambon

Ambon, MalukuPost.com – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-87 dan HUT Kota Ambon ke-447 tahun 2022, Pemerintah Negeri (Pemneg) Soya bersama Panitia Hari-hari Besar Gerejawi dan Nasional (PHBGN) Jemaat GPM Soya melakukan kegiatan “Kalesang Sirimau”, Senin (05/09/2022).

Dalam siaran pers yang diterima media ini, di Ambon, Selasa (06/09/2022) menyebutkan kegiatan itu diikuti oleh 39 unit pelayanan dari 13 sektor serta partisipasi dari seluruh masyarakat Negeri Soya dan dipusatkan di Gereja Tua Soya. Masing-masing unit pelayanan mengikutsertakan kurang lebih 20 orang per unit, sehingga jumlah peserta diperkirakan ratrusan orang.

Kegiatan “Kalesang Sirimau” dimulai dengan penanaman pohon gadihu di sepanjang jalan menuju Puncak Gunung Sirimau, yang tujuannya untuk memperindah sekaligus membersihkan dan menjaga kondisi Tempayang Adat tetap terjaga lestari.

Masing-masing orang yang mengikuti kegiatan diberikan satu tangkai pohon gadihu. Acara jalan pagi serta bereboisasi ini berlangsung dengan meriah itu ditutup dengan senam sehat yang berlokasi di halaman Gereja Tua Soya.

Ketua Majelis Jemaat GPM Soya, W. Ayal dalam sambutannya mengatakan kegiatan “Kalesang Sirimau” yang dilakukan oleh PHBGN dan ditopang oleh Pemerintah Negeri Soya sangatlah bermanfaat, karena selain untuk menjega kelesatarian tempat wisata Tempayang Sirimau, juga memupuk rasa persaudaraan dan kerukunan diantara masyarakat dan jemaat di Negeri itu.

“Marilah kita terus memupuk rasa cinta akan negeri ini, karena disinilah kita hidup. Tuhan akan tetap memelihara kita semua apabila kita juga menjaga apa yang telah Tuhan berikan bagi kita,” ungkapnya.

Sementara Ketua PHBGN Jemaat GPM Soya, Novita Rehatta menyatakan, lokasi Tempayang Tua di puncak Gunung Sirimau adalah situs sejarah yang harus tetap dijaga dan dilestarikan mengingat Tempayang Tua merupakan salah satu situs budaya yang dilindungi oleh negara dan menjadi ikon Negeri Soya.

“Seluruh masyarakat diharapkan agar selalu peduli terhadap Negeri Soya, dimana kekayaan budaya dan tradisi adat-istiadat perlu dilestarikan sampai dengan anak cucu. Karena kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi dan kalau bukan sekarang, kapan lagi,” imbaunya.

Rehatta berharap, tidak hanya kegiatan “Kalesang Sirimau” sampai itu saja, tetap tetap menjadi rutinitas dan kebiasaan masyarakat agar tetap memelihara dan menjaga kebersihan lingkungan masing-masing agar Negeri Soya akan berkembang, maji dan mandiri sampai di masa yang akan datang.

“Kita berawal dari Kalesang Sirimau, tapi lebih daripada itu adalah Kalesang Soya agar Negeri Soya menjadi negeri yang bersih, negeri yang sehat dan terlebih negeri yang beradab dalam pesatuan, kesatuan dan persaudaraan,” pungkasnya.

Pos terkait