Ambon, MalukuPost.com – Pemerintah Provinsi Maluku melalui Dinas Pertanian menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Gerakan Sekolah Menanam (GSM) “Cabai Si Duta Inflasi”, di SMA Negeri 3 Rumah Tiga, Ambon, Jumat (29/8/2025). Kegiatan ini diikuti ratusan siswa, guru, serta menghadirkan narasumber berpengalaman di bidang pertanian, yakni Jacob Pasurnay, Apriadi Utama Putra, Melisa Ohleky, dan Marini Syaban.
Program GSM merupakan salah satu gagasan strategis Gubernur Maluku untuk mengendalikan laju inflasi di daerah. Selama ini, harga cabai kerap melonjak tinggi akibat tingginya permintaan sementara pasokan terbatas, bahkan pernah mencapai Rp120 ribu per kilogram.
Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Maluku, Doni Lekatompessy di hadapan para siswa, menjelaskan bahwa GSM bukan sekadar program menanam cabai, tetapi sarana pendidikan praktis bagi generasi muda untuk mengenal proses pertanian.
“Cabai ini dipilih karena kontribusinya besar terhadap inflasi. Melalui GSM, kita ajak siswa memahami pentingnya produksi pangan lokal sekaligus menanamkan tanggung jawab generasi muda terhadap ketersediaan pangan di masa depan,” jelas Doni.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara Pemprov Maluku, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan. Program ini tidak hanya dilaksanakan di Kota Ambon, tetapi juga menyasar Maluku Tengah dan beberapa kabupaten/kota lainnya.
Dalam GSM, siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga merencanakan hingga proses panen sekitar tiga bulan ke depan. Bahkan, hasil panen nantinya akan dilombakan dengan penilaian dari tim juri berdasarkan 11 aspek, mulai dari kesesuaian, inovasi, hingga produktivitas. Sebanyak 11 sekolah di Ambon dan Maluku Tengah ikut serta, di antaranya SMA Negeri 8 Ambon, SMA Negeri 6 Ambon, SMA YPKPM, SMA Siwalima, hingga SMK Negeri 2 Ambon, SMA Negeri 3 Ambon.
“Yang terpenting bukan hadiahnya, tapi keterampilan dan pengetahuan pertanian yang didapat siswa. Mereka belajar bukan hanya menanam, tetapi juga merawat hingga menghasilkan. Semua perlengkapan, mulai dari bibit, pupuk cair, pupuk kandang, polybag, hingga buku panduan sudah disiapkan,” tambah Doni.

“Sekarang mungkin mereka masih di bangku sekolah, tapi 20-30 tahun mendatang mereka akan merasakan manfaatnya. Maluku butuh generasi muda yang peduli pada pangan dan pertanian,” pungkas Doni.
Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Maluku, Hamid, menegaskan bahwa pihaknya menugaskan penyuluh pertanian di setiap wilayah binaan untuk mendampingi sekolah peserta GSM.
“Penyuluh siap mengawal dan mendampingi siswa dari awal hingga panen. Harapan kami, program ini benar-benar berhasil, sehingga dapat membantu mengendalikan inflasi sekaligus memberikan edukasi pertanian bagi generasi muda,” ungkapnya.
Kepala SMA Negeri 3 Ambon, M.J. Joy Sangadji, menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Maluku yang memberikan kepercayaan kepada sekolahnya menjadi bagian dari program GSM.
“Gerakan ini luar biasa, karena anak-anak bukan hanya belajar teori, tetapi praktik langsung menanam, merawat, hingga panen. Kami akan mendampingi siswa sampai akhir agar program ini sukses. Kami targetkan SMA 3 bisa jadi yang terbaik,” ucap Sangadji.
Menurutnya, GSM sejalan dengan misi pendidikan yang holistik. Selain memperkaya pengetahuan, siswa juga belajar tanggung jawab, kerja sama, dan kesabaran melalui kegiatan bercocok tanam.


