Ambon, MalukuPost.com – Langit siang di Tantui, Ambon, tampak teduh meski kabar dari ibu kota negara dan beberapa daerah lainnya terus bergemuruh dengan demonstrasi yang tak kunjung reda. Di balik dinamika itu, Maluku memilih menebarkan doa dan harapan.
Sabtu (30/8/2025), di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Maluku menjelma ruang perjumpaan lintas iman, lintas profesi, lintas generasi, sebuah momentum yang jarang terjadi, namun menyimpan pesan kuat “Maluku ingin Damai”.
Di barisan depan, tampak Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa duduk berdampingan dengan Kapolda Maluku Irjen Pol Dadang Hartanto, Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI Putranto Gatot Sri Handoyo. Aura keseriusan terpancar, namun tidak menegangkan. Kehadiran para tokoh ini justru menebarkan rasa aman, seolah ingin berkata “Negeri ini dijaga bersama.”
Tak hanya pemimpin pemerintahan dan aparat, deretan kursi juga dipenuhi para pemuka agama, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, pejabat kejaksaan, pimpinan KNPI, aktivis mahasiswa, bahkan komunitas ojek online (Ojol). Semua hadir, melebur tanpa sekat, menyatu dalam lantunan doa yang bergema bergantian menurut keyakinan masing-masing.
Suasana hening menyelimuti ruangan ketika doa pertama dinaikkan. Ada kekhusyukan yang sulit digambarkan-seperti embusan angin laut Ambon yang lembut, menyapu gelisah di tengah riuh persoalan bangsa.
Beberapa jam sebelum acara itu, Gubernur Lewerissa bersama Forkopimda lebih dulu berkunjung ke kantor Sinode GPM. Di sana, mereka menyerukan pesan damai dari tanah Raja-Raja. Kunjungan itu bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa setiap langkah kecil menuju harmoni harus berakar pada kearifan lokal dan spiritualitas orang Maluku.

Kata-kata itu disambut anggukan banyak kepala. Bagi Gubernur, doa bersama ini bukan sekadar seremonial. Ada pesan mendalam: membangun Maluku harus dimulai dengan menjaga kedamaian.
Momen paling menggetarkan adalah ketika para pemuda, mahasiswa, hingga komunitas Ojol, duduk bersisian dengan tokoh agama dan pimpinan daerah. Perpaduan itu menghadirkan pemandangan yang jarang sekali terlihat. Sebuah ruang egaliter, di mana status sosial mencair dan semua hanya menjadi manusia yang merindukan kedamaian.
“Energi seperti inilah yang saya rindukan. Saya ingin masyarakat Maluku hidup damai, aman, dan tenteram. Energi kita harus diarahkan untuk membangun Maluku, bukan untuk yang lain,” ungkap Lewerissa dengan nada haru.
Namun, ia tidak menutup mata bahwa membangun kedamaian bukan pekerjaan satu orang, bukan pula tugas satu institusi. “Pemerintah provinsi tidak bisa bekerja sendiri. Kita butuh kolaborasi. Forkopimda akan terus berkoordinasi, menyikapi setiap dinamika bangsa, agar Maluku tetap berdiri kokoh sebagai tanah yang damai,” ujarnya.
Dari Maluku, gema doa itu mengalir. Ia melampaui sekat ruang, menyusup ke lorong-lorong Ambon, menyapa pulau-pulau di Maluku, bahkan mengirim pesan ke seluruh negeri, bahwa di tengah kegaduhan, Maluku memilih jalan doa, jalan kebersamaan, jalan harmoni.
Dan ketika doa bersama itu usai, semua yang hadir seakan membawa pulang satu pesan sederhana namun abadi, perdamaian adalah warisan paling berharga yang harus dijaga, dari generasi ke generasi.


