Bupati Aru Tekankan Pentingnya Sitakaka Walike sebagai Pondasi Keharmonisan Masyarakat

Dobo, MalukuPost.com – Bupati Kabupaten Kepulauan Aru, Timotius Kaidel, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya menjaga keharmonisan sosial yang sudah terjalin kuat di tengah masyarakat Kepulauan Aru. Menurut Bupati Kaidel, salah satu aspek yang menjadi dasar kekuatan sosial di daerah ini adalah filosofi adat yang telah diwariskan oleh leluhur, yaitu Sitakaka Walike.

Bupati Kaidel menjelaskan bahwa Kepulauan Aru, yang dalam bahasa leluhur disebut Jargaria, memiliki filosofi sosial yang sangat kuat dan mendalam. Sitakaka Walike mengajarkan tentang persaudaraan, solidaritas, dan kebersamaan yang melampaui batas-batas marga (fam) dan bahkan agama. Filosofi ini bukan hanya menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi landasan dalam menjaga kerukunan antar umat beragama di Aru, yang mayoritas memeluk agama Islam dan Kristen.

Sitakaka Walike adalah esensi dari persaudaraan sejati. Di sini, kita hidup dalam harmoni, meskipun kita memiliki latar belakang yang berbeda, baik dalam hal marga, budaya, maupun agama. Masyarakat Aru selalu bersatu, baik dalam perayaan adat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah warisan berharga yang harus kita jaga dan teruskan,” ujar Bupati Kaidel saat berbicara dalam sebuah acara di Dobo, Selasa (28/10/2025).

Lebih lanjut, Bupati Kaidel menambahkan bahwa salah satu contoh nyata dari penerapan Sitakaka Walike adalah dalam ritual adat yang dilaksanakan secara rutin. Setiap empat bulan sekali, masyarakat Aru, terlepas dari perbedaan agama dan budaya, berkumpul untuk merayakan ritual adat yang bersifat inklusif dan penuh kebersamaan. Dalam setiap perayaan tersebut, semua lapisan masyarakat, tanpa memandang agama, turut berpartisipasi dengan semangat kekeluargaan yang tinggi.

“Kerukunan antar umat beragama di Aru adalah pondasi utama bagi terciptanya ketertiban dan keamanan. Ini bukan hanya tugas aparat, tetapi merupakan tanggung jawab kita semua, sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki nilai-nilai luhur Sitakaka Walike. Kita adalah satu keluarga besar yang saling mendukung dan menjaga keharmonisan,” tegas Kaidel.

Bupati Kaidel juga menekankan bahwa, dalam konteks pembangunan, keharmonisan sosial yang tercipta melalui prinsip Sitakaka Walike adalah kunci sukses bagi Kabupaten Kepulauan Aru. Tanpa adanya kedamaian dan kerukunan, tidak mungkin ada kemajuan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pemerintah daerah sangat berkomitmen untuk menjaga dan memperkuat prinsip ini dalam setiap langkah pembangunan yang diambil.

“Keharmonisan adalah kekayaan kita yang tak ternilai. Kita sudah menjadi contoh nyata bagi daerah lain tentang bagaimana sebuah masyarakat yang majemuk bisa hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Ini adalah modal besar kita untuk membangun Aru menjadi daerah yang lebih maju, lebih sejahtera, dan lebih damai,” kata Bupati Kaidel.

Dalam perkembangan lebih lanjut, Bupati juga berharap agar prinsip Sitakaka Walike dapat dijadikan pedoman dalam berbagai aspek kehidupan di Kepulauan Aru, baik dalam pendidikan, ekonomi, maupun kehidupan sosial. Keharmonisan antar umat beragama dan antar marga akan menjadi kekuatan besar yang mendorong kemajuan daerah, tanpa meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Bupati Kaidel mengajak seluruh masyarakat Kepulauan Aru untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan, serta menghormati nilai-nilai kebersamaan yang telah ada sejak dahulu. “Kita harus menjaga keharmonisan ini dengan sepenuh hati. Hanya dengan kebersamaan, kita bisa mengatasi tantangan dan mewujudkan Kabupaten Kepulauan Aru yang lebih baik untuk anak cucu kita,” tutup Bupati Kaidel.

Keharmonisan sosial yang terjaga dengan baik di Kepulauan Aru menjadi modal utama dalam pembangunan daerah ini, dan menjadi contoh bagi daerah lainnya di Indonesia untuk hidup berdampingan dalam damai, meskipun memiliki perbedaan.

Pos terkait