Suli, MalukuPost.com – Suasana Minggu pagi, 23 November 2025, di Negeri Suli dipenuhi kehangatan dan sukacita umat. Di bawah naungan pepohonan yang meneduhkan, tenda-tenda merah putih yang tertata rapi menjadi saksi sebuah momentum penting bagi Jemaat GPM Suli Klasis Pulau Ambon Timur: peletakan batu penjuru Pembangunan Pastori III.
Dalam ibadah yang berlangsung penuh hikmat itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa bersama Ketua TP-PKK Provinsi Maluku, Ny. Maya Baby Lewerissa, hadir sebagai tamu utama. Tampak pula jajaran Forkopimda, perwakilan Sinode GPM, pimpinan legislatif, serta tokoh-tokoh penting seperti Komisaris Bank Maluku-Malut dan Komisaris PT MEA yang turut menyertai jemaat dalam momen iman tersebut.
Setelah doa syafaat, prosesi peletakan batu penjuru dipimpin oleh MPH Sinode GPM. Pendeta Theo Matatula turun ke kolam yang disiapkan khusus di sisi tenda. Satu per satu, para pemimpin daerah, pemimpin gereja, serta panitia pembangunan turut serta, menandai dimulainya pembangunan Pastori III, rumah pelayanan yang diharapkan menjadi pusat penguatan kehidupan jemaat.
Dalam sambutannya, Gubernur Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan Pastori tidak boleh sekadar dimaknai sebagai pembangunan fisik. Lebih dari itu, prosesnya harus memperlihatkan kekuatan gotong royong dan kesatuan hati umat.
“Saya hadir bukan hanya sebagai Gubernur, tetapi sebagai warga GPM,” ujar Lewerissa. “Pembangunan ini harus mencerminkan kebersamaan. Jangan sampai perbedaan pendapat memecah kita. Biarlah segala proses dilakukan dalam semangat memuliakan Tuhan.”
Ia mengingatkan bahwa pengalaman di banyak jemaat menunjukkan bagaimana perselisihan kecil sering merusak harmoni dalam proses pembangunan rumah ibadah. Karena itu, ia menekankan perlunya komunikasi yang jernih dan niat yang bersandar pada pelayanan.
Hindari Cara Penggalangan Dana yang Tidak Gerejawi
Dalam kesempatan itu, Lewerissa memberi penegasan khusus mengenai cara panitia menggalang dana.
“Hindari cara-cara yang tidak rohani,” tegasnya. “Jangan lagi menggunakan pesta dana atau pola pengumpulan yang tidak sesuai dengan spirit Gereja. Masih banyak cara yang patut, pantas, dan berkenan untuk menghimpun dana.”
Gubernur percaya bahwa kendati kondisi ekonomi jemaat sedang tidak mudah, pembangunan Pastori tetap dapat diselesaikan jika dijalankan dengan kesungguhan dan hati yang tulus.
Pastori: Bukan Hanya Rumah Pendeta, tetapi Ruang Konseling dan Syukur-Bergumul
Gubernur Lewerissa juga mengingatkan bahwa Pastori merupakan tempat di mana jemaat dan pelayan bertemu, berdialog, bergumul, dan bersyukur bersama. Karena itu, Pastori tidak boleh menjadi bangunan yang hampa interaksi.
“Saya ingin Pastori menjadi ruang hidup rohani,” ujarnya. “Tempat di mana pelayan dan umat saling menguatkan. Jangan biarkan ada jemaat yang mengalami kekeringan rohani hanya karena tidak ada ruang untuk berjumpa.”
Menutup sambutannya, Lewerissa menyampaikan pesan optimis “Ini proyek iman. Jika Tuhan menjadi arsiteknya, maka Pastori III akan selesai pada waktunya dan menjadi pujian bagi nama Tuhan.”
Teguhan Iman Jemaat Suli
Wakil Sekretaris Umum Sinode GPM, Pendeta Max Takaria, turut menguatkan jemaat. Baginya, peletakan batu penjuru bukan sekadar ritual, tetapi tindakan iman.
“Dengan iman yang teguh, kita percaya Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan cara-Nya,” ujarnya.
Pembangunan Pastori III ini akan dikerjakan di atas lahan seluas 176 meter persegi, dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp811 juta lebih. Pembangunan ini diharapkan menjadi peneguh komitmen jemaat untuk terus bertumbuh dalam pelayanan dan persekutuan.
Ibadah peletakan batu penjuru tersebut bukan hanya awal sebuah pembangunan fisik, tetapi juga peneguhan kembali semangat kebersamaan, bahwa pelayanan Gereja hanya dapat berdiri kokoh jika umat memberi diri, bekerja bersama, dan menempatkan Tuhan sebagai pusat segala upaya.


