Ambon, Malukupost.com – Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengingatkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) agar mengurus kenaikan pangkat dan jabatan melalui prosedur resmi. Peringatan ini disampaikan menyusul kasus dugaan Surat Keputusan (SK) kenaikan pangkat bodong di lingkungan Pemerintah Kota Ambon.
Bodewin meminta pegawai tidak menggunakan jasa oknum yang menawarkan kenaikan pangkat di luar mekanisme kepegawaian. Praktik tersebut berisiko merugikan ASN sekaligus mencoreng nama baik pemerintah daerah.
“Mau naik pangkat ikuti prosedur, naik jabatan lewat mekanisme yang betul. Kami sudah berusaha dudukan semua dengan baik,” kata Bodewin saat memimpin apel pagi di halaman Balai Kota Ambon, Senin (19/10/2026).
Ia menilai pemahaman terhadap mekanisme administrasi dan tugas pokok masing-masing perlu dimiliki setiap pegawai. Dengan begitu, ASN tidak mudah tergiur tawaran pengurusan pangkat secara instan dari pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Ini menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak ada lagi yang mengandalkan oknum tidak bertanggung jawab untuk mendapatkan pangkat secara instan. Mari pahami tupoksi kerja kita dan mekanisme yang mesti ditempuh agar kita tidak ditipu,” ujarnya.
Bodewin menyayangkan masih adanya ASN yang menjadi korban dugaan penipuan tersebut. Menurut dia, akses informasi di Ambon sebagai ibu kota Provinsi Maluku relatif terbuka, sehingga pegawai semestinya dapat mencari informasi mengenai prosedur kenaikan pangkat melalui jalur resmi.
“Kalau kita bertugas di ujung-ujung kampung, atau di pedesaan-pedesaan yang jauh sekali, maka tidak tahu informasi, tetapi ini kita ada di ibu kota provinsi sebagai pusat informasi, tapi masih lagi ditipu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” tuturnya.
Ia pun meminta ASN tidak bersikap apatis terhadap perkembangan informasi dan aturan kepegawaian. Pegawai diharapkan aktif mencari tahu persyaratan maupun tahapan administrasi sebelum mengurus kenaikan pangkat atau jabatan.
“Mari kita mulai belajar untuk lebih mengerti, jangan apatis. Kalau apatis itu biasa ditipu. Harus mau mengikuti perkembangan, agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif,” pungkas Bodewin.


