![]() |
| Komisi I DPRD Kota Ambon dan The Habibie Center |
dalam pertemuan tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Ambon Leonora A.K Far-Far mengatakan dari konflik yang terjadi di Provinsi Maluku umumnya, Kota Ambon jadi barometer bagi Daerah lain di Indonesia.
Kepada media ini, Leonora menjelaskan dalam kunjungan The habibie Center membahas bersama perdamaian di Provinsi Maluku khususnya di Kota Ambon, dengan Topik konflik Maluku di tahun 1999 lalu.
Menurut Leonora, pihak The habibie Center meminta data dan masukan dari Komisi I DPRD Kota Ambon terkait kondisi Kota Ambon yang awalnya sebagai daerah konflik sekarang ini sudah membaik.
“Mengatasi masalah konflik yang terjadi di Maluku dapat diselesaikan melalui Pranata Adat yakni Pela-Gandong, kearifan lokal. Terbukti konflik ini dapat diselesaikan oleh masyarakat maluku sendiri dan bukan Orang dari luar Maluku,”paparnya.
Leonora juga menambahkan dari konflik tersebut dapat dilihat bahwa permusuhan dan perselisian itu tidak baik bagi dan akan menyusahkan semua pihak.
“Untuk itu adat dan pranata adat harus dipertahankan agar supaya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tidak dapat memicu konflik karena tidak sesuai dengan pranata adat yang ada di Maluku,” jelasnya.
Sementara itu, peneliti senior The habibie Center Muhamad Hasan Nasori menambahkan tujuan kunjungan The habibie Center ke Komisi I DPRD Kota Ambon untuk dijadikan pengalaman yang lebih berharga.
Dengan pengalaman yang didapat dari Kota Ambon maka akan dijadikan barometer bagi Daerah-Daerah lain.
“Kunjungan ini dijadikan agenda rutin khususnya pada daerah-daerah konflik yang ada di Indonesia Demi keamanan dan kenyamanan terjadi di Daerah, dan kita butuh partisipasi Pemerintah, Aparat Keamanan, dan semua Stakeholder serta masyarakat pada umumnya agar kita sama-sama menjaga kedamaian di lingkungan kita masing –masing.”pungkas Nasori (08)


