Maluku Barat Daya Bangun Depo Rumput Laut

  • Whatsapp
Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) akan membangun depo dan gudang rumput laut dengan anggaran Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
ilsutrasi
Ambon, malukupost.com – Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) akan membangun depo dan gudang rumput laut dengan anggaran Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“KKP telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp1 miliar bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2015 untuk membangun depo dan gudang rumput laut. Pembangunannya akan dimulai pertengahan tahun ini,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten MBD, John James Kay, ketika dihubungi Antara dari Ambon, Jumat (27/3).

Menurutnya, depo dan gudang tersebut akan dibangun di Pulau Luang Kecamatan Mdona Hyera yang saat ini telah ditetapkan sebagai sentra produksi rumput laut di kabupaten MBD.

“Depo yang dibangun akan dilengkapi dengan tempat penjemuran rumput laut serta mesin generator set (genset) untuk memenuhi daya listrik yang dibutuhkan,” katanya.

Dia mengakui, masyarakat di Pulau Luang saat ini terkonsentrasi hanya untuk budidaya rumput laut skala besar, mengingat kawasan perairan pulau tersebut tetap tenang baik saat musim barat maupun timur sehingga sangat cocok untuk kegiatan budidaya.

“Rata-rata hasil produksi rumput laut masyarakat di Pulau Luang bisa mencapai 400 ton per bulan, dan dapat terus ditingkatkan hingga mencapai dua kali lipat, dikarenakan potensi lahan yang tersedia sangat besar serta didukung dengan modal usaha serta berbagai bantuan yang dibutuhkan,” katanya.

John mengakui, depo tersebut akan menjadi sentra penampungan rumput laut hasil produksi masyarakat sehingga memudahkan para pengusaha untuk membeli rumput laut yang diproduksi dengan standar harga sesuai yang berlaku di pasaran.

“Depo ini selain untuk menampung seluruh hasil produksi masyarakat di Pulau Luang, juga memudahkan transaksi pembelian rumput laut antara pengusaha dengan warga dengan harga jual sesuai yang berlaku di pasaran,” katanya.

John juga berharap pembangunan depo tersebut akan berdampak pembudidaya rumput laut semakin bergairah untuk mengembangkannya, di samping mendorong investor untuk membangun industri pengolahan rumput laut di daerah tersebut.

“Dengan depo ini maka terbuka peluang kerja sama dengan investor untuk membangun industri pengolahan rumput laut, sehingga yang dijual dari MBD tidak hanya rumput laut gelondongan atau mentah, tetapi sudah dalam bentuk berbagai produk rumput laut, dan memberikan nilai tambah,” katanya.

Menurut dia, hasil produksi rumput para nelayan Pulau Luang selama ini dibeli oleh pedagang pengumpul baik yang bermukim di MBD maupun dari Surabaya yang datang sendiri ke daerah itu dengan harga yang berlaku di pasaran.

Total produksi rumpt laut dari Maluku Barat Daya tahun 2013 tercatat sebanyak 3.659,9 ton atau meningkat dari tahun 2012 yang hanya sebanyak 2.888,2 ton.

Terbanyak dihasilkan dari Kecamatan Mdona Hyera sebesar 1.663,6 ton, Pulau Romang (586 ton), Wetar Barat (558,6 ton), Pulau Wetang (480,6 ton) dan Pulau Marsela sebanyak 371,2 ton.

John menambahkan, pihaknya saat ini terus mendorong masyarakat di MBD untuk meningkatkan budidaya rumput laut sebagai salah satu komoditi utama, selain hasil tangkapan dan budidaya perikanan lainnya, dengan memberikan penyuluhan tentang teknik budidaya, pengolahan paskapanen serta pemberian bantuan.

“Pemberian bantuan bibit maupun peralatan budidaya kepada masyarakat benar-benar selektif, sehingga tepat sasaran dan tidak mubasir. Langkah ini pun untuk memenuhi target kabupaten MBD sebagai salah satu sentra produksi rumput laut Maluku di masa mendatang,” katanya. (ant/MP)

Pos terkait