“Sumbangan sektor pertanian bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Maluku cukup baik yakni sebesar 28,2 persen,” kata Gubernur Said, dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III Setda Maluku, M.Z. Sangadji pada Pembukaan Bimbingan Teknis Agribisnis Padi Dalam Mendukung Upsus Swasembada Padi Bagi Bintara Pembina Desa (BABINSA), di Ambon, Rabu (11/3).
Gubernur mengungkapkan, tahun 2015 pihaknya menargetkan produksi padi sebesar 120.000 ton gabah kering giling (GKG). Target tersebut cukup berat mengingat produksi tahun 2014 baru mencapai 102.737 ton GKG.
Namun demikian, dengan adanya keterlibatan dan dukungan semua pihak khususnya jajaran Kodam XVI/Pattimura dipastikan target produksi tersebut akan tercapai.
Khusus untuk komoditi padi, kata Gubernur Said, pihaknya telah menetapkan lima kabupaten sebagai lokasi pengembangan dan peningkatan produksi, yakni Kabupaten Buru, Kabupaten Buru Selatan (Bursel) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) dan Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
“Semua faktor pembatas, seperti irigasi, benih, pupuk, alat mesin pertanian serta penyuluhan akan terus dibenahi untuk mendukung kebijakan swasembada pangan,” katanya.
Gubernur Said mengakui, salah satu permasalahan yang masih menjadi kendala di daerah ini, belum optimalnya koordinasi aktivitas pertanian, hal ini disebabkan jumlah penyuluh yang masih sangat terbatas, dibandingkan dengan jumlah desa yang harus dilayani.
“Kebutuhan penyuluh pertanian saat ini sebanyak 547 orang untk melayani 1.169 desa pertanian di daerah ini,” ujarnya.
Karena itu, dukungan tenaga Babinsa dalam upaya khusus swasembada pangan di daerah ini sangat tepat dan memiliki nilai sangat penting terutama untuk mengatasai masalah keterbatasan tenaga penyuluh dalam menggerakan dan memotivasi petani.
“Keterlibatan Babinsa merupakan perwujudan dari konsep pertahanan rakyat semesta atau kemanunggalan yang dibutuhkan untuk menjamin keberlangsungan pembangunan di Maluku,” kata Gubernur Said.
Ia menjelaskan, kerja sama pemerintah Provinsi Maluku dengan Kodam XVI/Pattimura dalam upaya pencapaian swasembada pangan dan mengingatkan kembali apa yang disebut “Food as a Weapon” atau pangan sebagai senjata perang yang dalam konteks dewasa ini dimaknai sebagai kedaulatan pangan.
“Saya berharap kerja sama ini juga dapat diterapkan untuk mendukung swasembada komoditi lainnya seperti jagung dan kedelai, mengingat masih banyak masyarakat Maluku yang mengkonsumsi jagung sebagai makanan pokoknya,” ujar Gubernur Said. (ant/MP)


