“Tradisi di Ambon, laor muncul setiap bulan Maret atau April tetapi semua dipengaruhi cuaca dan kondisi air laut. Jika air pasang dan berwarna keruh maka laor akan muncul,dan muncul hanya setahun sekali,”tandas Sekretaris Kota Ambon, Anthony G Latuheru saat membuka festival budaya timba laor.
Dijelaskan Latuheru, laor berkembang biak di terumbu karang, karena itu masyarakat yang ada di kawasan pantai harus tetap menjaga kelestarian karang dengan baik. Laor juga memiliki kandungan protein kurang lebih 3x dibanding protein ikan dan mengandung vitamin tertentu, misalnya B 12, sehingga laor sangat baik untuk dikonsumsi.
“Seperti tahun lalu, kegiatan tahun ini juga akan dilaksanakan tidak hanya proses menimba tetapi memasak hingga disantap bersama warga yang datang,” katanya.
Kegiatan timba laor yang sudah merupakan tradisi di Kota Ambon ini, bukan hanya dilakukan di Desa Latuhalat, namun juga dilakukan di Desa Air Low Kecamatan Nusaniwe, serta di Desa Rutong dan Hukurila, Kecamatan Leitimur Selatan.
Festival Timba Laor yang dipusatkan di Desa Latuhalat, sangat mendapat antusias Masyarakat, pantauan media ini di lokasi kegiatan, bukan saja orang usianya sudah tua, namun para pemuda cukup mendominasi dalam kegiatan timba laor tersebut. (08)


