Jumlah siswa yang tiap tahun semakin meningkat, Ruangan Kelas Baru (RKB) yang minim,dan kurangnya perhatian Pemkab SBB membuat pihak Sekolah Menengah Atas (SMA) AL-Fiqri harus belajar di bangunan yang tidak layak digunakan.
Sekolah yang dibangun sejak tahun 2003 lalu, dengan beratapkan daun sagu dan berdindingkan papan, hingga saat ini masih dipergunakan sebagai ruang kelas , bahkan 5 ruang kelas sekolah ini pun terancam runtuh.
“Ruang kegiatan belajar yang tersedia hanya tiga kelas yang baru selesaikan pekerjaannya, sedangkan 5 kelas lainnya yakni kelas IPA dan IPS masih menggunakan bangunan lama dengan jumlah siswa sebanyak 190 orang, Guru PNS 8 orang dan Guru Honor 6 orang, kalau pun terjadi penerimaan siswa baru pada tahun ini minimal harus 5 RKB harus dibangun baru karena tidak layak untuk digunakan proses belajar,” jelas Kepala Sekolah (Kepssek) AL-Fiqri La Kadir kepada wartawan di ruang kerjanya Rabu (27/5).
Saat ini, lanjut dia, sekolah yang berada beberapa kilometer dari Kota Piru ini, masih mengalami kekurangan ruang kelas untuk memenuhi kebutuhan proses belajar mengajar.
Dijelaskan pula, pihak sekolah sudah mengirimkan usulan dan proposal kepada pemerintah daerah akan kebutuhan ruang kelas baru di sekolah ini namun masih ditangguhkan pasalnya pihaknya baru saja mendapatkan 3 RKB.
“Saat ini sekolah kami baru mendapatkan bantuan 3 RKB dan 5 ruang kelas lainnya masih menggunakan bangunan lama, padahal pihak sekolah pernah mengusulkan dan melaporkan ke pihak pemerintah daerah tetapi belum ada hasilnya,” katanya.
Dirinya menjelaskan, sekolah itu memiliki 8 buah ruang kelas sejak dibangun dan sampai saat ini belum pernah ada rehabilitasi ataupun penambahan ruang baru sejak tahun 2003, hanya baru terakomodir 3 RKB dari Pemkab SBB.
Padahal, ketersediaan ruang sangat dibutuhkan siswa. Bukan hanya RKB, gedung perpustakaan juga belum dimiliki pihak sekolah, alhasil ruang kantor dan ruang guru dimultifungsikan sebagai perpustakaan.
“Kami sangat membutuhkan bangunan ruang kelas baru untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam proses belajar mengajar di sekolah. Karena,itu kami tetap berharap adanya bantuan Pemda untuk memenuhi RKB kami. “Harapnya.
Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan siswa akan pendidikan pihaknya harus tetap menggunakan bangunan lama yang terbuat dari kayu papan dan atap sagu untuk proses belajar mengajar. Namun proses belajar mengajar akan terhenti dengan adanya cuaca yang tak menentu.
“Hal ini pun terganggu, karena saat musim hujan maupun angin kencang, proses belajar mengajar tidak bisa dilanjutkan. takut bangunannya runtuh. Kami berupaya memaksimalkan ruang kelas yang ada dan ruang-ruang yang apa adanya agar bisa memaksimalkan proses belajar mengajar di sekolah. Kami berharap Pemerintah daerah dan pemerintah provinsi untuk melihat hal ini agar siswa proses belajar mengajar tidak terganggu,” pungkasnya. (10)


