“Pemkot Ambon mengatakan pembangunan sudah selesai dan sudah menempatkan para pedagang kaki lima (PKL) di sana, namun setelah kami kunjungi, ternyata bangunannya belum selesai dan PKL yang menempati hanya 18 orang saja,” kata Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Ambon Kristianto Laturiuw di Ambon, Selasa (19/5), usai melakukan kunjungan ke pasar tersebut.
Ia menyebutkan masih terlihat sejumlah pekerjaan yang belum diselesaikan, tampak kabel listrik juga masih berantakan, belum terpasang rapi terutama di lantai dua.
Selain itu, dari jumlah kios yang ada pada bangunan lantai dua sebanyak 60 buah, baru ditempati oleh 18 pedagang.
“Informasi yang kami terima dari para pedagang yang sudah berjualan di situ, kondisi sangat memprihatinkan sebab lebih banyak merugi dikarenakan tidak ada pembeli, kemudian mereka dikenakan membayar kontrak kios sebesar Rp231.000 per bulan,” ujarnya.
Kristianto mengatakan mereka merasa rugi sebab tidak ada pemasukan karena tidak ada pembeli, sedangkan tiap bulan wajib membayar ongkos kios Rp231.000 per bulan.
Karena itu Komisi II DPRD Kota Ambon akan mengundang Pemkot Ambon dalam hal ini Dinas Perdagangan untuk mendapatkan keterangan terkait pembangunan maupun penempatan PKL di pasar tersebut.
“Kami juga kaget mendapat informasi dari para pedagang yang katanya para pemborong bangunan pasar tersebut mau mengajukan biaya tambahan sebesar Rp500 juta guna menyelesaikan bangunan pasar tersebut,” katanya.
Padahal bangunan pasar itu, lanjutnya, telah menghabiskan dana sebesar Rp4,3 miliar baik untuk pekerjaan renovasi maupun pembangunan gedung baru.
Menurut dia, selain masalah tersebut Pemkot Ambon juga harus memperhatikan fasilitas transportasi di kawasan itu, sebab lokasi pasar tersebut hanya dilalui satu jalur angkutan umum saja.
Akibatnya warga yang tinggal di kawasan Kecamatan Nusaniwe yang diharapkan untuk berbelanja di pasar tersebut tidak mungkin ke lokasi itu sebab jalur angkutan kota (angkot) dari desa-desa yang ada di kecamatan tersebut menuju Kota Ambon tidak melewati pasar tersebut.
“Jadi masalah seperti itu harus diperhatikan juga, jangan hanya menempatkan PKL agar berjualan di situ sementara tidak ada orang yang berbelanja, bahkan ada beberapa pedagang yang sudah kembali ke Pasar Mardika sebab rugi dan banyak sayuran yang terbuang karena tidak terjual,” ujarnya. (ant/MP)


