“Kami sejak pertengahan Mei 2015 mengintensifkan pengawasan dan hingga akhir pekan lalu belum menemukan adanya penjualan beras plastik di pasar,” kata Kepala Diskopperindag Kepulauan Aru, Ruddy Siwabessy, dihubungi dari Ambon, Selasa (2/6).
Begitu pun, memeriksa gudang beras dari 11 distributor di Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru.
Tim pengawasan juga melakukan pengujian beras dengan merendam dalam air. Selain itu, membakar sampel beras di pasar Jargaria, Dobo, disaksikan para pedagang.
“Syukurlah keresahan masyarakat Kepulauan Aru terhadap kemungkinan beredarnya beras plastik tidak ditemukan,” ujarnya.
Apalagi, umat Islam hendak menunaikan ibadah Suci Puasa pada pertengahan Juni 2015.
“Jadi umat Islam jangan ragu kemungkinan beredarnya beras plastik yang awalnya ditemukan di Bekasi, Jawa Barat,” kata Ruddy.
Disinggung stok beras yang tersedia, dia menjelaskan, cukup untuk memenuhi kebutuhan lebih dari 100.000 jiwa penduduk Kepulauan Aru untuk beberapa bulan kedepan.
11 distributor juga sedang memasok beras dari Makassar (Sulsel) dan Surabaya (Jatim).
“Para distributor juga miliki kapal sehingga terjamin kelancaran pasokan beras dari Makassar dan Surabaya. Sedangkan ke 117 desa/kelurahan memanfaatkan jasa armada tradisional,” ujar Ruddy.
Kepulauan Aru juga memiliki subtitusi karbohidrat seperti ubi talas, ketela pohon, ubi jalar dan lainnya yang juga dikonsumsi masyarakat sehingga menyangga stok beras. (ant/MP)


