“Harga telur sudah mulai bergerak naik lagi di tingkat distributor, dari yang biasanya Rp245.000 menjadi Rp250.000/ikat (180 butir),” kata Rustam, pedagang telur di pasar Mardika, Kamis (4/6).
Ia mengakui dirinya para pedagang menjual eceran dengan harga Rp1.500/butir, walaupun ada yang menjual Rp1.600/butir, sedangkan per rak (30 butir) dijual seharga Rp47.000.
“Beberapa pedagang masih mematok harga yang bervariasi yakni antara Rp1.500 hingga Rp1.600/butir karena mereka masih memiliki stok yang lama,” katanya.
Dia menjelaskan, patokan harga telur ini sebenarnya tidak bertahan lama sebab di tingkat distributor selalu saja fluktuasi.
“Telur tidak bisa bertahan lama, apalagi menjelang puasa selalu saja terjadi perubahan harga jual baik di tingkat distributor maupun di pasar,” ujarnya.
Perubahan harga umumnya tergantung jadwal kapal yang masuk pelabuhan Ambon, namun perubahan menjelang hari besar keagamaan sudah menjadi hal yang biasa.
Caca Inang, pemasok telur ayam ras dari Surabaya mengakui harga telur ayam ras sudah naik dari Rp245.000 menjadi Rp250.000/ikat.
“Itu berarti para pedagang eceran menjual dengan harga berkisar antara Rp1.500 hingga Rp1.600/butir,” ujarnya.
Sedangkan telur ayam kampung dijual seharga Rp3.500/butir, telur burung puyuh Rp1.000/lima butir.
Ia menambahkan, harga daging ayam beku yang didatangkan dari Surabaya Rp28.000/kg, daging ayam kampung Rp90.000/ekor jenis pejantan dan Rp55.000/ekor jenis betina, daging sapi segar Rp85.000/kg.
Sementara itu, harga ikan masih tetap mahal. Ikan cakalang segar maupun ikan beku dipatok harga mulai dari Rp20.000 hingga Rp60.000/ekor sesuai ukuran.
Ikan momar dan kawalinya masih tetap dijual dengan harga Rp20.000/empat ekor, cumi Rp10.000/tumpuk, udang Rp50.000/tumpuk. (ant/MP)


