Sekolah Dilarang Lakukan Pungutan Liar

Ambon, Maluku Post.com – Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Ambon, Maluku, Benny Kainama mengatakan, pihak sekolah dilarang melakukan pungutan liar selama proses penerimaan siswa baru Tahun Ajaran 2015-2016.

“Penerimaan siswa baru saya telah menginstruksikan pihak sekolah dilarang melakukan pungutan di luar petunjuk teknis (juknis) yang berdampak pada penambahan biaya yang membebankan orang tua murid,” katanya di Ambon, Senin (22/6).

Menurut dia, pihaknya berupaya tidak terjadi pungutan liar di sekolah berupa penjualan buku maupun baju seragam ke siswa baru.

“Penjualan baju seragam siswa baru, kami akan melakukan pengawasan dan langsung melakukan krosecek ke pihak toko yang ditunjuk terkait harga, agar tidak terjadi pungutan berlebihan,” katanya.

Benny mengatakan, orang tua murid diminta melaporkan ke dinas jika ada oknum sekolah yang melakukan pungutan liar.

“Jika ada sekolah yang melakukan pungutan liar kami minta orang tua segera melaporkan, untuk ditindaklanjuti berupa pemberian teguran dan sanksi,” katanya.

Ia mengakui, pihaknya akan melakukan pengawasan secara terbuka yakni menerima laporan dari orang tua dan akan ditindaklanjuti.

“Proses penerimaan siswa baru tingkat SMA dan SMK dilakukan 22- 26 Juni 2015, sedangkan SMP akan dilaksanakan 29 Juni – 3 Juli, kami akan terus mengawasi karena tahun lalu kami menerima keluhan orang tua terkait pungutan liar tetapi tidak disertai bukti, karena itu keterbukaan orang tua sangat dibutuhkan,” katanya.

Disdik hanya mengawasi proses pembayaran administrasi penerimaan siswa baru sedangkan biaya lainnya diatur sekolah.

“Kami hanya mengatur biaya administrasi siswa, tetapi kami akan mengawasi biaya lain untuk mengantisipasi pungutan liar yang dilakukan pihak sekolah,” ujarnya.

Benny menambahkan, selain melarang sekolah untuk tidak melakukan pungutan liar, pihak sekolah juga wajib membuat pernyataan untuk tidak menerima siswa baru melebihi daya tampung Penerimaan siswa baru pihaknya menerapkan sistem rayon untuk meminimalkan penerimaan siswa baru di sekolah unggulan.

“Sekolah harus objektif dalam menerima siswa baru. Proses ini juga harus melalui tes penerimaan agar tidak terjadi penumpukan siswa pada sekolah tertentu,” katanya. (ant/MP)

Pos terkait